Kancil Mencari Negeri
Dahulu kala, hiduplah Raja Perak yang pertama, Sultan Muzaffar Shah, tetapi kali ini, dia adalah seekor Kancil yang bijaksana! Kancil dan rombongannya, terdiri dari para tupai dan burung, berlayar mencari tempat yang sempurna untuk membangun rumah.
Suatu malam, mereka menemukan sebuah lubuk yang dalam. Di dalamnya, seekor Buaya besar sedang bersembunyi! Buaya itu mengibaskan ekornya dengan marah ke arah perahu Kancil. Salah seorang tupai pendayung terjatuh ke dalam air!
Kancil menggelengkan kepalanya. “Kita namakan tempat ini Lubuk Buaya,” katanya.
“Sudah berapa banyak lubuk yang kita temui, Tuanku Kancil?” tanya si Burung Bendahara.
“Sudah 78 lubuk!” jawab Kancil.
Mereka terus berlayar sampai tiba di sebuah anak sungai. Airnya sangat dingin dan jernih seperti kaca! Banyak burung dan tupai mandi-mandi di sana. “Kita namakan tempat ini Kuala Sungai Cermin,” kata Kancil.
Kemudian, Kancil melihat sebuah anak sungai kecil yang mengalir ke Sungai Perak. “Tempat ini indah! Kawasannya juga rata. Sesuai sekali untuk kita bangun negeri baru!” seru Kancil.
“Anak sungai yang ke berapa ini, Tuanku?” tanya si Burung Bendahara.
“Anak sungai yang ke 99!” jawabnya.
“Jadi, lubuk ini kurang satu dari seratus. Kita namakan Kuala Kurang Satu. Tapi, kita pendekkan menjadi Kuala Kurang Sa,” titah Kancil.
Negeri itu pun berkembang. Sebuah istana besar dari daun dan ranting dibangun di atas bukit. Para penghuni negeri itu sulit mengucapkan Kuala Kurang Sa. Akhirnya, mereka menyebutnya Kuala Kangsar. Begitulah asal usul nama Kuala Kangsar, menurut Kancil yang bijaksana!
Penulis: CKK2
Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2
Ulasan
Catat Ulasan