Catatan

Tunjukkan catatan dari April, 2026

Raja Kuyuk dan Pensel Ajaib

Di Kota Kilas, hiduplah Raja Kuyuk yang memerintah rakyat Bisaya. Raja Kuyuk meminta rakyatnya menanam halia. Suatu hari, seorang anak datang memberitahu, “Ladang halia kita dirusak binatang, Tuanku!” Raja Kuyuk sedih dan pergi ke ladang. Di sana, dia menemukan sebuah pensel ajaib! Jika digambar payung, payung akan muncul! Karena ladang halia rusak, Raja Kuyuk memutuskan pindah ke Bukit Selinggi. Di sana, dia menggunakan pensel ajaib untuk melindungi tanaman halia dari binatang buas. Dia menggambar payung besar di atas setiap tanaman! Tidak lama kemudian, datanglah rombongan dari Brunei, dipimpin Sultan Hasyim, ingin membeli halia. Raja Kuyuk menyambut mereka dengan gembira. Sultan Hasyim melihat Raja Kuyuk dan rakyatnya selalu bersyukur. Dia menjelaskan tentang agama Islam. Raja Kuyuk tertarik dan belajar tentang Islam. Setelah itu, ladang halia Raja Kuyuk semakin subur, dan semua rakyat hidup bahagia berkat pensel ajaib dan agama Islam! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kana...

Kasaan dan Wau Ajaib

Kasaan berdiri di depan sebatang pokok besar. Di atas pokok itu, ada seekor monyet yang marah. Monyet itu berkata kepada Kasaan, “Bunuhlah aku dan makanlah aku!” Kasaan menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak mahu!” Tapi monyet itu terus memaksa. Ketika Kasaan memotong badan monyet itu, monyet itu masih boleh bercakap! “Setelah kamu makan daging aku, gantungkan tengkorak aku di atas pintu rumahmu sebagai tanda hormat,” katanya. Kancil mengangguk setuju. Keesokan harinya, Kasaan sedang bermain layang-layang (wau) di tepi pantai, tiba-tiba dia mendengar suara, “Kasaan, tuntut bela kematian kedua orang tuamu! Parang Jalong dan Chibal Murud yang telah membunuh mereka!” Parang Jalong dan Chibal Murud tinggal jauh di seberang gunung. Perjalanan ke sana memakan masa setahun! Kasaan mendaki gunung, menyeberangi hutan, dan menghadapi banyak rintangan. Dia berdoa agar selamat sampai. Akhirnya, dia tiba di perkampungan si gagah Parang Jalong dan Chibal Murud. Ada pagar tinggi dengan api menyal...

Bubu Ajaib dan Wau Pelangi

Di sebuah desa tepi laut, hiduplah seorang nelayan, isterinya, dan anaknya. Mereka hidup dari hasil tangkapan bubu. Suatu hari, bubu mereka hilang! Mereka sangat sedih. Saat mencari bubu, mereka tersesat di hutan. Tiga hari tiga malam mereka berada di sana. Tiba-tiba, mereka melihat Wau (layang-layang) yang bersinar terang. Wau itu membawa mereka pulang dengan selamat. Malamnya, nelayan bermimpi. Wau itu memberinya petunjuk untuk menangkap ikan di tempat yang sama. Nelayan menceritakan mimpinya kepada Makcik Pawang. Makcik Pawang memberikan nelayan sebuah bubu ajaib yang bisa menangkap ikan emas. Nelayan mengadakan pesta syukur. Dia menari dengan bubu ajaibnya. Wau pelangi terbang di atas mereka, menyebarkan warna-warni kebahagiaan. Semua orang di desa merasa senang dan terhibur. Sejak saat itu, pesta dengan bubu ajaib dan wau pelangi sering diadakan di desa itu. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Wau Donan dan Kekuatan Pelangi

Saat fajar menyingsing, Permaisuri Gunung Mandi Angin melahirkan seorang bayi. Bayi itu terlepas dari pelukan bidan dan jatuh ke lantai, tetapi tidak terluka. Raja Mendung Bongsu memanggil ahli nujum. “Ramalkan nasib anakku, Awang Donan,” titahnya. Enam ahli nujum berkata, Awang Donan tidak boleh tinggal di sini, nanti akan terjadi bencana. Hanya seorang berkata Awang Donan akan membawa keberuntungan. Awang Donan diletakkan di atas rakit kecil yang hanyut di sungai. Rakit itu tersangkut di dekat seorang Nenek yang sedang mencuci pakaian. Nenek mendengar tangisan bayi dan membawanya pulang. Sejak itu, Nenek dan Awang Donan hidup bersama. Ketika Awang Donan dewasa, dia mendapat hadiah istimewa: sebuah Wau (layang-layang) yang bisa mengeluarkan pelangi! Jika Awang Donan meniup peluit khusus, pelangi dari Wau akan memberikan kekuatan super. Ketika Gunung Mandi Angin diserang, Awang Donan menerbangkan Wau-nya dan menggunakan kekuatan pelangi untuk mengalahkan musuh. Raja Mendung Bongsu sang...

Wau Ajaib dan Mimpi Ular

Di sebuah desa di Johor, hiduplah tiga sahabat: Tuk Raja, Tuk Peteri, dan Tuk Bukit. Tuk Raja punya wau ajaib, yang bisa menunjukkan jalan ke tempat yang diinginkan. Suatu malam, Tuk Raja bermimpi kampungnya dipenuhi ular! Dia terbang dengan wau ke arah matahari terbenam, sampai bertemu sungai yang bercabang dua. Keesokan harinya, Tuk Raja meminta pendapat Tuk Peteri dan Tuk Bukit. Mereka berdua berkata, “Kampung kita akan kenaulah bencana!” Berita itu menyebar, ada yang percaya, ada yang tidak. Tuk Raja lalu berkata, “Aku akan pindah dari kampung ini!” Dia mengajak penduduk kampung yang mau ikut. Banyak yang terkejut! Ada yang ikut, ada yang memilih tinggal. Setelah berjalan tujuh hari tujuh malam, mendaki bukit dan menyeberangi sawah, semua sangat lelah. Tuk Raja menyemangati, “Sabar, sahabat-sahabatku!” Akhirnya, mereka tiba di sungai bercabang dua. Wau ajaib itu menunjuk ke kuala sungai yang tersumbat. Saat penduduk menggali, salah seorang menemukan benda keras. Tuk Raja melihatnya...

Ajaibnya Penukul Tempua

Di kaki Gunung Titiwangsa, hiduplah sekumpulan burung tempua. Ketua burung tempua sedang mencari tempat untuk membina sarang. Mereka perlu membina sarang sebelum malam tiba. Tiba-tiba, seekor lebah lalu di tempat burung-burung itu sedang berbincang. “Oh Lebah, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya ketua burung tempua dengan terkejut. “Kami sedang berbincang di mana kami hendak membina sarang,” jawab ketua burung tempua. “Berbincang? Ha! Ha! Ha! Kamu semua tidak pernah saling mempercayai!” ejek Lebah dengan nada mengejek. Ketua burung tempua agak marah, tetapi dia mempunyai satu rahsia. Dia mempunyai penukul yang ajaib! Jika dia memukul pokok, pokok itu akan mengeluarkan sarang yang sudah siap! Dia memukul pokok di hadapan Lebah. Sekeliling pokok itu muncul sarang-sarang yang cantik. Lebah terkejut! Dia tidak menyangka burung tempua mempunyai penukul ajaib. “Tempua, kamu memang hebat! Bolehkah aku tinggal berjiran dengan kamu?” kata Lebah dengan sopan. Pada petang itu, Lebah pulang ke s...

Puteri Tupai dan Wau Ajaib

Di Negeri Berasap, ada seorang Putera yang sangat suka memburu. Putera itu memburu di dalam hutan yang lebat. Setelah seharian berlari dan mencari, Putera itu merasa penat dan duduk rehat di bawah pohon yang tinggi. Di atas pohon itu, dia melihat seekor tupai yang cantik sekali! Ketika Putera hendak mendekat, tupai itu lari dengan cepat. Putera yang tertarik, mengejar tupai itu ke dalam hutan. Hutan itu sangat dalam dan Putera tersesat. Dia mencari jalan pulang, tapi tak ketemu. Lalu, Putera melihat sebuah pondok kecil. Dia mengintip dan melihat seorang Pak Tua sedang memasak. “Baru kamu tahu siapa aku!” kata Pak Tua. “Dulu, ayahmu mengusir aku dari negeri ini!” Putera bingung. “Ayahmu juga memintaku menamai putriku. Sekarang, ayah dan bondamu sudah tiada.” “Tak ada yang mau dekat denganmu, Puteri Tupai!” Pak Tua tertawa. “Tak ada yang akan memanggilmu Puteri Gemalai Suri!” Di dekat Pak Tua, ada seekor tupai kecil. Putera tahu, tupai itulah yang dimaksud Pak Tua. Putera menemukan sebua...

Wau Ajaib dan Pencuri Kambing

Dahulu kala, hiduplah dua orang bernama Bubu dan Baba. Mereka selalu mencuri kambing. Suatu malam, mereka pergi mencuri kambing di sebuah kampung. Malam itu gelap, tetapi Bubu mempunyai sebuah Wau Ajaib yang boleh mengeluarkan cahaya terang. Mereka masuk ke kandang. Mereka memilih seekor kambing yang gemuk. Mereka mengikat keempat-empat kakinya. Tiba-tiba, seekor Harimau masuk ke dalam kandang! Bubu dan Baba tidak nampak kerana Wau Ajaib itu hanya menyala di depan mereka. Mereka memikul ‘kambing’ itu dengan kayu. Wau Ajaib itu mengeluarkan cahaya yang lebih terang. Bubu melihat, “Harimau!” jeritnya dan melepaskan ikatan. Baba yang tidak mendengar, marah, “Kau tidak peka!” Lalu dia memikul Harimau itu sendiri. Baba mengeluh, “Kambing ini berat!” Wau Ajaib itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Kali ini, Baba melihat Harimau itu! Dia terkejut dan melepaskan Harimau itu lalu lari. Baba marah pada Bubu. Tetapi kemudian, Wau Ajaib itu mengeluarkan suara, “Jangan mencuri! Bekerja kerasl...

Wau Ajaib Seman

Seman tinggal di Kampung Ulu Petai. Dia sering merasa sedih karena penampilannya. Suatu hari, saat mencari petai di hutan, dia menemukan sebuah Wau (layang-layang) yang berkilauan. Wau itu bisa membawanya ke dunia istana bunian! Di sana, Seman berubah menjadi tampan dan bertemu dengan Puteri Bunian yang cantik. Mereka menikah, tapi Seman merindukan ibunya. Puteri Bunian memberinya sebuah Wau ajaib. “Terbanglah dengan Wau ini ke rumahmu, tapi jangan pernah berbohong,” katanya. Seman pulang, ibunya terkejut melihatnya. Mereka ingin mengadakan pesta, tapi tidak punya makanan. Seman ingin menggunakan Wau untuk meminta makanan, tapi dia teringat pesan puteri. Dia memutuskan untuk meminta bantuan tetangga. Tetangganya dengan senang hati membantu. Seman belajar bahwa kejujuran dan gotong royong lebih baik daripada menggunakan kekuatan ajaib untuk hal yang salah. Wau ajaib itu tetap menjadi pengingat untuk selalu menjaga janji. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Wau Ajaib dan Raja Ikan

Di tepi sungai Menduku, hiduplah Pak Adi, Mak Adi, dan anak laki-laki mereka, Adi. Adi punya Wau yang istimewa, Wau itu bisa mengeluarkan payung saat hujan. Suatu hari, Adi pergi memancing. Dia menangkap seekor ikan besar! Ikan itu rupanya Raja Ikan. “Tolong lepaskan aku, Adi! Jika kau lepaskan, aku akan menunaikan semua permintaanmu!” pinta Raja Ikan. Adi meminta Raja Ikan memberinya sekul ikan kelisa yang besar dan hidup. Tiba-tiba, Wau Adi mengeluarkan payung yang penuh dengan ikan kelisa! Adi pulang dengan gembira. “Ibu, Ibu! Aku dapat banyak ikan kelisa!” serunya. Mak Adi berkata, “Adi, mintalah pada Raja Ikan supaya kita punya rumah yang besar dan indah!” Keesokan harinya, Adi kembali ke sungai. “Raja Ikan, aku ingin rumah yang besar dan indah!” Adi meminta. Raja Ikan menyuruh Adi pulang. Di rumah, Wau Adi mengeluarkan payung yang berubah menjadi rumah besar yang cantik! Keluarga Adi menjadi kaya dan tinggal di rumah yang indah. Adi ingin menikah dengan Putri Intan Baiduri. Dia k...

Putri dan Wau Ajaib

Di kayangan, hiduplah Putri Suria Pagi, Putri Purnama Sari, dan Putri Cahaya Bintang. Ayah mereka, Sultan Malim Di Awan, selalu mengingatkan mereka untuk pulang sebelum senja. Suatu hari, mereka bermain di kolam di bumi dan Putri Cahaya Bintang kehilangan baju terbangnya. Ternyata, Putera Panji Alam mencurinya! Putri Cahaya Bintang sedih. Tiba-tiba, sebuah Wau (layang-layang) ajaib muncul! Wau itu bisa mewujudkan keinginan. Putri Cahaya Bintang memohon agar baju terbangnya kembali. Wau itu mengembalikan baju terbangnya, tetapi juga membawa Putri Cahaya Bintang terbang ke rumah Nenek Kebayan. Putera Panji Alam, yang juga memiliki Wau ajaib, mengikuti Putri Cahaya Bintang. Mereka bertemu di rumah Nenek Kebayan dan saling jatuh cinta. Dengan bantuan Wau ajaib, mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. Wau ajaib itu menjadi saksi cinta mereka yang indah. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Wau Ajaib dan Penculik

Di sebuah kampung yang tenang, hiduplah seorang budak perempuan bernama Lily. Dia mempunyai sebuah Wau yang ajaib. Wau itu boleh membawa Lily ke mana sahaja dia mahu. Suatu hari, seorang penculik menculik Lily ketika dia sedang bermain di taman. Penculik itu membawanya ke dalam sebuah rumah usang di tengah hutan. Lily berfikir, 'Aku harus menggunakan Wau ajaibku!' Dia berpura-pura menangis dan enggan berdiri ketika penculik menyuruhnya berdiri. Setiap kali penculik itu mendekat, Lily membisikkan kata-kata ajaib kepada Wau itu. Wau itu kemudiannya terbang ke arah penculik dan meniupkan debu pelangi ke wajahnya. Penculik itu menjadi bingung dan tidak dapat melihat dengan jelas. Lily menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri dan terbang bersama Wau ajaibnya. Wau itu membawanya kembali ke rumahnya dengan selamat. Orang-orang kampung melihat Wau itu terbang dan tahu bahawa Lily telah kembali. Mereka menangkap penculik itu dan membawanya kepada polis. Penulis: CKK2 P...

Gajah dan Wau Ajaib

Dahulu kala, hiduplah seekor Gajah yang sombong dan suka membuat masalah. Dia sering merosakkan tanaman tebu di kampung Orang Asli. Tok Batin yang marah, meminta bantuan kepada seorang pembuat Wau (layang-layang) yang bijaksana. Pembuat Wau itu memberikan Gajah sebuah Wau Ajaib yang bisa mengubah apapun yang disentuhnya. Tok Batin menyuruh Gajah untuk terbang dengan Wau itu dan mencari mata yang bisa mengembalikan penglihatannya. Ketika Gajah terbang dengan Wau Ajaib, dia menyentuh sebuah pohon kecil, dan Wau itu mengubahnya menjadi mata yang berkilauan. Gajah memasang mata itu, dan penglihatannya kembali! Tapi, matanya menjadi kecil. Gajah belajar menjadi lebih rendah hati dan membantu Orang Asli menanam tebu. Wau Ajaib itu menjadi simbol persahabatan antara Gajah dan Orang Asli. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Wau Ajaib Lombong Menanti

Dahulu kala, di Kampung Padang Keladi dan Kuala Pilah, ada pertengkaran hebat kerana seorang Puteri Raja yang cantik. Panglima Ujang dari Kampung Padang Keladi menculik Puteri Raja. Orang Kuala Pilah marah dan menyerang Kampung Padang Keladi. Untungnya, ada Tuk Tandang yang memiliki Wau Ajaib. Wau itu bisa membawa orang ke mana saja! Ketika orang Kuala Pilah datang menyerang, Tuk Tandang menyuruh Panglima Ujang dan Puteri Raja lari melalui pintu belakang. Kemudian, Tuk Tandang menerbangkan Wau Ajaib dan melemparkannya ke arah orang Kuala Pilah. Wau itu berubah menjadi dinding batu besar! Orang Kuala Pilah terkejut dan tidak bisa mendekat. Tuk Tandang kemudian menerbangkan Wau Ajaib ke dalam lombong batu. Wau itu menciptakan lorong rahasia yang membawa semua orang Kuala Pilah ke dalam lombong. Mereka tersesat dan akhirnya menyerah. Sejak saat itu, lombong itu dikenal sebagai Lombong Menanti, dan Wau Ajaib menjadi legenda di kedua kampung. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak...

Wau Ajaib dan Kota Kulit Kerang

Di sebuah desa yang tenang, hiduplah Raja dan Permaisuri yang disayangi rakyatnya. Suatu hari, kerajaan Beruas yang kuat datang hendak menyerang. Raja bingung, bagaimana cara melindungi negerinya? Tiba-tiba, dia menemukan sebuah Wau (layang-layang) ajaib! Wau itu bisa mengeluarkan awan hujan kerang! Raja memerintahkan Datok Bendahara untuk menerbangkan Wau itu. Ketika Wau terbang tinggi, ia mengeluarkan awan hujan kerang yang menutupi seluruh negeri. Kulit kerang-kulit kerang itu menumpuk dan membentuk benteng yang kuat di sekeliling kerajaan. Kerajaan Beruas terkejut melihat benteng kulit kerang yang tiba-tiba muncul. Raja dan rakyatnya melawan dengan berani. Akhirnya, mereka berhasil mengalahkan kerajaan Beruas! Sejak saat itu, negeri itu dikenal sebagai Kota Kulit Kerang, berkat Wau ajaib yang melindungi mereka. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Seruling Ajaib Wau Bulan

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Aman di tepi sawah. Setelah kehilangan isterinya, Aman menghibur diri dengan meniup seruling. Bunyi serulingnya sangat merdu. Suatu petang, datanglah Pak Kaya Mamat yang garang. “Berhenti meniup serulingmu! Anakku sakit!” teriaknya. Aman bertanya, “Kenapa?” Pak Kaya Mamat menjawab, “Serulingmu membuat anakku demam!” Aman sedih. Tiba-tiba, serulingnya bersinar! Seruling itu adalah Wau Bulan ajaib! Ketika Aman meniupnya, angin bertiup membawa serbuk sari bunga ajaib yang bisa menyembuhkan penyakit. Aman meniup serulingnya ke arah rumah Pak Kaya Mamat. Esok harinya, anak Pak Kaya Mamat sembuh! Dia bertanya, “Ayah, siapa yang menyembuhkanku?” Pak Kaya Mamat teringat Aman si pembuat seruling. Dia sangat menyesal telah mengusirnya. Dia mencari Aman dan meminta maaf. Aman memaafkannya, dan mereka menjadi teman baik. Wau Bulan terus meniupkan kebaikan ke seluruh kampung. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Awang Lurus dan Sepatu Ajaib

Awang tinggal bersama Ayahnya. Awang seorang yang lurus. Ayahnya sering berpesan jika ada orang memanggilnya, Awang hendaklah memanggil ayahnya. Suatu hari, ayahnya ke rumah jiran untuk membaca doa. Tiba-tiba, ada orang datang memanggil ayahnya. Awang pun lalu melaung memanggil ayahnya dari rumahnya sahaja. Apabila ayahnya tiba, ayahnya menegur agar dia ke rumah jirannya dengan sopan, berjabat tangan dengan semua tetamu dan barulah datang berbisik kepada ayahnya. Suatu hari, rumahnya terbakar! Ayahnya berada di rumah jirannya. Awang punya sepasang sepatu ajaib yang bisa terbang! Awang berjalan dengan sopan, berjabat tangan dengan semua tetamu lalu berbisik kepada ayahnya, “Rumah kita terbakar!” Ayah menjerit lalu terbang bersama Awang menggunakan sepatu ajaib ke rumah. Apabila tiba, rumahnya musnah dijilat api. Bapanya lalu menghuraikan, “Terima kasih, Awang, sudah menyelamatkan Ayah!” Suatu hari, sekumpulan pencuri meminta Awang membantu mereka mencuri harta raja. Awang yang lurus pat...

Puteri dan Sepatu Ajaib

Dahulu, ada tujuh orang puteri jelita. Suatu hari, seorang putera ingin meminang salah seorang puteri. Tetapi raja menolak pinangannya kerana kakak-kakak Puteri Bongsu berebut mahu mempersuamikan putera itu. Suatu hari, sedang semua puteri bermandi-manda di sungai, sebiji buah rambang rembunut terapung ke arah mereka. Lantas Puteri Bongsu mencapai buah itu. Kakak-kakaknya mengejeknya, “Puteri Rambang Rembunut berbuah mianang.” Puteri Bongsu kecil hati lalu pulang membawa buah rambang rembunut itu ke istana. Pada waktu malam, dayang menghantar makanan ke bilik peraduan Puteri Bongsu tetapi puteri hilang selera makan lalu tidur. Keesokan pagi, ia hairan kerana makanannya habis licin. Kejadian yang sama berlaku beberapa hari sehinggalah suatu hari, Puteri Bongsu berpura-pura tidur. Ia mahu melihat apakah yang berlaku. Tiba-tiba buah rambang rembunut merekah lalu menjelma seorang putera. Putera itu adalah putera yang pinangannya ditolak. Dengan pantas, Puteri Bongsu membakar buah rambang r...

Tok Jagheh dan Sepatu Ajaib

Tok Jagheh suka berkebun di atas tanah di anak bukit. Untuk mengairi kebunnya, Tok Jagheh perlu mengorek telaga di atas tanah di situ. “Apa yang kamu sedang lakukan, wahai Tok Jagheh?” sapa seorang lelaki yang lalu di situ. “Aku menggali tanah kerana mahu mencari mata air,” balas Tok Jagheh. Meskipun orang ramai mengatakan usaha Tok Jagheh itu sia-sia, Tok Jagheh tetap tidak berputus asa. Dia memakai Sepatu Ajaib yang diberikan oleh anak perempuan. Sepatu itu boleh menggali tanah dengan cepat! Tok Jagheh terus menggali selama empat purnama lamanya. Lubang yang digali Tok Jagheh semakin lama semakin dalam. Akhirnya, Sepatu Ajaib itu menemui mata air! Airnya jernih dan banyak. Penduduk kampung mula berbual tentang kegigihan dan kesabaran Tok Jagheh. Mereka menamakan kawasan itu sebagai tempat Tok Jagheh mencari mata air. Lama-kelamaan, nama itu dipendekkan dan yang tinggal hanyalah Mata Air. Begitulah bagaimana nama Mata Air diperolehi. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Ka...

Abdul dan Pokok Permata Ajaib

Seorang saudagar yang kaya mempunyai beberapa anak. Mengikut tilikannya, tiada seorang pun anaknya yang boleh meneruskan perniagaannya. Saudagar lalu membungkus barang dan menuju ke sebuah perkampungan. Di kampung itu, tinggal seorang janda dan anaknya, Abdul. Saudagar menilik bahawa suatu hari nanti Abdul bakal menjadi saudagar yang berjaya. Ia pun mahu mengambil Abdul sebagai anak angkatnya. Ibu Abdul tidak mahu berpisah dengan anaknya tetapi Abdul berkata, “Benarkan Abdul pergi, ibu. Abdul tidak akan lupakan ibu.” Abdul mengikut saudagar pulang ke bandar. Di bandar, saudagar mengajar Abdul berdagang. Suatu hari, saudagar memberi Abdul sebuah Pokok Permata Ajaib. “Pokok ini akan menghasilkan permata jika Abdul bekerja keras,” kata saudagar. Namun Abdul lebih suka berfoya-foya daripada berdagang. Pokok Permata Ajaib tidak menghasilkan permata. Akibatnya, saudagar kerugian. Ia menghalau Abdul dari rumahnya. Abdul malu untuk pulang ke kampung sehelai sepinggang lalu bekerja sebagai hamb...

Putera Bulan dan Sepatu Ajaib

Di istana Bulan yang indah, hiduplah Putera Pungguk. Raja Bulan dan Permaisuri Bulan sangat menyayanginya. Suatu hari, Pungguk bertemu dengan Puteri Bulan yang cantik. Mereka saling jatuh cinta. Puteri Bulan berkata, “Kanda, di bumi ada bunga putih yang cantik. Aku sangat ingin melihatnya!” Pungguk berjanji, “Aku akan membawakan bunga itu untukmu!” Pungguk meminta izin ayahandanya untuk turun ke bumi. Raja Bulan menolak, “Anakanda, tempat kita di Bulan!” Pungguk tetap bertekad. Dia menemukan sepasang sepatu ajaib yang bisa membawanya ke mana saja! Dengan sepatu ajaib itu, Pungguk turun ke bumi. Sampai di bumi, Pungguk mencari bunga putih. Tapi, dia hanya menemukan kulit tebu! Puteri Bulan pasti kecewa! Tiba-tiba, sepatu ajaibnya bersinar. Sepatu itu mengeluarkan cahaya dan mengubah kulit tebu menjadi bunga Lily putih yang cantik! Pungguk sangat gembira! Dia membawa bunga Lily putih itu kembali ke Bulan untuk Puteri Bulan. Puteri Bulan sangat senang dan berterima kasih kepada Pungguk. S...

Jam Tangan Ajaib dan Kejujuran Si Kecil

Dahulu kala, di sebuah desa yang tenang, hiduplah Budi dan ibunya. Mereka hidup sederhana. Budi selalu berusaha berkata jujur. Suatu hari, teman Budi, Roni, ingin menguji kejujurannya. Roni memberikan sebuah karung berisi batu kepada Budi, lalu berkata, “Budi, ibuku menyuruhku memberikan karung berisi berlian ini kepada ibumu.” Budi memegang karung itu dan berkata, “Benarkah ini berlian? Terima kasih, Roni!” Lalu, Budi melihat jam tangannya. Tiba-tiba, jam itu bersinar dan berkata, “Kejujuranmu akan dibalas! Buka karung itu!” Budi segera pulang ke rumah dan memberikan karung itu kepada ibunya. Ibunya membuka karung itu dan bertanya, “Berat sekali karung ini. Apa isinya, Budi?” “Berlian, Ibu,” jawab Budi. Ibunya ragu-ragu lalu membuka karung itu. Alangkah terkejutnya ia melihat banyak berlian di dalamnya! “Benarkah Roni yang memberikannya?” tanya ibunya tidak percaya. “Ya, Ibu. Aku tidak berbohong,” jawab Budi. Ibu Budi menemui Roni. Roni mengaku ingin menipu mereka. Ia sangat terkejut ...

Putera Ajaib dan Pohon Permata

Di Kerajaan Gemerlap, hiduplah Raja yang bijaksana. Beliau punya dua putera, Ajaib yang pemberani dan Rian yang sombong. Suatu hari, Rian mengambil kalung permata Raja dan memakainya. “Aku raja sekarang!” serunya dengan angkuh. “Ayah sudah lemah, Ajaib terlalu pemalu!” Raja sangat marah. “Rian, kamu tidak boleh begitu! Kamu tidak menghormati Ayah!” Beliau memanggil penyihir istana. “Karena kamu sombong, Rian,” kata Raja, “aku akan memberimu kekuatan ajaib! Tapi, kekuatan itu hanya bisa digunakan untuk kebaikan.” Penyihir itu menyentuh Rian, dan kalung permata itu berubah menjadi topi yang bisa membuat pohon permata tumbuh. “Aku akan mengirimmu ke hutan,” lanjut Raja. “Di sana, kamu harus menanam pohon permata untuk membantu rakyat. Setiap permata yang kamu dapatkan harus kamu bagikan.” Rian pun pergi ke hutan dan menanam pohon permata. Ia belajar berbagi dan menjadi putera yang baik. Ajaib membantu Rian menanam pohon permata, dan mereka berdua menjadi pahlawan kerajaan. Penulis: ...

Melur dan Pena Ajaib

Pak Hitam tinggal bersama anak perempuannya, Melur. Isteri Pak Hitam sudah meninggal dunia. Pak Hitam kemudiannya berkahwin dengan Mak Cik Hudah, yang mempunyai anak perempuan bernama Kemboja. Suatu hari, Pak Hitam jatuh sakit dan meninggal dunia. Mak Cik Hudah dan Kemboja tidak suka Melur. Mereka membuat Melur menjadi pembantu rumah dan menyakitinya. Melur sangat sedih. Dia berlari ke hutan dan menangis di tepi sungai. Tiba-tiba, dia menemukan sebuah pena ajaib! Pena itu bisa menulis apa saja yang Melur inginkan, dan itu akan menjadi kenyataan. Melur menulis, “Aku ingin Mak Cik Hudah dan Kemboja menjadi baik hati dan menyayangiku.” Tiba-tiba, Mak Cik Hudah dan Kemboja berubah! Mereka meminta maaf kepada Melur dan memeluknya. Melur juga menulis, “Aku ingin Pak Hitam kembali!” Pena itu bersinar terang, dan Pak Hitam muncul kembali, sehat dan bahagia! Ternyata, Pak Hitam hanya perlu istirahat. Mereka semua hidup bahagia selamanya, berkat pena ajaib itu. Penulis: CKK2 Penerbit:...

Kendi Ajaib dan Sepatu Terbang

Adik Johan adalah anak yang suka bermain, tapi kadang kala dia suka mengganggu Nenek Fatimah. Suatu hari, Johan melihat Nenek Fatimah berkata, “Kendi Ajaib, bolehkah kau berikan aku sedikit susu segar?” Seketika, kendi itu penuh dengan susu yang lezat! Nenek Fatimah minum susu itu dengan nikmat. Kemudian, Nenek Fatimah pergi mencari kayu api. Johan masuk ke dalam rumah Nenek Fatimah dan mencuri Kendi Ajaib! Di rumahnya, Johan berkata, “Kendi Ajaib, berikan aku susu!” Tapi, susu keluar terlalu banyak, sampai meluap ke seluruh rumah! Johan ketakutan dan berlari keluar. Dia menjerit, “Aduh! Susu mengejarku!” Johan berlari ke Taman, lalu dia memakai Sepatu Terbang yang dia temukan di loteng. Dia terbang ke rumah Nenek Fatimah dan berteriak, “Maafkan aku, Nenek! Aku janji tidak akan mencuri lagi! Tolong aku, rumahku banjir susu!” “Baiklah, Johan. Gunakan Sepatu Terbangmu untuk mengeringkan susu!” kata Nenek Fatimah. “Bagaimana caranya?” tanya Johan bingung. Nenek Fatimah menunjuk ke rumah J...

Ular Sawa dan Sepatu Ajaib

Dahulu kala, hiduplah seekor ular sawa yang besar di tepi tasik. Ular sawa itu sangat berbisa, kalau dia memagut tapak kaki, kaki itu akan mati! Semua makhluk takut mendekati tasik. Ikan-ikan di dalamnya bertambah banyak. Suatu hari, ular sawa itu lapar lalu ke hutan mencari makanan. Seorang pemuda sedang mencari kayu tiba di tasik dan melihat banyak ikan. Dia lalu menangkap ikan-ikan dan pulang ke rumah. Sekembalinya ular sawa dari hutan, dia mendapati air tasik keruh dan ikan berkurangan. Ular sawa itu sangat marah lalu hendak memagut kaki pemuda itu. Tapi tiba-tiba, dia menemukan sepasang sepatu ajaib! Setiap kali dia melangkah, racunnya hilang sedikit demi sedikit. Ular sawa itu sedih, dia bertanya kepada gagak, “Kenapa aku tidak lagi berbisa?” Gagak menjawab, “Kerana sepatu ajaib itu menghilangkan racunmu!” Ular sawa itu kecewa lalu memuntahkan sisa racunnya dan pergi dari situ. Seekor ular mura yang lalu di situ menjilat sisa racun itu. Lebah, penyengat, dan kala jengking membubu...

Sepatu Ajaib dan Pesta di Bukit Cuping

Dahulu kala, di Gua Berangin di Bukit Cuping, diadakan pesta meriah! Semua orang datang bersuka-ria dan bersorak gembira. Musik seruling dan serunai terdengar merdu. Tapi, ada satu masalah: mereka lupa pada Sang Gedembai, penjaga Bukit Cuping! Sang Gedembai datang mengingatkan, “Janganlah kamu membuat bising! Aku bimbang akan berlaku perkara yang tidak baik.” Orang-orang tidak dengar. Mereka tetap berpesta. Tiba-tiba, seorang anak kecil bernama Ali memakai Sepatu Ajaib yang bisa membuat orang mendengarkan! Ali berlari mendekat dan berkata, “Semua, dengarkan Cik Gedembai! Dia ingin melindungi kita!” Sepatu Ajaib itu membuat semua orang bisa mendengar nasihat Sang Gedembai. Sang Gedembai tersenyum. “Terima kasih, Ali! Karena kalian mendengarkan, aku tidak perlu mengubah kalian menjadi batu.” Semua orang bersorak gembira. Mereka melanjutkan pesta dengan tenang dan menghormati Sang Gedembai. Sejak saat itu, Bukit Cuping selalu aman dan damai, berkat Sepatu Ajaib dan anak kecil yang baik ha...

Wau Ajaib dan Bukit Emas

Dahulu kala, hiduplah sebuah Bukit yang menyimpan banyak emas di dalamnya. Bukit itu punya banyak pokok, ada buluh, neram, ara, dan merbau. Bukit sayang pokok-pokok itu, dan pokok-pokok juga sayang Bukit. Tapi, Bukit khuatir manusia akan datang mencari emas dan meletupkan dia. Suatu hari, datanglah seorang budak lelaki membawa Wau Ajaib. Wau itu boleh terbang tinggi dan melihat jauh. Bukit meminta tolong budak itu, “Budak, bolehkah kau terbang dengan Wau Ajaib dan lihat adakah manusia datang?” Budak itu setuju. Dia terbang tinggi dengan Wau Ajaib. Tiba-tiba, Wau itu mengeluarkan serbuk ajaib yang membuat pokok-pokok tumbuh sangat cepat dan kuat! Pokok-pokok itu menutupi Bukit, menyembunyikan emas di dalamnya. Manusia datang, tapi mereka tak dapat mencari emas kerana pokok-pokok terlalu lebat. Mereka pun pergi. “Terima kasih, budak!” kata Bukit gembira. “Terima kasih, Wau Ajaib!” Itulah sebabnya sekarang pokok-pokok tumbuh di tempat yang berlainan. Pokok yang tumbuh di tepi sungai tidak...

Sulung dan Sepatu Ajaib

Sulung tidak mahu tinggal bersama ibu bapanya lalu lari dari rumah. Berhari-hari Sulung berjalan di dalam hutan sehinggalah tiba di sebuah pondok di tepi sungai. Pondok itu milik seorang nenek. Sulung tinggal bersama nenek itu. Suatu hari, nenek mengajak Sulung memasak nasi bersama. Sulung tidak mahu lalu memberi alasan mahu berjaga di luar pondok. Tetapi apabila nasi siap dimasak, Sulung makan dengan lahapnya. Keesokan hari, nenek mahu ke sungai menangkap ikan. Sebelum pergi, nenek berpesan supaya Sulung memasak nasi. Sulung tidak menghiraukan pesan nenek lalu bermain di sekeliling pondok. Tiba-tiba, Sulung menemukan sepasang sepatu ajaib! Sepatu itu bisa memasak nasi sendiri! Sulung memakai sepatu ajaib itu dan berkata, “Sepatu, tolong masak nasi untuk nenek!” *Wussh!* Sepatu ajaib itu langsung memasak nasi yang harum dan lezat. Nasi itu tidak menjadi bubur, melainkan nasi yang pulen dan enak. Nenek pulang dari sungai dan terkejut melihat nasi yang sudah siap. Sulung meminta maaf ka...

Sepatu Ajaib dan Kebun Pak Tani

Di sebuah desa yang asri, hiduplah Pak Kaya yang rajin dan Pak Miskin yang malas. Pak Kaya selalu bekerja di ladangnya dan memiliki banyak hasil panen. Pak Miskin seringkali hanya tidur dan tidak melakukan apa-apa. Suatu hari, Pak Kaya mengadakan pesta panen di rumahnya. Saat semua orang bersenang-senang, Pak Miskin masuk ke gudang Pak Kaya dan mengambil beberapa karung beras. Pak Miskin menghabiskan beras itu untuk berpesta. Dia juga mengadakan pesta sendiri. Tiba-tiba, muncul sepasang sepatu ajaib yang bisa terbang. “Ayo makan!” ajak Pak Miskin. “Terima kasih atas undangannya. Aku sangat senang menikmati hasil kerja kerasku!” kata sepatu ajaib. “Siapa kamu sebenarnya?” tanya Pak Miskin. Sepatu ajaib menjawab, “Aku adalah milik beras-beras itu! Kamu mencurinya!” Semua orang terkejut. Pak Kaya menjelaskan apa yang terjadi. Pak Kaya berkata, “Aku tidak marah padamu, tapi kamu harus mengembalikan semua beras yang kamu ambil.” Pak Miskin memakai sepatu ajaib dan terbang ke ladang Pak Kaya...

Pemburu dan Sepatu Ajaib

Dahulu kala, hiduplah seorang pemburu bersama isteri dan anak-anaknya. Pemburu selalu mengeluh dengan hasil tangkapannya. “Ayam hutan ini kecil! Aku mahu kijang!” katanya. Isterinya berkata, “Bersyukurlah dengan apa yang kita dapat. Kita sekeluarga masih mempunyai makanan.” Pemburu tak dengar. Keesokannya, dia mendapat seekor pelanduk. “Pelanduk? Ini tak cukup!” katanya. Kemudian, dia menangkap kijang kecil. Dia marah dan membuangnya ke sungai. Malamnya, dia bermimpi kijang itu berkata, “Orang yang tidak bersyukur akan rugi!” Keesokannya, dia menemukan sepasang sepatu ajaib! Setiap kali dia melangkah, sepatu itu membawanya ke tempat yang penuh makanan! Tapi, setiap makanan yang dia dapat, dia tetap mengeluh. “Ini pun tak cukup!” Akhirnya, sepatu ajaib itu berhenti berfungsi. Pemburu sedih dan menyedari kesalahannya. Dia meminta maaf kepada isterinya dan berjanji akan bersyukur. Sejak itu, dia tidak lagi mengeluh. Apa sahaja yang dia dapat, dia bersyukur. Sepatu ajaib itu kembali berfun...

Sepatu Ajaib dan Buah Beruas

Raja yang suka berburu ingin menyeberangi sungai yang lebar. Dia meminta Datuk Temenggung membuatkan rakit buluh. Datuk Temenggung memanggil orang-orang untuk membuat rakit buluh yang kuat. Kononnya rakit buluh ini tidak akan didekati oleh buaya. Saat rakit hampir selesai, tiba-tiba muncul sepasang sepatu ajaib! Sepatu itu bisa membuat siapa saja melompat tinggi dan menyeberangi sungai dengan cepat. Raja segera memakai sepatu itu dan melompat ke seberang sungai bersama Datuk Temenggung. Tidak lama kemudian, Raja ingin beristirahat. Mereka berhenti di tepi sungai. Di tepi sungai itu ada pohon buah yang aneh. Tiba-tiba, sebiji buah jatuh ke atas rakit. Raja segera mengambil dan membelah buah itu. “Buah apakah ini?” tanya Raja. “Ampun tuanku, patik kurang pasti,” jawab Datuk Temenggung. “Jika begitu, beta namakan Buah Beruas, sesuai dengan isinya yang beruas-ruas,” titah Raja. Setelah pulang, Raja memerintahkan dibangun sebuah kota yang megah, dan dia menamakannya Kota Beruas, sebagai ken...

Elang Garang dan Pohon Permen Ajaib

Dahulu kala, hiduplah seekor elang yang sangat garang di sebuah pulau. Elang itu menakut-nakuti semua penduduk pulau. Mereka sangat takut dan tidak tahu bagaimana cara mengusirnya. Suatu hari, seorang anak yatim piatu bernama Nibong menemukan sebuah pohon ajaib. Pohon itu bisa menghasilkan permen-permen yang sangat manis! Nibong punya ide. “Saya akan memberikan permen-permen ini kepada elang itu,” kata Nibong. “Mungkin dia akan berhenti marah kalau dia makan permen yang manis!” Nibong meletakkan banyak permen di dekat tempat elang itu biasa bertengger. Ketika elang itu datang, Nibong menyapa, “Elang, coba makan permen ini! Ini sangat manis!” Elang itu penasaran dan mencoba makan satu permen. Lalu dua, lalu tiga… Elang itu sangat suka dengan permen itu! Dia lupa semua amarahnya dan mulai bermain dengan Nibong. Sejak saat itu, elang itu tidak lagi garang. Dia dan Nibong menjadi teman baik, dan pulau itu kembali damai. Semua penduduk pulau senang sekali! Penulis: CKK2 Penerbit:...

Putera Awang Selbu dan Sepatu Ajaib

Di Negeri Selbu, memerintah Raja Besar dan Permaisuri Mayang Mengurai. Mereka punya dua anak: Putri Kuntum Putih dan Putera Awang Selbu. Datanglah utusan dari Negeri Kiambang Bukit, bilang kalau Awang Selbu dan Kuntum Putih akan membuat Negeri Selbu jadi celaka. Raja Besar memanggil tujuh Orang Nujum. Enam bilang benar, satu bilang beda. Nujum yang bilang beda dikurung. Awang Selbu dan Kuntum Putih diusir. Mereka tinggal di Bukit Untang-unting. Kuntum Putih belajar dari Gajah Putih. Awang Selbu bertapa. Suatu hari, gagak putih bilang Negeri Selbu diserang. Kuntum Putih ingin pulang, tapi Awang Selbu bilang, “Kamu duluan saja.” Setibanya di Negeri Selbu, Kuntum Putih memperbaiki negeri. Lama-lama, negeri jadi baik. Kuntum Putih mencari Awang Selbu. Dia terkejut! Awang Selbu kaku, ditumbuhi tanaman! Tiba-tiba, muncul Sepatu Ajaib! Kuntum Putih memakainya, dan sepatu itu bisa menyembuhkan. Dia menyentuhkan sepatu ke Awang Selbu. Awang Selbu sembuh dan bisa bicara lagi! Mereka pulang ke Ne...

Awang Tembam dan Sepatu Ajaib

Di Kampung Intan Saujana, hiduplah Pak Laha dan Mak Laha. Mereka punya banyak anak perempuan dan seorang anak lelaki bernama Awang Tembam. Semua orang panggil Awang Tembam kerana perutnya sangat besar! Dia suka makan kuih dan roti. Kakak-kakaknya selalu kata, “Kami yang tolong masak, tapi Tembam makan banyak sekali!” Suatu hari, Raja Setampuk dari negeri lain datang menyerang. Semua orang takut. Pak Laha dan Mak Laha sedih. Tembam jumpa sepasang sepatu ajaib di bawah pokok. Jika dia pakai, dia boleh melompat sangat tinggi! Raja Intan Saujana cabar Raja Setampuk bertanding. Semua orang kalah. Giliran Tembam. Dia pakai sepatu ajaib dan melompat tinggi sekali! Dia lompat ke atas Raja Setampuk dan kawan-kawannya, membuat mereka terkejut dan jatuh. Raja Setampuk malu dan balik ke negerinya. Dengan sepatu ajaib dan lompatannya yang tinggi, Awang Tembam selamatkan Kampung Intan Saujana! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Putera dan Sepatu Ajaib

Dahulu kala, hiduplah seorang putera bernama Indra yang sangat manja. Raja dan Permaisuri sangat menyayanginya. Suatu hari, datanglah dua pengukir. Satu mengukir ikan kayu yang bisa bernyanyi, satu lagi mengukir burung merak emas yang bisa terbang. Indra ingin memegang burung merak itu. Tiba-tiba, burung merak menangkap Indra dan terbang! Raja dan Permaisuri sangat sedih. Di udara, burung merak melepaskan Indra di dekat rumah Nenek. Nenek sangat senang melihat Indra. Ia merawat Indra dengan penuh kasih sayang. Indra juga sayang Nenek dan selalu menemaninya menanam bunga. Suatu hari, Nenek dan Indra menjual bunga di dekat rumah Menteri. Menteri sangat suka Indra dan ingin membawanya. Nenek sedih, tapi mengizinkan. Lalu, Raja sakit parah. Semua orang takut mencari obatnya. Indra punya sepatu ajaib! Sepatu itu bisa membawanya terbang ke mana saja! Dengan sepatu ajaib itu, Indra terbang mencari obat. Ia melewati gunung tinggi dan sungai lebar. Akhirnya, Indra menemukan obatnya! Raja sembuh...

Wau Ajaib dan Cendawan Keberuntungan

Di sebuah desa yang indah, hiduplah seorang gadis bersama tujuh kakak perempuannya. Suatu hari, datanglah seorang pemuda meminang anak sulungnya. Gadis itu menolak, “Aku belum siap!” Begitulah yang terjadi pada kakak-kakak lainnya. Mereka semua menolak. Ibu menyuruh anak-anaknya belajar membuat kue untuk dijual. Tapi, mereka semua malas dan mengeluh. “Kami tak mau!” kata mereka. Si Adik membela ibunya, “Aku akan bantu, Ibu!” Lalu, para kakak pergi dengan kesal. Tak lama kemudian, Ibu sakit. Sebelum berpulang, Ibu berpesan, “Anak-anak, kuburkan Ibu di belakang rumah. Jika tumbuh sesuatu di atas kubur Ibu, ambil dan taburkan di dapur, di bawah rumah, dan di dalam rumah.” Setelah Ibu tiada, Si Adik menguburkan Ibu di belakang rumah. Lalu, Si Adik menemukan sebuah Wau (layang-layang) ajaib yang bisa mengeluarkan cendawan keberuntungan! Si Adik terbangkan Wau itu di atas kubur Ibu. Ajaibnya, cendawan tumbuh dengan cepat! Si Adik mengutip cendawan itu dan menaburkannya di seluruh rumah. Kees...

Kapak Ajaib dan Pohon Permen

Dali dan Budin adalah sahabat baik. Suatu hari, Budin meminjam kapak Dali untuk menebang dahan di tepi sungai. Saat menebang, kapak itu terjatuh ke sungai! Budin sedih sekali. Tiba-tiba, muncul seorang lelaki tua. Budin menceritakan masalahnya. Lelaki tua itu menyelam dan mengangkat kapak emas berkilauan! “Ini kapakmu?” tanya lelaki tua itu. “Bukan, kapak saya kapak besi,” jawab Budin jujur. Lelaki tua itu menyelam lagi, membawa dua kapak: emas dan besi. Budin menunjuk kapak besinya. “Ambillah juga kapak emas ini, karena kamu anak yang jujur!” kata lelaki tua itu. Lalu, lelaki tua itu memberikan Budin sebuah sepatu ajaib yang bisa terbang! Budin berterima kasih dan pulang. Di rumah, Dali dengar cerita itu dan jadi iri. Keesokan harinya, Dali pura-pura menebang dahan, lalu menjatuhkan kapaknya ke sungai. Dia menangis. Lelaki tua muncul lagi. Dali berbohong, “Ini bukan kapak saya! Kalau tidak dikembalikan, saya kena denda!” Lelaki tua itu menyelam dan mengangkat kapak emas. Dali langsung...

Puteri dan Sepatu Ajaib

Di Negeri Indera Pencala, hiduplah Sultan Maulana. Sultan Maulana mempunyai anak perempuan bernama Puteri Jarum Emas. Suatu hari, datanglah utusan dari Benua Keling, ingin meminang Puteri Jarum Emas. Jika ditolak, negeri Indera Pencala akan diserang! Puteri Jarum Emas berkata, “Jemputlah ayahanda dan bonda. Terima pinangannya, tapi ada syarat! Pertama, putera raja harus datang sendiri dengan bahtera. Kedua, bahtera harus berlabuh di tengah lautan. Ketiga, bawa sepuluh peti jarum emas. Keempat, semua jarum harus dihitung. Kelima, jika ada jarum yang patah, pernikahan dibatalkan. Keenam, putera raja harus datang dalam sepurnama.” Puteri Jarum Emas memiliki sepasang sepatu ajaib yang bisa membuat benda menghilang! Setelah sepurnama, bahtera putera raja tiba. Jarum emas dihitung, tapi sangat banyak. Puteri Jarum Emas diam-diam memakai sepatu ajaibnya, dan *poof!* Jarum-jarum emas itu menghilang! Lautan bergelora, bahtera terombang-ambing. Putera raja memerintahkan bahtera kembali. Sultan M...

Kura-kura dan Pohon Permata

Dahulu kala, Sungai Gemerlap kering. Semua binatang risau! Tapi Kura-kura Bijak tetap berjalan perlahan di tepi sungai. Terjatuhlah Kura-kura Bijak ke dalam lubang yang dalam! “Tolong!” jeritnya, tapi tak ada yang dengar. “Kamu buat apa di dalam lubang?” tanya Kijang Cepat yang datang. “Aku sedang makan Hati Tanah,” balas Kura-kura Bijak. Kijang Cepat bingung! Dia memanggil Rusa Kuat, Beruang Besar, Kancil Pintar, Arnab Lincah, Harimau Perkasa, dan Babi Lucu. Mereka semua terjatuh ke dalam lubang! Di dalam lubang, mereka mencari Hati Tanah. Kura-kura Bijak punya sepatu ajaib! Sepatu itu bisa terbang! Dia bilang, “Aku terbang ke atas, kalian berpegangan erat!” Kura-kura Bijak terbang membawa semua binatang keluar dari lubang. Tiba-tiba, langit mendung! Hujan turun! Tapi ada juga Pohon Permata yang muncul! Pohon itu mengeluarkan permen dan buah-buahan! Sungai Gemerlap kembali mengalir. Semua binatang senang! Mereka makan permen dan buah dari Pohon Permata, lalu bermain di tepi sungai yan...

Pak Cik Labu dan Pokok Permata Ajaib

Pak Cik Labu dan isteri baharu kahwin, tinggal di kaki bukit. Suatu hari, Pak Cik Labu kata, “Saya nak pergi memancing di tepi tasik, biar dapat banyak ikan untuk kita!” Pak Cik Labu cuba dan cuba, tapi tak dapat ikan pun. Hari seterusnya pun sama. Tiba-tiba, mata kailnya disambar! Pak Cik Labu tarik kuat-kuat. Ternyata, seekor labi-labi kecil! “Lepaskan saya, Pak Cik Labu! Saya akan membalas budi kamu,” kata labi-labi itu. Tapi Pak Cik Labu tak percaya, dia pukul labi-labi itu dengan parang. Kasihan! Seketika, Pak Cik Labu rasa panas. Dia terjun ke dalam tasik. Tiba-tiba, dia melihat pokok ajaib di tepi tasik. Pokok itu mengeluarkan permata yang berkilauan! Pak Cik Labu menyentuh permata itu, dan tiba-tiba, dia berubah menjadi seekor labi-labi! Hanya kepalanya saja yang tinggal manusia. Isteri Pak Cik Labu terkejut melihat suaminya jadi labi-labi. Dia lari ke hutan, tinggalkan Pak Cik Labu keseorangan. Pak Cik Labu sangat menyesal, sebab dia tak dengar labi-labi yang baik hati itu. Se...

Bangau, Ketam dan Sepatu Ajaib

Bangau yang sudah tua duduk termenung di tepi kolam. Dahulu, dia pandai menangkap ikan, tetapi kini dia sudah lemah. Kalau tidak, dia akan kelaparan! Di dekat kolam itu, ada Ketam. Bangau menghampiri Ketam lalu berkata, “Ketam, tahukah kamu? Kolam ini akan kering tidak lama lagi. Aku sangat bimbangkan nasib ikan-ikan di dalam kolam. Khabarkan kepada mereka, jika mereka mahu, aku akan membawa mereka ke sungai berhampiran dengan Sepatu Ajaib yang bisa terbang. Di sana mereka tidak perlu bimbang lagi.” Ketam menyampaikan pesan bangau kepada semua ikan di kolam. Ikan-ikan bimbang dengan nasib mereka lalu bersetuju dengan cadangan bangau. Bangau memakai Sepatu Ajaib dan menerbangkan ikan seekor demi seekor ke sungai. Sepatu Ajaib itu membuatnya terbang dengan cepat dan aman, sehingga semua ikan sampai dengan selamat. Kali ini tiba giliran bangau membawa ketam. Ketam lalu berpaut pada leher bangau dan terbang. Dari jauh, ketam dapat melihat sungai yang indah dan ikan-ikan yang berenang denga...

Pohon Permen Ajaib

Raja baru sahaja menaiki takhta. Dia memerintah negerinya dengan adil, tapi lama-lama dia tak mahu makan. Bendahara berkata, “Tuanku, izinkan patik mencari tukang masak yang paling handal untuk tuanku.” Seorang tukang masak dibawa ke istana dan diminta menyediakan santapan yang lazat untuk raja. Malangnya apabila masakannya dihidangkan kepada raja, baginda hanya menyuap secubit sahaja. Seorang khadam istana lalu menghadap raja. “Ampun tuanku, patik tahu bagaimana hendak mengembalikan selera tuanku.” Tetapi, Tuan Bendahara hendaklah menyediakan patik dua bungkus nasi berlaukkan ikan kering dan bekalan air yang secukupnya. Khadam mengajak raja ke taman istana. Di sana, ada sebuah Pohon Permen Ajaib! Khadam menyuruh raja memetik buah permelnya. Raja memetik buah permen rasa strawberry, blueberry, dan coklat. Dia makan dengan gembira! “Selera sungguh hamba melihat tuanku makan,” kata khadam. “Benar kata kamu, wahai khadam! Sekarang beta kembali berselera. Kamu sangat bijak! Marilah kita ke...

Wau Ajaib dan Pohon Berdarah

Di sebuah desa yang tenang, hiduplah dua anak laki-laki, Emir dan Faris. Mereka suka sekali bermain wau (layang-layang). Suatu hari, mereka pergi ke hutan untuk mencari tempat yang bagus untuk menerbangkan wau mereka, tetapi mereka tersesat. Mereka mengembara selama tiga hari. Pada hari keempat, mereka menemukan dua pohon kayu kembar yang tampak seperti perempuan. Tiba-tiba, wau mereka yang terbuat dari kertas ajaib bersinar terang. Wau itu berkata, “Tebanglah pohon itu, Emir dan Faris! Di balik pohon itu, ada rahasia!” Emir dan Faris ragu-ragu, tetapi mereka mengikuti perintah wau ajaib itu. Ketika mereka menebang pohon itu, darah berwarna pelangi mengalir keluar! Pohon itu berubah menjadi dua peri cantik yang terkurung dalam bentuk pohon oleh penyihir jahat. “Terima kasih telah membebaskan kami!” kata salah satu peri. “Sebagai balasannya, kami akan memberikan kalian kekuatan untuk terbang seperti wau kalian!” Emir dan Faris sangat gembira. Mereka terbang bersama peri dan wau ajaib me...

Seri Menanti dan Sepatu Ajaib

Datuk Lela ingin mengembara. Dia mengajak anaknya, sahabat anaknya, dua orang lelaki dari Tanah Melayu, dan dua orang lelaki dari perkampungan Tok Batin. Sebelum berangkat, dia mendapatkan Sepatu Ajaib yang bisa membawa mereka ke mana saja! Mereka mengembara sampai ke sebuah rumah di ujung kampung. Rumah itu milik seorang wanita bernama Seri. Datuk Lela memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan perjalanan mereka. Seri dengan senang hati mengundang mereka bermalam. Pagi harinya, ketujuh-tujuh pengembara mengucapkan terima kasih kepada Seri dan melanjutkan perjalanan dengan Sepatu Ajaib. Di tengah jalan, Datuk Lela teringat pedangnya tertinggal di rumah Seri. Dia ingin kembali, tapi Sepatu Ajaib tidak bisa terbang ke belakang! Dia mencoba meminta Seri menjadi istrinya, tetapi Seri menjawab, “Aku sedang menunggu suamiku kembali.” Teman-temannya juga mencoba, tapi Seri tetap menjawab sama. Mereka sedih, tapi Sepatu Ajaib tiba-tiba bersinar terang! Sepatu itu membawa mereka ke tepi pantai....

Perahu Emas dan Air Mata Bintang

Ada sebuah perahu bunga emas yang besar, penuh harta karun, hendak dihantar kepada Raja. Kononnya di dalam perahu itu ada banyak emas berkilauan. Perahu itu tenggelam di Pangkalan Panambang, bukan sembarangan tenggelam, tetapi kerana sebuah sihir! Seorang wali yang baik hati tinggal di situ. Dia sedih melihat pembesar yang jahat memaksa rakyat bekerja siang malam, merampas semua hasil penat lelah mereka. Rakyat sangat menderita. Wali itu pergi ke rumah pembesar, meminta semua harta itu dipulangkan. Tetapi pembesar itu bukan sahaja tidak mahu, malah menghina dan mengusir wali itu keluar, sambil pengikutnya menendang wali. Wali itu berasa amat sedih dan hatinya hancur. Dia mengeluarkan sebotol kecil "Air Mata Bintang" yang berkilauan. "Harta yang dicuri ini tidak akan sampai ke tangan raja yang tidak tahu menahu. Dengan kuasa Air Mata Bintang, perahu ini akan lenyap bersama semua hartanya!" kata wali sambil menitiskan Air Mata Bintang ke laut. Sekelip mata, perahu bun...

Jasa dan Buah Hati Ajaib

Jasa ialah seorang budak lelaki yang patuh dan sangat menyayangi ibu bapanya. Mereka hidup bahagia. Tapi, satu hari, bapa Jasa telah pergi ke syurga. Jasa dan ibunya tinggal berdua, sering rindu bapa. Tidak lama selepas itu, sebuah peperangan tiba-tiba berlaku. Jasa dan ibunya terpaksa melarikan diri ke dalam hutan tebal untuk bersembunyi. Di tengah hutan, Jasa terpandang sebatang Pokok Buah Hati yang luar biasa. Buahnya berwarna merah jambu dan bercahaya lembut, seolah-olah berdenyut dengan kasih sayang! Jasa berasa sangat kagum lalu memanjatnya. Dia memetik buah yang paling bersinar terang untuk ibunya, dan buah yang sedikit redup untuk dirinya. Dalam perjalanan pulang kepada ibunya, Jasa terserempak dengan sekumpulan perompak yang garang. Perompak-perompak itu menangkap Jasa lalu menariknya ke tepi semak. “Apa yang kamu buat di sini, budak kecil?” tanya ketua perompak dengan suara kasar. “Saya cari buah untuk ibu saya yang sedang bersedih. Kami tiada makanan,” jawab Jasa. “Kenapa ka...

Rahsia Cermin Ajaib Pak Belalang

Di sebuah kampung lama, tinggal seorang petani bernama Pak Belalang dengan anak lelakinya, Belalang. Pak Belalang ini rajinnya ikut mood, kadang-kadang je rajin. Suatu hari, Belalang jumpa sebuah Cermin Ajaib yang bersinar-sinar di tepi perigi usang. Cermin itu hanya akan menunjukkan rahsia bila tuannya dalam masalah besar. Pak Belalang yang malas itu, seperti biasa, suruh Belalang sorokkan dua ekor kambing biri-biri di belakang reban ayam. “Nanti kalau ada orang cari, cakap Ayah pandai menilik!” katanya. Belalang pun ikut. Petang itu, kecohlah tuan kambing mencari haiwan mereka. Belalang hantar mereka jumpa Ayahnya. Pak Belalang, sambil membelek-belek Cermin Ajaib (pura-pura menilik), berkata, “Kambing kamu ada di belakang reban ayam itu!” Berita tentang Pak Belalang pandai menilik tersebar ke serata negeri. Raja pun memanggil Pak Belalang ke istana. “Wahai Pak Belalang, cuba teka apa yang ada dalam genggaman beta ini? Kalau silap, hrmmm…” Raja mengugut. Pak Belalang ketakutan, dia ce...

Bayoh dan Pokok Buah Emas

Di Kampung Saradan, tinggallah Bayoh dan suaminya, Gala, bersama dua anak mereka. Mereka mencari rezeki dengan bersawah padi. Gala pada mulanya seorang yang sangat rajin. Tetapi suatu hari, Gala berubah sikap. Dia tidak lagi turun ke sawah seperti biasa. Dia asyik tidur di rumah, atau pergi ke pekan dan pulang lewat malam dalam keadaan mabuk. Tinggallah Bayoh seorang diri yang berhempas pulas mengerjakan sawah. Apabila musim menuai tiba, Bayoh mengajak suaminya menuai padi. Namun suaminya tidak mahu dan menengking Bayoh. Bayoh ketakutan. Dia pun menuai padi seorang diri. Bayoh menyimpan padi-padi yang dituainya. Namun suatu hari, dia mendapati padi-padinya sudah tiada. Anak-anaknya memberitahu bapa mereka telah membawa padi-padi itu ke pekan. Lewat malam, Gala pulang dalam keadaan mabuk. Bayoh bertanya, "Mana hasilnya engkau menjual padi-padi itu?" "Wangnya sudah habis," balas Gala. Gala merayu supaya Bayoh memaafkannya, berjanji akan berubah. Tetapi janji itu tidak...

Teko Ajaib Emas Puan Kiah

Di sebuah perkampungan terpencil, tinggal Puan Kiah dan dua anak perempuannya. Mereka sangat miskin, selalu kelaparan kerana tiada makanan. Suatu hari, Puan Kiah berjumpa seorang pari-pari tua. Pari-pari itu kasihan lalu memberinya sebuah Teko Ajaib Emas. "Setiap hari, teko ini akan tuangkan satu hidangan makanan paling sedap untuk kamu sekeluarga. Hargailah ya," kata pari-pari itu. Sejak hari itu, setiap pagi, Teko Ajaib Emas akan menuangkan hidangan yang lazat. Keluarga Puan Kiah tidak lagi kelaparan. Mereka hidup senang. Tapi, perasaan tamak mula datang dalam hati Puan Kiah. Suatu hari, Puan Kiah berkata kepada anak-anaknya, "Ibu mahu teko ini tuangkan semua makanan yang ia ada! Kita tak boleh percaya padanya. Nanti ia tak tuang lagi, macam mana?" "Ibu, janganlah begitu. Teko ajaib itu sudah banyak tolong kita," kata anak sulungnya. Puan Kiah tidak peduli. Apabila dia cuba menyuruh teko itu menuangkan lebih banyak, Puan Kiah terus menggoncang teko itu d...

Bulu Pelangi Ajaib Cici

Dahulu kala di ladang yang ajaib, ada anak ayam bernama Cici. Dia selalu mencari biji-bijian di tanah dekat reban saja. Dia ingin sangat melihat dunia di luar pagar, tetapi tak boleh terbang. Kawan baiknya, Pak Jago, ayam jantan yang bijak, pernah terbang jauh. Pak Jago menegur Cici, “Cici, kamu asyik cari makan di sini. Jomlah ikut Pak Jago lihat dunia luas!” “Macam mana nak ikut, Pak Jago? Cici tak boleh terbang,” kata Cici. Pak Jago beritahu, dulu dia pun tak boleh terbang tinggi. Dia hanya dapat terbang setelah kepaknya disentuh dengan sehelai Bulu Pelangi yang ajaib. Bulu itu cuma ada satu! Cici ingin meminjamnya. Akhirnya Pak Jago setuju. Cici yang sangat teruja segera cuba menyentuh Bulu Pelangi pada sayap kecilnya. Tiba-tiba, Bulu Pelangi terlepas dari paruhnya lalu hilang dalam longgokan jerami dan tanah! Dia mencari bulu itu dengan mengais-ngais. Namun Bulu Pelangi itu tak juga ditemui. “Maafkan Cici, Pak Jago. Bulu Pelangi kamu hilang,” kata Cici sedih. Tiba-tiba, Bulu Pelan...

Cermin Ajaib Putera Indera Sakti

Penduduk Kampung Hulu Sungai hidup aman, sehinggalah Sang Gedembai muncul. Dia besar dan garang, suka sumpah orang jadi batu. Semua orang kampung takut dan lari. Akibatnya, ramai jadi patung batu. Tuk Sali, penghulu kampung, mahu hentikan Sang Gedembai. "Sang Gedembai, pergilah dari sini!" Tapi Sang Gedembai marah, terus sumpah Tuk Sali jadi batu juga. Seminggu kemudian, Sang Gedembai kacau majlis kahwin. Dia sumpah pengantin jadi batu. Jalal, anak Tuk Sali, sedih dan ajak orang kampung lawan. Tiba-tiba, Putera Indera Sakti dari negeri Panca Persada muncul. Di tangannya ada "Cermin Ajaib Pantulan Hati". Putera kata, "Cermin ini boleh tunjuk hati sebenar dan memantulkan niat jahat!" Putera Indera Sakti berdepan Sang Gedembai. Sang Gedembai cuba sumpah putera jadi batu, tapi sumpahannya tak jadi! Putera terus halakan Cermin Ajaib Pantulan Hati ke arah Sang Gedembai. Dalam cermin itu, Sang Gedembai nampak dirinya yang bengis dan hati yang hitam. Dia terkejut ...

Ayunan Berlagu Ajaib Bawang Putih

Bawang Putih dan Bawang Merah ialah adik-beradik tiri. Mereka sangat berbeza. Bawang Putih baik hati dan rajin. Bawang Merah pula suka marah dan malas. Selepas ibu dan ayah kandungnya meninggal dunia, Bawang Putih tinggal dengan Mak Cik Kundur dan Bawang Merah. Dia selalu rasa sedih. Pada suatu hari, Bawang Putih bermain di sebuah buaian lama di belakang rumah. Buaian itu nampak biasa, tapi sebenarnya ia 'Ayunan Berlagu Ajaib'! Bila orang yang baik hati duduk di atasnya dan menyanyi, buaian itu akan menguatkan dan memperindahkan suara mereka menjadi sungguh merdu. Bawang Putih duduk dan menyanyi. Suaranya menjadi sangat, sangat indah, bergema di seluruh kampung! Seorang Putera Raja yang sedang berburu terdengar suara itu. "Wah, merdunya!" kata Putera. Baginda dan pengiringnya mengekori suara itu ke rumah Bawang Putih. Putera Raja meminta Mak Cik Kundur membawa gadis bersuara merdu itu ke buaian ajaib esok. Esoknya, Mak Cik Kundur membawa Bawang Merah ke buaian itu. ...

Pak Kadok dan Kanta Mata Ajaib

Di negeri Chempaka Sari, Raja Indera Sari suka menyabung ayam. Rakyatnya juga suka. Ada seorang bernama Pak Kadok, dia agak lurus bendul. Suatu hari, Pak Kadok ingin ayamnya, Biring Si Kunani, menang. Dia pun bercadang menewaskan lawannya. Pada malam sebelum pertandingan, Pak Kadok menjumpai sepasang kanta mata berkilat di bawah pokok. Ia Kanta Mata Ajaib! Bila dipakai, ia boleh melihat masa depan untuk seketika. Di gelanggang sabung ayam, Raja Indera Sari tertarik pada Biring Si Kunani Pak Kadok. "Pak Kadok, bolehkah kita bertukar ayam sebelum bermula?" titah baginda. Pak Kadok hampir sahaja setuju. Tiba-tiba, dia teringat Kanta Mata Ajaibnya. Dia memakainya senyap-senyap. Sekelip mata, dia melihat masa depan: dia bertukar ayam, ayamnya menang, dia melompat gembira sehingga baju kertasnya koyak, dan dia malu telanjang di depan semua orang! Pak Kadok cepat-cepat menanggalkan kanta itu. "Ampun Tuanku, patik tidak dapat bertukar ayam," jawab Pak Kadok dengan hormat. R...

Kampung Merbau Sakti

Dahulu, sekumpulan pemuda gagah suka mengembara, diketuai Batin yang berani. Dari Gunung Datuk, mereka sepakat turun mencari kawasan baru. Pelbagai rintangan dilalui, sungai deras dan hutan tebal, namun mereka cekal dan berjaya mengatasinya. Akhirnya, mereka tiba di sebuah kawasan rata. Batin mengajak mereka berehat sebentar. Ketika berehat, mata mereka tertumpu pada sebatang pokok kayu merbau yang tinggi dan sangat kuat! “Kita bina perkampungan di sini!” cadang Batin. Mereka mula berganding bahu cuba menebang pokok merbau itu. Tetapi, pokok itu langsung tidak bergerak, terlalu kukuh! Tiba-tiba, seorang pemuda terjumpa sebatang kapak lama yang bersinar di bawah akar pokok. “Ini Kapak Sakti!” jeritnya. Dengan Kapak Sakti itu, Batin mencuba menebang. ZZUUUP! Dengan sekali ayunan, pokok itu tumbang perlahan-lahan. Semua bersorak gembira! Mereka pun membina perkampungan dan menamakannya Kampung Merbau Sakti, yang kemudiannya dikenali sebagai Kampung Rembau. Penulis: CKK2 Penerbi...

Si Dogol, Wisel Ajaib dan Monyet

Si Dogol ialah penjual cepiau dari Melaka. Dia menjual cepiau di pekan. Setiap hari dia akan membawa dua bakul cepiau. Untuk sampai ke pekan, dia perlu melalui kawasan hutan. Tetapi, kali ini dia membawa Wisel Ajaib pemberian datuknya. Setelah jauh berjalan, Si Dogol berasa sangat letih lalu berehat dan tertidur di bawah sebatang pokok. Di hutan itu terdapat banyak monyet nakal. Seekor monyet terlihat Si Dogol memakai cepiau dan membawa pelbagai jenis cepiau. Monyet itu pun mengambil cepiau Si Dogol lalu memakainya. Monyet-monyet yang lain segera turun dari pokok dan mengambil cepiau di dalam bakul lalu memakainya. Bunyi bising monyet mengejutkan Si Dogol daripada tidurnya. Dia melihat monyet-monyet di atas pokok memakai cepiaunya. Si Dogol teringat akan Wisel Ajaibnya. Dia meniup wisel itu, "Fuit! Fuit!" Tiba-tiba, monyet-monyet itu berhenti. Wisel ajaib itu membuatkan mereka mendengar arahan Si Dogol! Si Dogol berkata, "Monyet-monyet yang baik, sila baling cepiau itu k...

Ali dan Cermin Mata Ajaib

Di sebuah rumah yang ceria, tinggal seorang budak bernama Ali. Ali pandai tapi suka bermain, kadang-kadang punya terlalu banyak idea di kepala sampai rasa pening! Perutnya sentiasa 'kenyang' dengan makanan dan idea. Suatu hari, Ali dijemput untuk dua pertandingan penting serentak: melukis di sekolah dan membina robot di pusat komuniti. Kedua-dua acara pada waktu yang sama! Keesokan hari, Ali memikirkan. Dia ingin menang kedua-duanya! Tiba-tiba, dia teringat Cermin Mata Ajaib datuknya. Apabila Ali memakainya, dia boleh mencipta 'kembar' dirinya sendiri untuk membantu! Ali mendapat akal. Dia memakai cermin mata itu dan muncul dua Ali lain, Ali Sains dan Ali Seni. Ali 'asal' mengikat seutas benang sihir pada pinggangnya, lalu memberikan hujung benang itu kepada Ali Sains dan Ali Seni. “Sesiapa yang ada masalah atau perlukan idea, tarik benang ini. Aku akan bantu!” kata Ali 'asal' kepada dua kembarannya. Kedua-dua Ali Sains dan Ali Seni pun mula bekerja. Apa...

Loket Ajaib Sang Gedembai

Anak Sang Gedembai meninggal dunia dihimpap pokok besar. Dia pun membawa hati yang lara jauh ke dalam hutan yang gelap. Di lehernya tergantung loket kecil yang anaknya pernah beri sebagai hadiah. Di dalam hutan itu, ada sekumpulan gajah yang sangat suka bercerita dan mengumpat tentang haiwan lain. Mereka nampak Sang Gedembai menangis. "Eh, kenapa sedih sangat? Anak kamu yang mati, bukan kamu!" kata mereka sambil ketawa mengejek. Hati Sang Gedembai sangat sakit dan marah. Dia memegang loketnya erat-erat. Tiba-tiba, loket itu bersinar terang! Cahaya itu membalut gajah-gajah. Serta-merta, semua gajah itu bertukar menjadi batu keras. Loket ajaib telah menunaikan hajatnya. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Sihir Bintang Penjaga

Di dua kampung yang cantik, Pasir Kuning dan Pasir Putih, tinggallah dua sepupu puteri yang sangat rupawan, Puteri Santubong dan Puteri Sejinjang. Mereka anak dewa dari kayangan, ditugaskan membawa keamanan. Suatu hari, datanglah Putera Serapi yang gagah dari Matang. Dia ingin melihat kehebatan kedua-dua puteri itu. Santubong dan Sejinjang, kedua-duanya ingin menawan hati putera. Maka, perasaan cemburu pun mula berputik. Mereka mula berdebat, dan sedikit demi sedikit, kuasa sakti mereka mula terpancar. Hujan lebat turun, kilat sabung-menyabung. Tiba-tiba, sebiji Bintang Penjaga yang bersinar-sinar turun dari langit. Bintang itu bersuara lembut, "Wahai puteri-puteri jelita, kekuatan sebenar bukan pada kecantikan atau kuasa, tetapi pada hati yang ikhlas dan sudi berkongsi." Bintang Penjaga itu memancarkan cahaya yang menunjukkan Putera Serapi menghargai kebaikan Santubong dan kebijaksanaan Sejinjang. Dia tidak mahu mereka bertanding, sebaliknya bersatu. Puteri-puteri itu tersed...

Cincin Ajaib Pangeran Biawak

Pada zaman dahulu kala, ada sepasang suami isteri yang sangat merindukan kehadiran anak. Suatu hari, ketika mereka berjalan-jalan di hutan, mereka terjumpa sebatang pokok yang aneh. Di akarnya, terselit sebentuk cincin yang bersinar-sinar! Mereka menyimpan cincin itu. Beberapa hari kemudian, seekor biawak melintas di hadapan mereka. Si suami berkata, “Alangkah bertuahnya jika kami dapat anak, walau seekor biawak.” Setelah beberapa hari, si isteri pun hamil. Selepas sembilan bulan, si isteri selamat melahirkan seekor biawak! Pasangan itu sangat mengasihi anak mereka. Ajaibnya, biawak itu boleh bercakap seperti manusia, dan cincin ajaib itu selalu bersamanya. Suatu hari, Biawak mendengar khabar bahawa Puteri Bongsu sedang mencari jodoh. Hatinya tertarik! Dia beritahu ibunya. “Berat syaratnya, anakku. Jika kamu mahu mengahwini Puteri Bongsu, kamu mesti membina jambatan dari rumah kita ke istana dalam masa satu malam,” kata ibunya. Biawak pun menyarungkan cincin ajaibnya dan dengan penuh k...

Bangau dan Cermin Ajaib

Pada hari istimewa pemerintahan Raja Sulaiman, baginda memanggil semua burung. "Beta gembira sangat! Kamu mintalah apa sahaja, beta akan tunaikan!" titah Raja. Semua burung riang gembira, kecuali Bangau yang sombong. Dia masih fikir apa nak minta. Raja Sulaiman bertanya, "Bangau, kamu tak mahu apa-apa?" Bangau mendabik dada. "Tuanku, patik hanya mahu makan tujuh hari sekali!" Dia silap, sebenarnya dia nak makan tujuh kali sehari. Keesokan harinya, Bangau pergi mencari ikan. Susah sangat! Tujuh hari baru dapat seekor ikan. Bangau jadi kurus dan lapar. "Kenapalah aku susah dapat makan?" dia merungut. Sedang Bangau termenung di tepi tasik, dia ternampak sebuah Cermin Ajaib yang bersinar-sinar. Apabila Bangau melihat ke dalamnya, cermin itu memaparkan apa yang dia ucapkan: "Makan tujuh hari sekali" dan juga apa yang dia maksudkan: "Makan tujuh kali sehari". Cermin itu turut menunjukkan muka Bangau yang sombong. Bangau terkejut! ...

Monyet Cerdik dan Batu Jantung Persahabatan

Dahulu kala, Monyet Cerdik dan Kura-kura Lambat adalah sahabat. Monyet tinggal di pokok jambu air ajaib tepi sungai, dan Kura-kura di dalamnya. Setiap hari, Monyet membaling jambu air yang berkilau untuk Kura-kura. Monyet juga ada sebutir "Batu Jantung Persahabatan" yang bisa terbang. Satu hari, Kura-kura murung. Isterinya sakit. Bomoh Buaya kata ubatnya ialah 'hati' monyet yang berani. Kura-kura menegur, "Monyet Cerdik! Nak tak makan pisang emas di seberang sana? Naiklah belakang saya, saya bawa!" Monyet Cerdik, yang suka berpetualang, pun melompat naik. Di tengah sungai, Kura-kura Lambat berkata, "Sebenarnya Monyet, saya perlukan hati kamu untuk isteri saya!" Tiba-tiba, Batu Jantung Persahabatan di leher Monyet Cerdik berdenyut kuat dan bersinar terang. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Monyet. Monyet tersenyum licik. "Oh, Kura-kura! Hati saya itu saya tinggalkan di pokok jambu air! Ia sangat istimewa dan tidak boleh dibawa merata-rata tanpa...

Tali Pinggang Ajaib Semut Kerengga

Pada suatu ketika dahulu, negeri Semut Kerengga Cilik dilanda banjir yang sangat besar. Air naik tinggi, menenggelamkan sarang mereka. Semua Semut Kerengga Cilik berkumpul di Balai Istana Raja Semut Kerengga. Mereka perlu mencari jalan untuk selamat. Setelah berbincang, mereka memutuskan untuk berpindah ke dahan-dahan pokok yang tinggi. Di sana mereka selamat dari banjir. Namun, masalah baru timbul: kelaparan. Makanan tiada. Banyak Semut Kerengga Cilik menjadi lemah. Raja Semut Kerengga sangat bersedih. Tiba-tiba, seorang Semut Bijak datang membawa sesuatu. “Tuanku Raja, hamba telah menemui Tali Pinggang Ajaib ini! Apabila diikat, ia akan membuat kita berasa kenyang dan bertenaga!” Raja Semut Kerengga memerintahkan semua rakyat memakai tali pinggang ajaib itu. Dengan segera, semua Semut Kerengga Cilik mengikat pinggang mereka dengan tali ajaib itu. Ajaibnya, mereka langsung tidak berasa lapar lagi! Mereka menjadi kuat semula. Setelah banjir surut, mereka pun dapat mencari makanan seper...

Laila dan Kasut Terbang Ajaib

Di sebuah rumah kecil yang comel, tinggal seorang budak perempuan bernama Laila. Dia sangat ceria dan suka membantu. Suatu pagi, Laila mendapat tiga tugas penting: tolong Nenek buat kuih, tolong Ibu sidai baju, dan tolong Ayah siram pokok bunga. Laila menggaru kepalanya. "Aduh, macam mana ni? Nenek nak guna Laila di dapur, Ibu nak Laila di luar, Ayah pula di kebun! Laila nak tolong semua!" Dia berasa risau. Tiba-tiba, Laila ternampak sepasang kasut lama di bawah katilnya. Kasut itu berkilau-kilau. "Ini Kasut Terbang Ajaib!" kata Laila, teringat cerita Nenek. Dia pun memakai kasut itu. "Kasut, Kasut, cepatkanlah masa Laila!" Laila terbang laju ke rumah Nenek. Dia bantu Nenek menguli tepung dan membentuk kuih-muih. "Wah, lajunya Laila tolong Nenek hari ini!" kata Nenek gembira. Laila senyum. Apabila selesai, dia terbang pula ke halaman rumahnya. Dengan pantas, dia membantu Ibu menyidai semua baju yang banyak itu. "Terima kasih Laila, cepatnya ...

Ciko dan Tulang Berkilauan Ajaib

Pada suatu hari, Ciko si anjing berasa sangat lapar. Sudah lama dia merayau mencari makanan. "Kruuuk!" perutnya berbunyi. Tiba-tiba, Ciko teringat akan Kedai Daging Pak Samad. Mungkin ada tulang! Ciko pun segera berlari ke sana. Apabila Pak Samad sibuk melayan pelanggan, Ciko pantas melompat dan menyambar sebuku tulang besar. Tulang itu berkilauan! "Anjing nakal! Berani kau mencuri!" teriak Pak Samad. Tapi Ciko sangat pantas berlari. Ciko terus berlari sehingga tiba di sebatang sungai. "Fuh, selamat!" fikir Ciko. Ada sebuah titi kayu untuk menyeberang. Ciko berjalan perlahan di atas titi, sambil menggonggong tulang berkilauan itu. Tiba-tiba, tulang itu berbisik, "Ciko, jangan tamak, pandanglah ke bawah dengan bijak!" Ciko menjenguk ke dalam sungai. Alangkah terkejutnya dia melihat seekor anjing lain sedang menggonggong tulang yang lebih besar! Ciko tidak tahu itu cuma bayang-bayangnya. Dia mula membuka mulut untuk menyalak. Tapi tulang ajaib itu ...

Rahsia Periuk Ajaib Ingatan

Pada suatu masa dahulu, tinggallah Mak Jah bersama dua orang anaknya, Siti dan Ali. Suatu hari, Mak Jah pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Dia berasa sangat gembira apabila dapat menangkap seekor ikan tembakul yang bersinar-sinar. Dia memang sangat teringin makan telur ikan tembakul istimewa itu. Dia memberikan ikan itu kepada Siti lalu berkata, “Siti, masaklah gulai ikan tembakul ini bersama telurnya sekali. Emak hendak makan telurnya.” Kemudian, dia keluar ke kebun untuk mengambil sayur. Siti memasukkan ikan itu ke dalam “Periuk Ajaib Ingatan” yang sentiasa bercahaya. Selepas siap memasak gulai, Siti menyimpan separuh telur ikan tembakul untuk emaknya. Tiba-tiba, Ali yang lapar makan dengan gelojoh sekali. Dia sudah tiga kali mendambah. Apabila habis, dia meminta pula telur yang disimpan oleh kakaknya. Dia beria-ia menangis. Periuk Ajaib Ingatan bersuara, “Jangan lupa Emak! Simpanlah untuknya!” Siti teringat lalu berkata, “Tidak boleh, Ali. Ini untuk Emak.” Tidak lama kemudian, Ma...

Mat Jenin dan Kasut Terbang Ajaib

Mat Jenin, seorang pemuda yatim piatu yang suka sangat berangan-angan, hidup sebatang kara di sebuah pondok kecil. Setiap hari, kepalanya penuh dengan impian-impian indah. Suatu pagi, perutnya berbunyi "kruk kruk". "Aduh, laparnya!" keluh Mat Jenin. Dia pun mencari sesuatu untuk dimakan. Tiba-tiba, di bawah katilnya yang usang, dia ternampak sepasang kasut but lama yang berdebu. Mat Jenin mengeluarkannya, dan "Zap!" kasut itu bercahaya dengan kilauan magis! "Wah! Kasut apa ini?" Dengan rasa ingin tahu, dia menyarungkan kasut itu. "Sst... sst..." Tiba-tiba kakinya terangkat, dan Mat Jenin mula terapung-apung di dalam pondok! "Ini kasut terbang ajaib!" bisiknya. Dengan kasut terbangnya, Mat Jenin pun melayang keluar dari pondok. Dia teringat dia lapar dan perlu mencari kerja. Sedang dia terbang-terbang, dia ternampak seorang nenek tua di bawah, mendongak-dongak melihat buah kelapa di belakang rumahnya. "Hmm, Nenek tu nak ke...

Sang Kancil dan Seruling Ajaib

Pada suatu hari, Sang Kancil merayau-rayau di dalam hutan. Dia berasa dahaga lalu pergi ke sungai untuk minum. Ketika sedang minum, dia terpandang sepohon jambu air yang berbuah lebat dan masak ranum di seberang sungai. Sang Kancil mahu makan buah jambu air itu tetapi tidak tahu bagaimana hendak menyeberang sungai yang dipenuhi buaya ganas. Tiba-tiba, Sang Kancil ternampak sebatang seruling kecil berwarna-warni di atas sekuntum teratai. Seruling itu bercahaya lembut. Satu suara berbisik, “Tiup aku, Kancil yang pintar, dan semua akan menari mengikut iramamu!” Sang Kancil mengambil seruling ajaib itu dengan hati-hati. Dia meniupnya dengan perlahan. Alunan muzik yang manis kedengaran. Serta-merta, semua buaya di dalam sungai mula menggeliat-geliat! Mereka tidak dapat menahan diri dan mula beratur satu per satu, membentuk jambatan. Sang Kancil tersenyum gembira. Dia terus meniup seruling sambil melompat ke atas kepala setiap buaya itu dengan ringan. “Satu dua tiga, mari menari, empat lima ...

Sabun Ajaib Pak Pandir

Pak Pandir dan Mak Andeh ada anak lelaki yang kecil dan comel. Mereka sayang anak mereka sepenuh hati. Satu hari, Mak Andeh nak pergi lihat padi di huma. Sebelum pergi, dia berpesan pada Pak Pandir. “Pak Pandir, nanti kalau anak kita bangun, mandikan dia dengan air suam tau. Jangan air sejuk!” kata Mak Andeh sambil hulurkan seketul Sabun Berbuih Ajaib kepada Pak Pandir. “Sabun ini boleh bantu kamu!” Pak Pandir pun letak periuk di atas api, panaskan air. Dia biarkan air itu mendidih dan berasap tebal. Apabila anaknya terjaga, Pak Pandir dukung anaknya ke dapur. Dia ingat air itu sudah suam. Dia celup Sabun Berbuih Ajaib ke dalam periuk. Tiba-tiba, sabun itu bercahaya merah menyala! Pak Pandir terkejut besar! “Oh, mak ai! Panasnya air ini!” jeritnya. Dia cepat-cepat tuang air sejuk dari tempayan sehingga sabun itu bertukar warna menjadi biru lembut. Air pun menjadi suam-suam kuku yang sempurna. Anaknya pun ketawa riang dapat mandi air yang selesa. Mak Andeh pun pulang. Dia gembira meliha...

Puteri Selendang Pelindung

Dahulu kala, di sebuah kerajaan ajaib, hiduplah Puteri Seri Buana yang cantik tetapi sangat pemalu. Ayahnya, Sultan Zainudin Syah, risau apabila Puteri Seri Buana dewasa, dia selalu menolak pinangan putera raja lain. Suatu hari, datanglah seorang putera bernama Tengku Ludin. Wajah Tengku Ludin yang kasar itu membuat Puteri Seri Buana ketakutan. Puteri itu lari hingga ke tepi sungai. Tengku Ludin mengejarnya. “Alamak, apa yang patut saya buat?” fikir Puteri. Tiba-tiba, selendang sutera Puteri yang tersangkut pada dahan pokok ketapang bertukar menjadi Selendang Pelindung yang bersinar! Selendang itu berbisik, “Pakailah aku, tuan puteri. Aku boleh bawa kamu terbang jauh ke Istana Raja Gedembai.” Puteri Seri Buana memakai selendang itu, dan terus terbang melintasi sungai. Tengku Ludin terkejut, dia cuba mengejar tetapi tidak sempat. Selendang ajaib itu membawa Puteri ke istana Raja Gedembai yang terkenal dengan kuasa saktinya. Raja Gedembai sudah tahu cerita itu melalui sihirnya. Baginda m...

Si Luncai dan Labu Sakti

Si Luncai adalah seorang pemuda yang sangat suka bermain-main. Suatu hari, dia telah dijatuhkan hukuman oleh raja. Dia didapati bersalah kerana mempermain-mainkan raja serta pembesar-pembesar istana. Raja memerintahkan agar Si Luncai dihumban ke dalam laut. Tapi kali ini, seorang pari-pari telah memberinya hadiah rahsia: dua biji labu yang boleh bercahaya! Tiba-tiba, dari dalam guni, kedengaran suara Si Luncai menyanyi, “Si Luncai terjun dengan labu saktinya! Biarkan! Biarkan!” Orang-orang suruhan raja tertarik mendengarnya. Mereka terpegun melihat guni itu bersinar-sinar dari dalam. “Si Luncai terjun dengan labu saktinya!” Beberapa orang daripadanya pula menjawab, “Biarkan! Biarkan!” Mereka mengulangi lagu itu berulang-ulang kali sehingga semua terleka dan mata terpaku pada cahaya labu. Melihat semua sudah leka, Si Luncai pun keluar daripada guni. Dia mengisi guni itu dengan pasir supaya nampak berat. Kemudian, Si Luncai memegang dua biji labu saktinya yang bersinar-sinar. Labu itu bu...