Kancil dan Bunga Emas
Di sebuah hutan yang rimbun, hiduplah Kancil yang cerdik bersama dua anak perempuannya, Cempaka dan Melati. Cempaka berbulu gelap, sedangkan Melati berbulu kuning keemasan. Cempaka sangat iri dengan kecantikan Melati, jadi dia selalu melakukan pekerjaan rumah dengan susah payah.
Suatu hari, Melati pergi ke tepi sungai untuk mencuci pakaian. Tiba-tiba, muncul seekor Nenek Penyu tua meminta setetes air. Melati dengan senang hati memberikannya. Setelah minum, Nenek Penyu berkata, “Wahai Melati, kamu sangat baik hati. Mulai hari ini, setiap perkataan yang kamu ucapkan akan berubah menjadi butiran emas!”
Melati terkejut. “Benarkah, Nenek Penyu?” tanyanya. Seketika, tiga butir emas sebesar kacang panjang keluar dari mulutnya. Melati segera pulang dan menceritakan kejadian itu kepada ibu dan kakaknya. Berjatuhan butiran emas dari mulutnya. Ibunya sangat gembira dan menyuruh anak-anaknya mengumpulkan emas itu. Cempaka semakin iri pada Melati.
Keesokan harinya, Cempaka pergi ke tepi sungai, berharap bisa seperti Melati. Tiba-tiba, muncul seekor Tupai muda yang cantik meminta air. “Pergi sana! Aku tidak mau memberimu apa-apa!” bentak Cempaka. “Kamu memang jahat! Mulai hari ini, setiap perkataanmu akan berubah menjadi lipan bara!”
“Dasar kau!” teriak Cempaka. Seketika, tiga ekor lipan bara keluar dari mulutnya. Cempaka ketakutan dan berlari pulang. Di rumah, lipan bara berhamburan dari mulutnya saat dia menceritakan kejadian itu. Melati berkata mungkin Nenek Penyu menyamar sebagai Tupai. Dia mengajak kakaknya kembali ke tepi sungai untuk meminta pertolongan Nenek Penyu.
Di tepi sungai, Melati memanggil Nenek Penyu. Nenek Penyu muncul. Melati meminta Nenek Penyu menghentikan lipan bara keluar dari mulut kakaknya. Nenek Penyu setuju, tetapi dengan syarat Cempaka harus berhenti iri dan berbuat jahat pada siapapun. Cempaka setuju. Nenek Penyu memulihkan Cempaka. Sejak saat itu, tidak ada lagi lipan bara keluar dari mulutnya.
Penulis: CKK2
Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2
Ulasan
Catat Ulasan