Catatan

Raja Kuyuk dan Pensel Ajaib

Di Kota Kilas, hiduplah Raja Kuyuk yang memerintah rakyat Bisaya. Raja Kuyuk meminta rakyatnya menanam halia. Suatu hari, seorang anak datang memberitahu, “Ladang halia kita dirusak binatang, Tuanku!” Raja Kuyuk sedih dan pergi ke ladang. Di sana, dia menemukan sebuah pensel ajaib! Jika digambar payung, payung akan muncul! Karena ladang halia rusak, Raja Kuyuk memutuskan pindah ke Bukit Selinggi. Di sana, dia menggunakan pensel ajaib untuk melindungi tanaman halia dari binatang buas. Dia menggambar payung besar di atas setiap tanaman! Tidak lama kemudian, datanglah rombongan dari Brunei, dipimpin Sultan Hasyim, ingin membeli halia. Raja Kuyuk menyambut mereka dengan gembira. Sultan Hasyim melihat Raja Kuyuk dan rakyatnya selalu bersyukur. Dia menjelaskan tentang agama Islam. Raja Kuyuk tertarik dan belajar tentang Islam. Setelah itu, ladang halia Raja Kuyuk semakin subur, dan semua rakyat hidup bahagia berkat pensel ajaib dan agama Islam! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kana...

Kasaan dan Wau Ajaib

Kasaan berdiri di depan sebatang pokok besar. Di atas pokok itu, ada seekor monyet yang marah. Monyet itu berkata kepada Kasaan, “Bunuhlah aku dan makanlah aku!” Kasaan menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak mahu!” Tapi monyet itu terus memaksa. Ketika Kasaan memotong badan monyet itu, monyet itu masih boleh bercakap! “Setelah kamu makan daging aku, gantungkan tengkorak aku di atas pintu rumahmu sebagai tanda hormat,” katanya. Kancil mengangguk setuju. Keesokan harinya, Kasaan sedang bermain layang-layang (wau) di tepi pantai, tiba-tiba dia mendengar suara, “Kasaan, tuntut bela kematian kedua orang tuamu! Parang Jalong dan Chibal Murud yang telah membunuh mereka!” Parang Jalong dan Chibal Murud tinggal jauh di seberang gunung. Perjalanan ke sana memakan masa setahun! Kasaan mendaki gunung, menyeberangi hutan, dan menghadapi banyak rintangan. Dia berdoa agar selamat sampai. Akhirnya, dia tiba di perkampungan si gagah Parang Jalong dan Chibal Murud. Ada pagar tinggi dengan api menyal...

Bubu Ajaib dan Wau Pelangi

Di sebuah desa tepi laut, hiduplah seorang nelayan, isterinya, dan anaknya. Mereka hidup dari hasil tangkapan bubu. Suatu hari, bubu mereka hilang! Mereka sangat sedih. Saat mencari bubu, mereka tersesat di hutan. Tiga hari tiga malam mereka berada di sana. Tiba-tiba, mereka melihat Wau (layang-layang) yang bersinar terang. Wau itu membawa mereka pulang dengan selamat. Malamnya, nelayan bermimpi. Wau itu memberinya petunjuk untuk menangkap ikan di tempat yang sama. Nelayan menceritakan mimpinya kepada Makcik Pawang. Makcik Pawang memberikan nelayan sebuah bubu ajaib yang bisa menangkap ikan emas. Nelayan mengadakan pesta syukur. Dia menari dengan bubu ajaibnya. Wau pelangi terbang di atas mereka, menyebarkan warna-warni kebahagiaan. Semua orang di desa merasa senang dan terhibur. Sejak saat itu, pesta dengan bubu ajaib dan wau pelangi sering diadakan di desa itu. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Wau Donan dan Kekuatan Pelangi

Saat fajar menyingsing, Permaisuri Gunung Mandi Angin melahirkan seorang bayi. Bayi itu terlepas dari pelukan bidan dan jatuh ke lantai, tetapi tidak terluka. Raja Mendung Bongsu memanggil ahli nujum. “Ramalkan nasib anakku, Awang Donan,” titahnya. Enam ahli nujum berkata, Awang Donan tidak boleh tinggal di sini, nanti akan terjadi bencana. Hanya seorang berkata Awang Donan akan membawa keberuntungan. Awang Donan diletakkan di atas rakit kecil yang hanyut di sungai. Rakit itu tersangkut di dekat seorang Nenek yang sedang mencuci pakaian. Nenek mendengar tangisan bayi dan membawanya pulang. Sejak itu, Nenek dan Awang Donan hidup bersama. Ketika Awang Donan dewasa, dia mendapat hadiah istimewa: sebuah Wau (layang-layang) yang bisa mengeluarkan pelangi! Jika Awang Donan meniup peluit khusus, pelangi dari Wau akan memberikan kekuatan super. Ketika Gunung Mandi Angin diserang, Awang Donan menerbangkan Wau-nya dan menggunakan kekuatan pelangi untuk mengalahkan musuh. Raja Mendung Bongsu sang...

Wau Ajaib dan Mimpi Ular

Di sebuah desa di Johor, hiduplah tiga sahabat: Tuk Raja, Tuk Peteri, dan Tuk Bukit. Tuk Raja punya wau ajaib, yang bisa menunjukkan jalan ke tempat yang diinginkan. Suatu malam, Tuk Raja bermimpi kampungnya dipenuhi ular! Dia terbang dengan wau ke arah matahari terbenam, sampai bertemu sungai yang bercabang dua. Keesokan harinya, Tuk Raja meminta pendapat Tuk Peteri dan Tuk Bukit. Mereka berdua berkata, “Kampung kita akan kenaulah bencana!” Berita itu menyebar, ada yang percaya, ada yang tidak. Tuk Raja lalu berkata, “Aku akan pindah dari kampung ini!” Dia mengajak penduduk kampung yang mau ikut. Banyak yang terkejut! Ada yang ikut, ada yang memilih tinggal. Setelah berjalan tujuh hari tujuh malam, mendaki bukit dan menyeberangi sawah, semua sangat lelah. Tuk Raja menyemangati, “Sabar, sahabat-sahabatku!” Akhirnya, mereka tiba di sungai bercabang dua. Wau ajaib itu menunjuk ke kuala sungai yang tersumbat. Saat penduduk menggali, salah seorang menemukan benda keras. Tuk Raja melihatnya...

Ajaibnya Penukul Tempua

Di kaki Gunung Titiwangsa, hiduplah sekumpulan burung tempua. Ketua burung tempua sedang mencari tempat untuk membina sarang. Mereka perlu membina sarang sebelum malam tiba. Tiba-tiba, seekor lebah lalu di tempat burung-burung itu sedang berbincang. “Oh Lebah, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya ketua burung tempua dengan terkejut. “Kami sedang berbincang di mana kami hendak membina sarang,” jawab ketua burung tempua. “Berbincang? Ha! Ha! Ha! Kamu semua tidak pernah saling mempercayai!” ejek Lebah dengan nada mengejek. Ketua burung tempua agak marah, tetapi dia mempunyai satu rahsia. Dia mempunyai penukul yang ajaib! Jika dia memukul pokok, pokok itu akan mengeluarkan sarang yang sudah siap! Dia memukul pokok di hadapan Lebah. Sekeliling pokok itu muncul sarang-sarang yang cantik. Lebah terkejut! Dia tidak menyangka burung tempua mempunyai penukul ajaib. “Tempua, kamu memang hebat! Bolehkah aku tinggal berjiran dengan kamu?” kata Lebah dengan sopan. Pada petang itu, Lebah pulang ke s...

Puteri Tupai dan Wau Ajaib

Di Negeri Berasap, ada seorang Putera yang sangat suka memburu. Putera itu memburu di dalam hutan yang lebat. Setelah seharian berlari dan mencari, Putera itu merasa penat dan duduk rehat di bawah pohon yang tinggi. Di atas pohon itu, dia melihat seekor tupai yang cantik sekali! Ketika Putera hendak mendekat, tupai itu lari dengan cepat. Putera yang tertarik, mengejar tupai itu ke dalam hutan. Hutan itu sangat dalam dan Putera tersesat. Dia mencari jalan pulang, tapi tak ketemu. Lalu, Putera melihat sebuah pondok kecil. Dia mengintip dan melihat seorang Pak Tua sedang memasak. “Baru kamu tahu siapa aku!” kata Pak Tua. “Dulu, ayahmu mengusir aku dari negeri ini!” Putera bingung. “Ayahmu juga memintaku menamai putriku. Sekarang, ayah dan bondamu sudah tiada.” “Tak ada yang mau dekat denganmu, Puteri Tupai!” Pak Tua tertawa. “Tak ada yang akan memanggilmu Puteri Gemalai Suri!” Di dekat Pak Tua, ada seekor tupai kecil. Putera tahu, tupai itulah yang dimaksud Pak Tua. Putera menemukan sebua...