Kancil dan Putri Bunga Raya
Di kampung Muara Kandungan, diadakanlah pernikahan Putri Bunga Raya, anak kepala kampung yang cantik jelita. Pesta pernikahan itu meriah sekali! Pada waktu senja, Putri Bunga Raya pergi ke tepi sungai untuk bermain. Aroma wangi tubuhnya menarik perhatian si Kancil yang licik tapi bijaksana. Kancil jatuh hati pada Putri Bunga Raya dan ingin menjadikannya teman bermainnya. Kancil lalu menghampiri Putri Bunga Raya.
Kampung menjadi heboh ketika Putri Bunga Raya menghilang di malam pertama pernikahannya. Kepala kampung meminta bantuan Pak Tua Pengetahu. Pak Tua Pengetahu berkata Putri Bunga Raya masih selamat. Hanya suaminya yang bisa menolongnya. Pak Tua Pengetahu berpesan kepada Ajai, suami Putri Bunga Raya, untuk menerima apa saja tawaran Kancil.
Ajai lalu melompat ke sungai dan bertemu Kancil. Dia meminta Putri Bunga Raya dikembalikan, tapi Kancil menolak. Sebaliknya, Kancil menawarkan seekor kambing betina putih. Ajai jadi marah dan berkata, “Kalau kau tidak mau menerima kambing ini, aku akan memakannya!”
Pak Tua Pengetahu segera melompat ke sungai dan menarik kaki depan kambing itu. Ajai naik ke darat. Pak Tua Pengetahu memarahi Ajai karena tidak mengikuti pesan. “Inilah tawaran Kancil!” kata Pak Tua Pengetahu sambil menunjukkan kaki depan kambing.
Ajai terkejut! Kaki depan kambing betina putih itu berubah menjadi tangan Putri Bunga Raya yang cantik, dan di jari manisnya ada cincin pernikahan. Ternyata itu tangan Putri Bunga Raya! Sejak saat itu, Ajai duduk di tepi sungai menunggu Putri Bunga Raya. Lama kelamaan, Ajai berubah menjadi batu. Batu itu dinamakan Batu Ajai.
Penulis: CKK2
Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2
Ulasan
Catat Ulasan