Kancil dan Raja Chulan

Suatu hari, perahu Raja Chulan dan teman-temannya berhenti di tepi sungai. Seekor Kancil yang bijak bertanya, “Apa tujuan kalian datang ke sini?”

“Raja kami, Raja Chulan, ingin bertanding adu ayam di sini,” jawab mereka.

Berita itu sampai ke Raja Terengganu. Baginda memanggil Pak Si Molong, tukang adu ayam terkenal.

“Siapkan ayammu. Aku ingin Raja Chulan kalah!” titah baginda.

Pak Si Molong pulang ke rumah dan memberikan semangat pada ayamnya. Malam sebelum pertandingan, Pak Si Molong tidak bisa tidur. Putrinya, Dayang, mencoba menenangkannya, tapi Pak Si Molong tetap gelisah.

Keesokan harinya, tiba saatnya pertandingan. Ayam Raja Chulan tampak sangat kuat. Kancil berpikir, ‘Alangkah baiknya jika ayam itu milikku!’

Dia mendekati Raja Chulan dan berkata, “Mari kita bertukar ayam! Ayammu terlihat hebat, mungkin lebih cocok untukku.” Raja Chulan tertawa sinis dan setuju.

Saat pertandingan dimulai, tiba-tiba ayam baru Pak Si Molong patah kaki dan jatuh. Kancil tertawa kecil, tapi hatinya merasa bersalah.

Raja Terengganu sangat marah. “Pak Si Molong, kamu telah membuatku malu! Sebagai hukuman, matamu harus ditutup!”

Pak Si Molong menangis. Dia tidak menyangka Raja Chulan akan menipunya. Sejak saat itu, Pak Si Molong dan Dayang tinggal di tepi hutan, belajar dari kesalahan dan menjadi lebih bijak.

Penulis: CKK2
Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Kehidupan Sehari-hari di Kampung

Rimbun Cinta Di Taman Jiwa by CKK2

Semangat Dari Bukit by CKK2