Catatan

Tunjukkan catatan dari Mac, 2026

Kancil dan Bangau di Pasar Malam

Di Pasar Malam yang ramai, Kancil dan Bangau melihat sebungkus nasi lemak besar. Kancil, yang merasa pintar, mengajak Bangau, “Bangau, mari kita bawa nasi lemak ini menyeberangi jalan! Aku punya rencana!” Bangau setuju, lalu mereka berdua mengangkat nasi lemak itu. Saat mereka berjalan di tengah jalan, Kancil tiba-tiba merasa sangat lapar. Ia mulai makan nasi lemak itu sedikit demi sedikit. “Kancil! Kamu tidak adil!” protes Bangau. Tiba-tiba, mobil-mobil datang dengan cepat! Jalanan menjadi ramai dan berbahaya. Bangau dengan cepat meletakkan nasi lemak dan berlari ke pinggir jalan. Kancil, yang menyesal, harus berlari sekuat tenaga untuk menghindari mobil-mobil yang lewat. Ia malu karena telah egois dan membuat Bangau khawatir. Akhirnya, Kancil dan Bangau selamat, tapi nasi lemak itu tertinggal di tengah jalan. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Ikan Terubuk untuk Ayah

Pakcik Ahmad di Kampung Bahagia sudah tua. Dia mahu memilih anaknya, Adi, Aiman, dan Aisyah, untuk menjaga kampung. Pakcik Ahmad mahu anak yang paling berfikiran terbuka. Dia membuat ujian. Suatu hari, dia pergi ke pasar. Dia memberikan sebungkus ikan terubuk kepada Adi. “Adi, tolong bagi ikan ini kepada adik-adik kamu, masing-masing dua ekor,” katanya. Adi membuka bungkusan itu dan nampak hanya ada tiga ekor. Dia memberikan seorang seekor. Hari lain, Pakcik Ahmad memberikan ikan terubuk kepada Aiman. Aiman melihat hanya ada tiga ekor, jadi dia membeli tiga ekor lagi! Dia memberikan kepada abang dan adiknya, masing-masing dua ekor. Keesokan harinya, Pakcik Ahmad memberikan ikan terubuk kepada Aisyah. Aisyah berfikir sekejap. Dia pergi kepada abangnya, Adi, dan berkata, “Adi, ini dua ekor untuk abang. Tapi ayah suruh saya dapat satu lagi!” Adi memberikan seekor lagi. Dia melakukan perkara yang sama kepada abangnya, Aiman. Apabila Pakcik Ahmad bertanya, hanya Aisyah yang berjaya! Dia dip...

Busu dan Pasar Malam yang Ramai

Di sebuah kampung yang asri, hiduplah seorang nenek dengan tujuh cucu laki-laki. Cucu bungsunya, Busu, agak berbeda. Ia pendek dan berambut lebat. Nenek memanggilnya Busu, sementara kakak-kakaknya memanggilnya Mawas. Suatu hari, kakak-kakaknya pergi ke pasar malam untuk berjualan. Busu ikut, meskipun nenek melarangnya. Nenek memberinya sebuah labu kecil. Sesampainya di pasar malam, kakak-kakaknya meninggalkannya di sebuah sudut yang sepi. Saat hujan turun, Busu menabur biji labu di pot yang dibawanya. Tak lama kemudian, tanaman labu tumbuh dan berbuah lebat. Ketika Busu hendak menjual labunya di pasar malam, ia heran karena labunya sudah habis! Suatu malam, Busu bersembunyi di balik meja dan melihat seorang pedagang curang mengambil labunya. Busu dengan berani menangkap pedagang itu. Pedagang itu meminta maaf dan menawarkan uang. Namun, Busu hanya meminta sebuah alat ukur yang bisa menimbang keadilan. Beberapa bulan kemudian, kakak-kakak Busu sudah punya pekerjaan masing-masing. Busu k...

Tiga Orang Pencuri di Pasar Malam

Di sebuah pasar malam yang ramai, hiduplah Pak Ali dan isterinya. Pasar malam itu sering menjadi sasaran pencuri. Suatu hari, Pak Ali pulang terlambat dari kerja. Saat dia berjalan pulang, dia melihat tiga orang anak mencurigakan bersembunyi di balik pohon mangga. Pak Ali pura-pura tidak melihat mereka. Dia masuk ke rumah dan mandi dengan lama. Setelah mandi, dia makan bersama isterinya. Anak-anak itu menunggu lama sekali sampai Pak Ali dan isterinya tidur. Setelah selesai makan, Pak Ali berbisik kepada isterinya, “Sayang, ada tiga anak mencuri di luar rumah! Tolong simpan semua uang di dompetmu.” Kemudian, dia berteriak, “Aisyah, cepat ambil semua uang! Abah mau menyimpannya di dalam kotak, dan kotak ini abah akan sembunyikan di dalam ember besar!” Pak Ali berjalan keluar sambil membawa kotak. Anak-anak itu tidak tahu bahwa di dalam kotak itu Pak Ali mengisi dengan batu-batu kecil. Kotak itu dilempar ke dalam ember besar, lalu Pak Ali pulang ke rumahnya. Anak-anak itu menimba air dari...

Seruling Buluh Perindu di Pasar Malam

Tiga adik beradik, Aiman yang tua, Azman yang tengah, dan Azri yang bongsu, sedang belajar membuat alat muzik di sekolah. Mereka harus mencari buluh perindu untuk membuat seruling yang sempurna. Aiman dan Azman memilih jalan yang berbeza untuk mencari buluh perindu di Pasar Malam yang ramai. Tiba-tiba, seorang penjual es krim berteriak, “Mencari apa kalian?” Aiman menjawab, dan dengan cepat dia membeku seperti patung es krim! Begitu juga Azman. Azri memilih gerai bunga. Dia bertanya kepada Pak Cik penjual bunga tentang buluh perindu. Pak Cik melihat Azri sopan lalu membantunya. “Jangan dengar atau pandang orang yang menawarkan sesuatu secara percuma, itu tipu!” pesan Pak Cik. Azri menutup telinganya dengan topi. Dia menemukan buluh perindu dan membawanya pulang. Dia membuat seruling dan meniupnya. Bunyi seruling itu memulihkan Aiman dan Azman yang membeku menjadi patung es krim kembali normal! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Enam Adik Beradik di Pasar Malam

Enam adik beradik pergi ke Pasar Malam untuk membeli ikan. Setiap adik memilih gerai yang berbeda-beda. Setelah berkeliling, mereka membawa pulang banyak ikan goreng yang lezat! Kakak yang paling tua menyuruh semua adiknya berkumpul. “Kita harus memastikan tidak ada yang tertinggal!” katanya. Tapi, setiap kali Kakak menghitung, selalu kurang satu! “Aduh, ada yang hilang!” keluhnya. Tiba-tiba, seorang anak laki-laki yang sedang membantu ibunya berjualan es krim tersenyum. “Jangan khawatir, aku bantu hitung ya. Setiap kali aku menyodorkan es krim ke kalian, hitung satu!” Anak laki-laki itu menyodorkan es krim ke adik-adik. “Satu! Dua! Tiga! Empat! Lima! Enam!” teriak mereka sambil menikmati es krim. Ternyata, keenam adik beradik lengkap semua! Rupanya, Kakak lupa menghitung dirinya sendiri! Kakak sangat berterima kasih kepada anak laki-laki itu dan membelikannya es krim rasa cokelat. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Lombong Besi di Taman

Pak Khatib Lela, seorang pengurus taman, punya lombong besi kecil di Bukit Betong, yang sebenarnya adalah bukit pasir di taman. Semua anak-anak kagum sebab Pak Khatib selalu menemukan batu-batu besi yang berkilauan! Kinan dan Jiman, dua anak yang suka berbuat nakal, cemburu sangat. Mereka pun pergi ke bukit pasir itu dan ternampak sebuah lubang kecil. Mereka lalu mengumpulkan ranting dan dimasukkan ke dalam lubang itu. Kemudian, mereka menyalakan api dengan korek api. Api terus menyala! *BANG!* Tiba-tiba, letusan kecil bergema! Pasir berterbangan dan mulut lubang tertutup rapat. Kinan dan Jiman melompat kegirangan, menyangka lombong Pak Khatib terbakar. Tapi, tiba-tiba muncul seorang Pakcik Penjaga, seorang penjaga taman yang ramah. “Aku Penjaga Taman! Aku menjaga taman ini untuk anak-anak yang baik. Pak Khatib sudah merawat tempat ini dengan baik, tapi kalian membalas dengan kejahatan!” kata Pakcik Penjaga dengan nada lembut. Pak Khatib datang dan memaafkan Kinan dan Jiman. Sejak itu,...

Kaluni dan Pertandingan Kecantikan Sekolah

Di sekolah Sri Ceria, hiduplah seorang murid bernama Kaluni. Wajahnya tidak terlalu cantik, dan dia selalu merasa tidak percaya diri. Kaluni sudah cuba pelbagai produk kecantikan, tetapi tidak juga berubah. Suatu hari, sekolah mengadakan pertandingan kecantikan. Kaluni bermimpi bertemu dengan seorang pelajar yang sangat tampan, yang memberinya semangat. Kaluni pergi ke dewan sekolah. Begitu sahaja dia masuk, dia merasa seperti berada di dunia yang lain, penuh dengan hiasan yang indah. “Selamat datang, Kaluni!” sapa seorang pelajar. Kemudian, muncul seorang pelajar yang tampan, seperti dalam mimpinya. Kaluni dan pelajar itu menjadi teman baik. Kaluni belajar untuk mencintai dirinya sendiri. Pada hari pertandingan, Kaluni tidak menang, tetapi dia merasa bahagia kerana telah belajar tentang persahabatan dan keberanian. Kaluni meminta izin untuk pulang ke rumah neneknya. Neneknya sangat gembira melihatnya. Kaluni kemudiannya membantu neneknya di rumah. Sejak itu, Kaluni menjadi lebih baik ...

Ayu dan Budi Rujuk

Suatu hari, Ayu dan Budi bertengkar di kantin sekolah. Pak Guru yang lewat, segera menghampiri. Ayu berkata, “Budi, kau sudah mendorong adikku hingga dia jatuh dan kakinya sakit!” Budi membalas, “Ayu, kau juga sudah menendang kaki bonekaku hingga patah!” Pak Guru tersenyum. “Baiklah, berdamailah kalian.” “Kalau mau berdamai, Ayu harus kembalikan semua stiker yang kuberikan padanya selama 10 tahun, dan juga semua mainan yang akan dia dapatkan dari stiker itu!” kata Budi. Permintaannya sungguh aneh! Mustahil! Pak Guru lalu bertanya pada Ayu, “Ada apa yang pernah kau berikan pada Budi?” “Aku beri dia permen. Hampir sepuluh tahun lamanya. Aku juga mau permenku kembali, dan juga pohon permen yang akan tumbuh dari permen itu!” kata Ayu. Budi terkejut mendengar permintaan Ayu. Lama dia terdiam. “Kalau begitu, kalian berdua tidak bisa memenuhi permintaan masing-masing. Eloklah kalian berdamai,” kata Pak Guru. Ayu dan Budi pun berjabat tangan. Sejak itu, mereka menjadi sahabat baik dan saling m...

Adik dan Abang di Pasar Malam

Adik dan Abang adalah sahabat baik. Setelah membantu ibu di kebun, Abang berjalan-jalan di pasar malam. Dia melihat banyak petai yang dijual! Dia segera membeli beberapa. Kemudian, dia menawarkan separuh kepada Adik. Tapi Adik berkata, “Aku mau beli sendiri!” Adik pergi ke pasar malam sepanjang hari. Dia melihat banyak penjual petai. Tapi dia tidak bisa memilih yang terbaik! Dia pulang dengan tangan kosong. Dua hari kemudian, Abang menangkap ikan di kolam dekat rumah. Dia menggunakan jala yang dibuat dari daun pandan. Banyak ikan yang tertangkap! Dia memberi separuh ikan itu kepada Adik. Hari berikutnya, Adik juga mau menangkap ikan. Dia ingat Abang menggunakan jala yang dibuat ibunya! Dia mencoba membuat jala sendiri dari tali. Dia melemparkan jala ke kolam. Banyak ikan tertangkap! Tapi, ember yang dia bawa ada lubang. Setelah puas, dia pergi ke rumah Abang. Saat mau memberi ikan, dia baru sadar embernya bocor! Abang bertanya, “Mana ikan banyak yang kau tangkap?” Adik hanya diam. Dia ...

Asal Usul Pasar Tapak di Pasar Malam

Di dekat Pasar Malam yang ramai, ada Kampung Tengkek. Di sana ada air mancur yang indah. Di sekeliling air mancur, ada beberapa batu besar. Ada yang bentuknya seperti lesung, ada yang seperti tungku. Menurut cerita orang tua, dulunya tempat itu milik Nenek Moyang Bertam. Dahulu, Bertam belajar memasak di sekolah memasak. Dia belajar banyak resep dan menjadi koki yang hebat. Gurunya pesan, “Gunakan keahlianmu untuk membantu orang lain, Bertam!” Bertam pulang ke kampungnya dan selalu membuat kue untuk teman-temannya. Semakin banyak anak-anak yang datang ke rumahnya. Akhirnya, Bertam menjadi penjual kue di Pasar Malam. Orang-orang memanggilnya Nenek Moyang Bertam. Tapi, ketika usahanya semakin maju, Bertam jadi pelit dan tidak mau berbagi dengan teman-temannya yang kurang mampu. Suatu hari, gurunya datang menyamar sebagai nenek-nenek. “Nak, ibu haus. Boleh tolong ambilkan air?” tanya nenek itu. “Di sana, dekat air mancur!” kata Bertam sambil menunjuk. Air pun muncrat! Nenek itu minum dan ...

Aiman dan Zara di Pasar Malam

Aiman, seorang anak laki-laki yang baik hati, sangat menyukai Zara, teman sekelasnya. Tapi, Zara merasa Aiman terlalu biasa saja. Ayah Aiman bekerja sebagai penjual nasi lemak, sementara ayah Zara adalah seorang pengusaha kaya. Orang tua Aiman tidak mengizinkan Aiman mendekati Zara. Aiman merasa sedih dan memutuskan untuk pergi ke Pasar Malam sendirian. Dia bertemu dengan Nenek yang berjualan kuih. Suatu hari, Zara ikut ke Pasar Malam bersama ayahnya. Dia memberitahu ayahnya bahawa ayahnya Aiman sedang bersedih. Ayah Zara kemudian merancang sebuah lomba makan kerisik di Pasar Malam. Siapa yang paling cepat makan kerisik, akan dinikahkan dengan Zara! Aiman ikut lomba itu karena dia ingin menunjukkan kemampuannya. Aiman, dengan semangatnya, makan kerisik dengan cepat dan memenangi lomba itu. Semua orang bersorak gembira! Aiman memenangi hati Zara dan mereka akhirnya menjadi teman baik. Mereka menikmati malam yang indah di Pasar Malam bersama keluarga. Penulis: CKK2 Penerbit: ...

Putera Malikul Munir di Pasar Malam

Di sebuah pasar malam yang ramai, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Munir. Ayahnya, seorang pengusaha kue, tiba-tiba berubah menjadi seekor kuda hijau! Ibunya sangat sedih dan kemudian sakit. Ayahnya kemudian menikah dengan seorang wanita yang lebih tua, yang selalu khawatir tentang uang. Wanita itu berpura-pura sakit dan berkata hanya kue berbentuk hati kuda hijau yang bisa menyembuhkannya! Munir mendengar rencana itu dan kabur bersama kuda hijau. Mereka tiba di pasar malam yang lain, dan Munir membantu penjual sayur. Di sana, ada tiga anak perempuan yang cantik. Setiap anak perempuan harus memilih teman untuk bermain dengan memegang bunga kertas merah. Dua anak perempuan sudah memilih. Saat giliran anak perempuan bungsu, bunga itu tanpa sengaja jatuh ke tangan Munir! Mereka bermain bersama di taman. Munir dan kuda hijau datang dengan pakaian yang rapi. Mereka mengajak anak perempuan itu pulang ke rumahnya yang sederhana. Wah! Ternyata rumah itu sangat nyaman dan penuh dengan ke...

Aizat dan Doa di Kantin Sekolah

Aizat tinggal di rumah sederhana bersama ibunya. Di depan rumahnya, ada tanaman sirih yang dijaga rapi. Kadang-kadang, jiran-jiran datang membeli daun sirih daripadanya. Aizat ingin belajar membaca Al-Quran, tetapi dia tidak mempunyai wang untuk membayar guru mengaji. Dia berjumpa dengan Cikgu Azman di kantin sekolah dan membayarnya dengan sebiji telur rebus. Cikgu Azman mengajarkan Aizat membaca satu ayat pendek. Ayat itu cuma empat perkataan sahaja. “Baca sepuluh kali, seratus kali, dan seribu kali,” kata Cikgu Azman. Setelah Aizat berlatih dengan rajin, Cikgu Azman berkata, “Kamu sudah pandai, Aizat!” Kata orang, sejak belajar dari Cikgu Azman, Aizat boleh membantu orang yang sakit. Suatu hari, Cikgu Azman terkena demam. Murid-murid Cikgu Azman datang ke rumah Aizat. Aizat membaca ayat pendek itu dengan tenang dan memberikannya kepada mereka. Tidak lama kemudian, Cikgu Azman sembuh. “Apa yang kamu baca, Aizat?” tanya Cikgu Azman. Aizat menjawab, “Ayat yang diajar oleh Cikgu Azman.” ...

Raja di Pasar Malam

Di sebuah pasar malam yang ramai di Kampung Damai, hiduplah seorang anak raja bernama Adi. Adi suka bermain game dan makan kuih, tapi tidak peduli tentang masalah di kampung. Ketika ayahnya, Raja, pergi berlibur, Adi menjadi raja sementara. Para tetua kampung risau! Mereka mahu melantik Pak Ali, Ketua Kampung, menjadi raja. Suatu malam, Adi mendengar percakapan di gerai Pak Ali. Ternyata sekumpulan anak-anak nakal sedang merencanakan untuk mencuri mainan di gerai Pak Ali. Adi berbisik, “Curi saja! Aku akan bantu!” Di rumah Pak Ali, Adi menemukan selembar kertas yang bertulis, “Adi tidak layak menjadi raja!” Adi marah! Dia membantu anak-anak nakal itu, lalu memberikan setiap anak sehelai stiker bintang untuk ditempel di topi mereka. Dia juga memerintahkan Pak Ali mengumpulkan semua anak-anak di pasar malam. Keesokan harinya, Adi memerintahkan Pak Ali ditangkap kerana merancang menggulingkan pemerintahannya. Pak Ali berkata, “Aku lakukan ini demi kebaikan kampung dan semua anak! Kamu asy...

Piatu di Pasar Malam

Di sebuah pasar malam yang ramai, hiduplah Rani dan Rani. Mereka baru saja punya anak laki-laki bernama Uda. Suatu hari, datanglah sekelompok anak nakal yang mencuri semua jajanan, mainan, dan uang di pasar malam! Rani dan Rani sedih sekali. Mereka membawa Uda ke pinggir sungai untuk beristirahat. Malam itu, hujan turun deras. Uda yang sedang tidur di dalam kereta dorong hanyut terbawa air! Untungnya, Uda hanyut sampai ke pulau kecil di tengah sungai dan diselamatkan oleh Kak Kancil yang baik hati. Kak Kancil merawat Uda dan mengajarinya banyak hal. Ia juga memberi nama baru untuk Uda, yaitu Piatu. Suatu hari, Kak Kancil menyuruh Piatu kembali ke pasar malam. Rani dan Rani sangat terkejut melihat Piatu yang sudah besar dan tampan. Piatu memperkenalkan dirinya, “Hai Ibu dan Ayah! Saya Piatu, anak kalian yang hilang lebih dari dua puluh tahun lalu!” Rani dan Rani sangat bahagia. Tak lama kemudian, datanglah anak nakal yang mencuri lagi. Piatu dengan berani menghadapi mereka dan membantu ...

Tanaki dan Kemarau di Kampung

Di sebuah kampung yang ramai, hiduplah seorang anak lelaki bernama Tanaki. Ibunya, Cik Kansiduon, sangat terkenal kerana kebaikan hatinya. Suatu hari, kampung mereka dilanda kemarau. Semua tanaman layu, dan air menjadi sangat sedikit. Semua orang meminta Cik Kansiduon membantu. Cik Kansiduon cuba mencari cara, tapi tak ada yang berhasil. Malam itu, Tanaki mendengar suara aneh dari radio. “Jika kamu mahu hujan, berikan Tanaki kepada saya!” kata suara itu. Tanaki meminta ibunya menurut, tapi Cik Kansiduon menolak. Dia takkan pernah meninggalkan anaknya. Keesokan harinya, Tanaki menghilang! Suara radio itu berkata, “Tanaki sudah diterima!” Tiba-tiba, dari halaman rumah Cik Kansiduon, air memancar keluar! Semua orang di kampung bersorak gembira. Sejak itu, mereka menamakan kolam itu Kolam Tanaki, sebagai tanda keberanian dan kasih sayang Cik Kansiduon. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Adi dan Ayam Togelnya di Pasar Malam

Adi punya seekor ayam kecil bernama Togel. Togel hanya punya satu bulu di sayapnya. Adi selalu mengajak Togel bermain di Pasar Malam. Pasar Malam ramai sekali, banyak orang berteriak dan tertawa. Ternyata, Pak RT juga ikut lomba ayam di Pasar Malam. Ayam Pak RT, Si Jagoan, selalu menang. “Siapa lagi yang mau ikut lomba dengan Si Jagoan?” tanya Pak RT. “Saya, Pak RT! Saya akan berani!” kata Adi. “Bagus, aku butuh bantuan untuk membawa pulang hadiahku,” kata Pak RT. Maka, bertarunglah Togel dengan Si Jagoan. Lama sekali mereka bertarung. Akhirnya, ayam Togel milik Adi menang! Pak RT menyerahkan semua hadiahnya kepada Adi. Adi tidak mau hadiah itu. Dia berikan kepada teman-temannya yang ikut lomba. Hadiah Pak RT dikembalikan kepada Pak RT. Adi sayang pada Pak RT dan semua orang di Pasar Malam. Pak RT tersenyum senang hati. Adi pulang ke rumah dengan membawa senyum lebar. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Ami dan Ali di Pasar Malam

Ami dan Ali adalah sahabat baik. Ami punya jaket merah yang terang, sedangkan Ali punya topi biru yang sederhana. Suatu hari, Ali berkata, “Ami, bolehkah topiku menjadi secerah jaketmu?” Ami lalu memberikan cat merah yang dia gunakan untuk menghias gerobak kue. Ali mencurahkan cat itu ke topinya. Tiba-tiba, topinya menjadi merah menyala! Ali sangat senang. Tapi, dia lupa untuk membalas kebaikan Ami. Setiap kali Ami meminta cat merah, Ali selalu bilang tidak punya. Lalu, Ali mencampurkan cat merah itu dengan lumpur dan memberikannya kepada Ami. Ami mencurahkan cat itu ke jaketnya. Jaketnya menjadi kotor dan tidak menarik! Sejak itu, Ami dan Ali sering bertengkar di pasar malam. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Awang Buntal di Pasar Malam

Di sebuah kampung, hiduplah Pak Buntal dan Mak Buntal bersama anak mereka, Awang Buntal. Mereka bekerja keras di pasar malam, menjual kuih dan minuman. Tapi, hasil jualan mereka tidak cukup untuk membeli makanan yang banyak. Setelah dewasa, Awang Buntal pergi ke kota untuk mencari rezeki. Dia bekerja keras, berjualan di pasar malam yang ramai. Dengan tekun, Awang Buntal menjadi penjual yang kaya raya! Suatu hari, Awang Buntal pulang ke kampung. Pak Buntal dan Mak Buntal sangat gembira dan membawa sebungkus nasi untuk menyambutnya. Tapi, Awang Buntal malu melihat kedua orang tuanya yang masih berjualan di pasar malam. Dia menolak mereka dengan kasar. “Saya tidak mahu teman-teman saya tahu saya punya ibu bapa yang masih miskin!” katanya. Awang Buntal menyuruh pembantunya pergi ke pasar malam lain. Tiba-tiba, datanglah hujan lebat! Angin bertiup kencang. Dalam sekejap, gerai Awang Buntal roboh dan semua barang dagangannya basah. Awang Buntal sedih, dia terlupa akan bantuan kedua orang tua...

Ayam Jantan di Pasar Malam

Di Pasar Malam yang ramai, ada dua anak ayam jantan bernama Jalak dan Biring. Mereka selalu saja bertengkar, walau sudah lama jadi teman. Biring tak suka Jalak yang suka pamer dan mencabar teman-temannya. Biring berharap mereka bisa bermain bersama dengan gembira. Suatu malam, anak-anak di Pasar Malam berteriak kegirangan. Rupanya, Jalak dan Biring sedang adu kekuatan! Biring tak mahu ikut Jalak, lalu dia pergi mencari es krim. Jalak yang menyangka dirinya hebat melompat ke atas meja dan berkokok dengan lantang, seolah-olah dia pemenang. Tiba-tiba, seorang abang penjual melihat Jalak di atas meja dan kaget! Dia menangkap Jalak dan membawanya pulang. Jalak baru sadar, kesombongannya membuatnya mendapat masalah. Biring yang baru membeli es krim tak sempat menyelamatkan Jalak. Begitulah akhir cerita Jalak yang sombong itu. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Pasar Malam Bukit Terayong

Di sebuah kampung dekat Gua Niah, ada Pasar Malam Bukit Terayong yang ramai. Semakin banyak anak-anak datang berbelanja, tetapi kedai-kedai sudah tidak cukup! Mereka perlu membina kedai baru, tetapi memerlukan bantuan. Sayangnya, seorang anak kecil bernama Adi harus membantu membina kedai. Adi sangat sedih. Adi meminta bantuan sahabatnya, Mia. Mereka membuat rencana. Mia berpura-pura menjadi penjual yang sangat ramai. Adi memukul gendang dan meniup seruling. Semua anak di pasar malam terkejut! Beberapa anak merasa bersalah. Tiba-tiba, lampu-lampu pasar malam berkelipan! Hujan mulai turun! Adi dan Mia berlari mencari tempat berteduh. Batu-batu kecil mulai berjatuhan seperti hujan kerikil! Dua hari kemudian, Pasar Malam Bukit Terayong menjadi lebih besar dan ramai, dengan banyak kedai baru. Adi dan Mia belajar, bekerja sama dan membantu teman bisa membuat semua orang bahagia! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Pakcik Rahman dan Garam Pasar Malam

Suatu hari, Pakcik Rahman yang berjualan sayur di pasar malam merasa lelah. Dia ingin mencoba sesuatu yang baru. Berdagang katanya, lebih banyak uang! Dia ingin menjual garam. Awalnya, dia ingin membeli garam dari tukang grosir, tetapi dia berubah pikiran. Dia ingin membuat garam sendiri! Pakcik Rahman pun pergi ke pantai dekat rumahnya. Dia mengisi beberapa ember besar dengan air laut. Setelah airnya menguap di bawah matahari, terbentuklah kristal-kristal garam. Pakcik Rahman mengumpulkan garam itu dan memasukkannya ke dalam karung besar. Kemudian, dia menggendong karung itu dan ingin pulang ke rumah. Sebelum itu, Pakcik Rahman ingin makan roti bakar yang dibeli di pasar malam. Setelah kenyang, dia merasa mengantuk. Dia khawatir karung garamnya dicuri, jadi dia menyembunyikannya di balik tumpukan kotak di sudut pasar. Ketika Pakcik Rahman bangun, dia segera mengambil karungnya dan pulang ke rumah. Tiba di halaman rumah, Pakcik Rahman meletakkan karung garam di atas meja lalu memanggil...

Ikan Sembilang di Pasar Malam

Di sebuah kampung yang ramai, ada sebuah kolam ikan di Pasar Malam. Kolam itu cantik, tapi orang bilang kalau menangkap ikan di sana, akan kena masalah. Suatu hari, seorang ibu bernama Suri pindah ke kampung itu. Tetangga memberitahu Suri tentang kolam itu, tapi Suri tak percaya. Malam itu, Suri pergi ke Pasar Malam membawa jala dan beras. Dia menabur beras ke dalam kolam. “Jangan ambil ikan di sini, Suri! Nanti anak-anakmu kena penyakit!” kata seorang penjual nasi lemak. Suri tak hirau. Dia menjala ikan sembilang yang banyak. Suri membakar ikan itu dan makan bersama anak-anaknya. Tiba-tiba, perut Suri sakit! Kepalanya juga pening. Tetangganya memanggil Kak Ani, seorang bidan kampung. Kak Ani menasihati Suri. Tiba-tiba, Suri berubah menjadi ikan sembilang kecil! Kak Ani melepaskan ikan sembilang itu kembali ke kolam. Sejak itu, kolam ikan di Pasar Malam itu dikenal sebagai Sungai Sembilang. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Raja di Pasar Malam

Dulu sekali, ada seorang anak laki-laki bernama Raja yang sangat suka bermain panah di pasar malam. Dia selalu menembak semua mainan yang ada! Suatu hari, dia melihat seekor burung pipit kecil. Dia melempar anak panahnya, dan burung pipit itu jatuh di dekat kakinya. Burung pipit itu memohon, “Tolong, jangan ambil aku! Kakekku pernah menyimpan kelereng berharga di dekat pohon beringin. Tapi Kakek pesan, jangan mudah percaya, jangan berharap pada yang sudah hilang, dan jangan menyesali yang sudah dilepas.” Raja melepaskan burung pipit itu untuk mencari kelereng itu. Waktu sudah sore, tapi burung pipit tak kembali. Raja jadi kesal! Ketika burung pipit muncul, Raja menuntut kelerengnya. Burung pipit tertawa. “Bagaimana mungkin aku, burung kecil, bisa membawa kelereng yang besar?” Raja pulang dengan perasaan malu. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Pak Ali dan Pasar Malam

Di Kampung Puru-puru, tinggal Pak Ali bersama isteri dan anak-anaknya. Kehidupan Pak Ali sekeluarga tidaklah terlalu senang. Suatu hari, Pak Ali pergi ke Pasar Malam untuk mencari rezeki. Dia berkeliling begitu lama sehingga mengantuk di bangku taman. Apabila terjaga, dia berada di lorong yang berbeda. Seorang Makcik tua keluar dari gerainya. Makcik tua itu menawarkan Pak Ali makan. Pak Ali teringat akan isteri dan anak-anaknya yang lapar lalu menolak ajakan Makcik tua itu. Tetapi akhirnya dia mengalah juga kerana tidak mahu Makcik tua itu kecewa. Kemudian, Pak Ali meminta izin untuk pulang. Sebelum pulang, Makcik tua itu membekalkan bibit tanaman sayur dan menghadiahkannya gelang tangan berkilau. Pak Ali mengucapkan terima kasih dan berjalan pergi. Apabila Pak Ali menoleh ke belakang, Makcik tua dan gerainya menghilang! Apabila pulang, Pak Ali pun memberikan sedikit bibit kepada jiran-jiran kampung. Pak Ali menjual gelang tangan yang diberi Makcik tua itu kepada seorang Tuan yang kaya...

Leban di Pasar Malam

Pak Ahmad dan Mak Siti tinggal bersama anak mereka, Leban. Suatu sore, Pak Ahmad pergi ke pasar malam untuk membeli sayuran. Tiba-tiba, dia melihat sebuah benda yang bersinar. Ternyata, itu adalah tongkat mainan yang dihiasi lampu-lampu LED. Pak Ahmad membawa tongkat itu pulang. Dia menunjukkan tongkat itu kepada Mak Siti, dan mereka berencana untuk menjualnya. Pak Ahmad menyuruh Leban menjual tongkat itu di pasar malam dengan harga yang paling mahal. Pergilah Leban seorang diri ke pasar malam. Di sana, dia menjual tongkat itu dan menjadi anak yang punya banyak uang jajan! Dia tidak pulang ke rumah, melainkan bermain dengan teman-temannya di pasar malam. Seorang pedagang lalu mengenalkannya dengan anak perempuannya. Leban diberi sepeda baru untuk berkeliling. Tibalah Leban di rumah. Ibunya memintanya beristirahat sebentar sebelum bermain lagi, tetapi Leban menolak. Dia menceritakan semua yang terjadi padanya. Ketika mereka hendak pulang, tiba-tiba hujan deras datang! Sepeda Leban dan...

Awang dan Pertanyaan di Sekolah

Di sebuah sekolah yang ramai, hiduplah seorang budak bernama Awang. Dia dikenal sebagai anak yang suka berpikir. Setelah dewasa, Awang menjadi murid yang cerdas di seluruh sekolah. Kepala Sekolah lalu memanggil Awang. “Awang, aku punya dua pensil di tanganku. Salah satunya sudah tumpul. Bisakah kamu menebak, pensil mana yang masih bisa digunakan?” tanya Kepala Sekolah. “Mudah sahaja, Pak Kepala! Jika pensil di tangan kanan sudah tumpul, maka pensil di tangan kiri pasti masih bisa digunakan. Begitu sebaliknya,” jawab Awang dengan percaya diri. “Aku mengerti itu, Awang. Tapi, tebaklah pensil di tangan kiri ke kanan yang masih bisa digunakan?” tanya Kepala Sekolah lagi. “Pertanyaan ini tidak adil, Pak Kepala! Pak Kepala sebenarnya punya dua pensil yang masih bagus. Jika aku mengatakan pensil di tangan kiri yang masih bagus, Pak Kepala pasti akan mengasah pensil di tangan kanan. Begitu sebaliknya!” kata Awang dengan bijak. Kepala Sekolah sangat senang dengan jawaban Awang. Baginda mengakui...

Puteri Mawar di Pasar Malam

Pak Bestari punya dua isteri, Kak Mawar Merah dan Kak Mawar Putih. Mereka berdua punya anak perempuan. Anak Kak Mawar Merah namanya Budi, dan anak Kak Mawar Putih namanya Bongsu. Suatu hari, Pak Bestari pergi ke pasar malam, meninggalkan kedua isterinya dan anak-anaknya di rumah. Kak Mawar Merah yang cemburu pada Kak Mawar Putih, mengejeknya saat sedang membantu ibu di warung. Saat Bongsu mau ambil minum di ember air, Kak Mawar Merah mendorongnya sampai jatuh. Bongsu berubah menjadi ikan hias yang cantik. Ketika Budi pulang dari bermain di taman, ia mencari ibunya. Nenek Murai yang baik hati melihatnya dan menceritakan apa yang terjadi. Sejak itu, Budi sering duduk di dekat ember air. Kak Mawar Merah curiga melihat Budi berbicara dengan ikan hias, lalu menangkapnya dan memasaknya. Ketika Pak Bestari pulang dari pasar malam, ia memanggil Bongsu. Budi menceritakan semuanya kepada ayahnya. Kak Mawar Merah ditegur dan dihukum oleh Pak Bestari. Ia pun berubah menjadi ikan hias, bersama ibun...

Lalang di Pasar Malam Kampung

Di Pasar Malam Kampung Damai, ada seorang anak perempuan bernama Aisyah yang suka sekali makan lalang rebus. Dulu, orang-orang boleh makan lalang, tapi ada aturan penting. Saat merebusnya, tutup kuali tidak boleh dibuka! Suatu sore, Aisyah merebus lalang untuk makan malam. Ibunya sedang sibuk membantu di warung. Tiba-tiba, neneknya datang dan ingin mengambil air rebusan. Aisyah, tanpa sengaja, membuka tutup kuali sebentar saja. Neneknya kaget sekali melihat lalang masih mentah! Neneknya tahu Aisyah melanggar aturan. Sejak saat itu, lalang tidak lagi dijual di Pasar Malam. Semua orang di Kampung Damai mengingatkan Aisyah untuk selalu mengikuti aturan, supaya semua bisa hidup rukun dan bahagia. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Cencewi dan Puteri Manis di Pasar Malam

Cikgu Cencewi terkenal di Pasar Malam kerana wajahnya yang tetap muda walaupun sudah mengajar selama lima puluh tahun. Semua orang bertanya, “Rahsia awet muda Cikgu Cencewi apa ya?” Suatu hari, Puteri Manis, seorang anak perempuan yang tersesat, ditemui di tepi kolam ikan Pasar Malam. Cikgu Cencewi membawanya pulang dan menyuruhnya tinggal di gudang belakang rumahnya. Ketika seorang penjual kain datang berziarah, Cikgu Cencewi menyediakan makan malam. Tapi, nasi menjadi lembik dan ikan hilang! Rupa-rupanya, Puteri Manis yang makan diam-diam di gudang. Penjual kain itu melihat Puteri Manis di gudang. Ia membawanya ke rumahnya. Cikgu Cencewi tetap seperti itu, muda dan misteri. Lama kelamaan, orang-orang Pasar Malam membisik, “Cikgu Cencewi itu seperti hantu muda!” Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Aisyah dan Pokok Durian di Pasar Malam

Pak Sagor dan Mak Sagor punya gerai di Pasar Malam bersama anak-anak mereka, Aisyah dan adik. Mereka selalu susah, sayur-sayuran mereka tak laku. Hanya ada satu pokok durian yang ditanam di belakang gerai mereka. Pokok itu pelik, banyak dahan, daun lebat, tapi bunganya tak pernah mekar. Suatu malam, Pak Sagor dan Mak Sagor hendak buang pokok itu. Aisyah ternampak sebiji durian besar di dahan paling bawah. Dia memetiknya dan tiba-tiba terdengar suara dari dalam! Aisyah membelah durian itu, dan keluarlah seorang gadis cantik sekali. Gadis itu rupanya Puteri Durian! Dia disumpah kerana suka pada anak Pak Sagor. Membelah durian itu membebaskannya! Dia berjanji gerai Pak Sagor akan jadi terkenal, dan meminta mereka menamakan tempat itu Duri Tunggal. Sejak itu, sayur-sayuran mereka laku dengan cepat, dan pokok durian berbuah banyak! Keluarga Pak Sagor bahagia di Pasar Malam Duri Tunggal. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Semaun dan Nafas Kuatnya di Kampung Bahagia

Semaun tinggal di Kampung Bahagia bersama isteri dan anaknya. Suatu hari, isteri dan anaknya pergi ke rumah nenek. Semaun ditinggal sendirian di rumah. Dia duduk di beranda sambil melihat ikan-ikan di kolam. Ikan-ikan itu tampak lucu sekali. Malamnya, Semaun bermimpi bertemu dengan Pak Cik yang baik hati. Pak Cik menyuruh Semaun menangkap ikan dan memakannya. Keesokan harinya, Semaun menangkap ikan dan memasaknya. Setelah makan, dia merasa sangat kenyang dan tertidur. Saat tidur, Semaun menghembuskan nafasnya dengan kuat sekali, dan tiba-tiba atap rumahnya terangkat! Semua orang di kampung tertawa melihatnya. Semaun menjadi terkenal karena nafasnya yang kuat. Suatu hari, kampung mereka kedatangan orang jahat yang ingin merusak pesta. Semaun dan teman-temannya berpura-pura bermain bola. Ketika orang jahat itu mendekat, Semaun menghembuskan nafasnya. Orang jahat itu terkejut dan lari tunggang langgang. Semaun menjadi pahlawan kampung, dan hidupnya bersama keluarganya semakin menyenangkan...

Adi dan Aisyah di Pasar Malam

Adi berkeliling mencari teman di pasar malam yang ramai. Dia melihat Aisyah sedang membantu ibunya menimbang beras di warung. Aisyah menimbang beras dengan sangat hati-hati, setiap butir beras yang jatuh dia ambil dan dimasukkan kembali. Adi terkesan dengan ketelitian Aisyah. 'Dia gadis yang tepat!' pikir Adi. Mereka menjadi teman baik dan sering bermain bersama. Adi memberikan Aisyah beberapa biji beras untuk ditanam di pot kecil. Mereka merawat tanaman beras itu dengan sabar. Saat panen tiba, mereka memanen beras dengan hati-hati. Semua harus tenang saat beras dimasukkan ke dalam karung, karena semangat beras akan hilang jika ada yang berisik. Usaha mereka membuahkan hasil, dan mereka berbagi beras dengan teman-teman mereka di pasar malam. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Nipah di Pasar Malam

Nipah, pohon kecil di sudut Pasar Malam, merasa sedih. Setiap hari, orang-orang memetik buahnya untuk dibuat minuman segar. Batangnya terasa sakit setiap kali ada yang memotongnya. Air mata Nipah menetes ke lantai Pasar Malam. Seorang anak kecil melihatnya dan menangkap air mata itu dengan gelas plastik. “Wah, manis sekali airnya!” seru anak itu. “Ini air mata Pohon Nipah! Segar sekali!” Nipah mendengar perkataan anak itu. “Beginilah nasibku,” gumamnya. “Musim panas begini, banyak orang haus. Aku senang hati bisa membantu mereka.” Seorang ibu tersenyum melihat Nipah. “Pohon Nipah memang hebat! Dia memberikan kesegaran di tengah keramaian Pasar Malam.” Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Ujang dan Kerbau di Pasar Malam

Di Pasar Malam Rembang Panas, semua orang heboh! Kerbau milik Pak Penghulu hilang! Mereka menuduh Ujang, anak yang suka bermain, mencurinya. Ujang ketakutan dan kabur pulang, padahal dia tidak mencuri kerbau itu! Perutnya lapar, Ujang makan peria yang dijual di pasar, walaupun rasanya tidak enak. “Aduh!” Ujang meringis. Tiba-tiba, akar-akar peria tumbuh dari mulutnya! “Aduh, aku salah makan!” Saat itu, ada pedagang kain yang tersesat di pasar. Dia melihat peria dan memungutnya. “Aduh!” Ujang menjerit, akar peria tertarik dari bibirnya. Pedagang itu lari ketakutan, meninggalkan kainnya. Ujang mengambil kain itu dan membawanya pulang. Orang-orang di pasar terkejut melihat Ujang kembali. Mereka mengira Ujang menjadi pedagang kaya! Ujang senang sekali, karena pencuri kerbau yang sebenarnya sudah tertangkap! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Nadim dan Konser di Pasar Malam

Nadim adalah seorang budak yang kaki dan wajahnya tidak seperti budak lain. Kadang-kadang, budak-budak di sekolah mengejeknya. Nadim selalu sedih, tapi kakaknya, Melor, selalu menenangkannya. Nadim punya bakat hebat: dia pandai bermain seruling! Bunyinya sangat indah. Suatu hari, Nadim bermain seruling di Pasar Malam. Budak-budak jahat datang dan mengejeknya. Salah seorang budak jahat merebut seruling Nadim dan melemparkannya! Nadim sangat sedih dan berlari pulang. “Kak Melor, saya tidak mahu pergi ke sekolah lagi. Saya akan pergi ke taman di dekat rumah. Jangan risaukan saya, Kak Melor. Letakkan makanan dan seruling baru di bangku taman. Saya akan makan dan bermain seruling di sana, lalu kembali ke rumah setiap malam,” kata Nadim. Sejak itu, orang-orang di Pasar Malam sering mendengar bunyi seruling merdu dari taman. Mereka merasa kasihan pada Nadim dan menyesal telah mengejeknya. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Aiman dan Cabaran Abang

Suatu hari, Aiman sedang berlatih menyanyi di rumah. Suaranya sangat merdu, sampai dua orang kawan perempuannya, Lily dan Maya, berhenti bermain. Ketika itu, abang Aiman, Azman, sedang membuat model kapal. Terlalu asyik melihat Lily dan Maya, Azman membuat model kapal itu patah. Dia marah dan mencabar Aiman, “Aiman, bawa balik gajah dari Pasar Malam!” Aiman menerima cabaran itu. Sebelum pergi ke Pasar Malam, dia bertemu dengan Kak Eha, penjual balon yang memiliki peluit ajaib. Bila Aiman meniup peluit itu, muncullah seekor gajah mainan besar! Aiman dengan bijak mengalihkan perhatian orang ramai, lalu dengan cepat membawa gajah mainan itu ke kereta sorong. Kemudian, dia meniup peluit lagi, dan keluarlah gajah mainan yang lebih kecil! Aiman ulangi lagi, mengalihkan perhatian dan membawa gajah mainan yang lebih kecil. “Masih ada gajah lagi?” tanya Aiman kepada Kak Eha. “Ada, gajah kecil. Dia ada di dalam rumah kaca di hujung Pasar Malam,” jawab Kak Eha. Aiman pergi ke rumah kaca, dan deng...

Lumba Lari di Pasar Malam

Aiman si anak lincah selalu mengejek Siti yang berjalan perlahan. “Siti, lambat sekali! Aku boleh berlari dengan cepat!” Aiman berkata sambil ketawa. Suatu hari, Aiman mencabar Siti berlumba di Pasar Malam. Siti setuju. “Boleh, Aiman! Tapi aku minta seminggu untuk bersedia.” Siti beritahu rakan-rakannya. “Tolonglah, kawan-kawan! Bantu aku menang perlumbaan!” kata Siti. Rakan-rakannya setuju. Mereka berjalan bersama Siti, saling membantu. Tibalah hari perlumbaan! Aiman berlari dengan pantas, melihat Siti. “Hahaha! Aku sudah hampir sampai!” Aiman mengejek. Tapi, Siti sudah di depan! Aiman berlari lebih cepat lagi, tapi Siti tetap mendahuluinya. Akhirnya, Aiman mengaku kalah. “Aku kalah, Siti! Maafkan aku kerana mengejekmu.” Aiman berkata dengan sedih. Sejak itu, Aiman dan Siti menjadi sahabat baik. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Pertengkaran di Kantin Sekolah

Di kantin sekolah yang ramai, ada seorang guru yang mengajar silat. Banyak murid yang ikut belajar, termasuklah Adi, Budi, Cici, dan Didi. Mereka semua menjadi jagoan silat. Guru mengingatkan, “Silat itu untuk membela diri dan membantu orang lain, bukan untuk berkelahi!” Sayangnya, Adi, Budi, Cici, dan Didi mulai menggunakan silat untuk memamerkan diri dan membuat onar di kantin. Mereka saling mendorong dan berkelahi. Ibu kantin sangat sedih melihat ini. Ia memberitahu guru silat. Guru silat lalu mengajak mereka duduk dan berbicara. Ia menjelaskan bahwa silat itu seperti kekuatan, harus digunakan dengan bijak dan untuk kebaikan bersama. Adi, Budi, Cici, dan Didi akhirnya mengerti dan meminta maaf. Mereka berjanji akan menggunakan silat untuk membantu teman-temannya dan menjaga ketertiban di kantin. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Balau dan Harimau di Pasar Malam

Balau adalah seekor kerbau peliharaan Pak Cik Kundur. Dulu dia kuat membantu, tapi sekarang dia sering mengantuk di rumah. Suatu hari, Pak Cik Kundur bercerita kepada Mak Cik Kundur. Mereka berdua berpikir untuk menjual Balau. Di Pasar Malam, orang-orang kampung terkejut! Ada harimau yang berkeliaran dan mencuri makanan. Mereka ingin menangkap harimau itu. Pak Cik Kundur mengajak Balau untuk membantu. Pada hari itu, Balau dibawa ke dekat pasar. Balau berdiri di depan jebakan yang dibuat. Ketika harimau datang, Balau pura-pura tertidur. Harimau mengendus-endus dan mendekat. Tiba-tiba, Balau bangun dan menendang harimau! Harimau meraung kesakitan. Ketika harimau ingin membalas, Balau menendang perutnya! Harimau terjatuh dan tidak bisa bergerak lagi. Semua orang di Pasar Malam bersorak gembira! Balau telah menyelamatkan Pasar Malam. Balau dibawa pulang. Pak Cik Kundur sangat bangga dan tidak jadi menjualnya. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Buah Lemayung di Pasar Malam Kampung

Di Pasar Malam Kampung Melayu, hiduplah dua adik-beradik bernama Simbah dan Umbai. Ayah mereka sudah tidak ada, dan Ibu mereka juga telah tiada. Sebelum Ibu pergi, beliau memberikan sebiji buah Lemayung yang besar sekali kepada mereka. “Bagilah buah ini dengan adil, ya,” pesan Ibu. Umbai, yang suka sekali makan, ingin segera memakan buah Lemayung itu. “Simbah, kamu saja yang bagi buahnya,” katanya. Simbah membagi buah itu menjadi dua bagian yang sama. Umbai memilih bagian yang terlihat lebih besar, sedangkan Simbah menerima bagian yang lebih kecil tanpa komplain. Simbah memakan buahnya sedikit demi sedikit, sedangkan Umbai menghabiskannya dengan cepat. Beberapa hari kemudian, perut Umbai kembali lapar. Ia meminta Simbah membagi buah Lemayung lagi. Simbah menjawab, “Maaf, Umbai, buahku sudah habis.” Umbai marah dan teringat pesan Ibu. Ia merasa bersalah. Akhirnya, mereka berdua mengerti bahwa berbagi itu penting, seperti berbagi makanan di Pasar Malam yang ramai ini. Penulis: CKK2...

Raja Azman dan Bau di Pasar Malam

Raja Azman dan teman-temannya melarikan diri dari sekolah setelah kalah dalam pertandingan. Tiba-tiba, seorang pengawal Azman berteriak, “Lihat, banyak sekali sampah di sana!” Raja Azman bangkit dengan pengawalnya. Dia sangat terkejut melihat begitu banyak sampah. Dia lalu memerintahkan pengawalnya untuk membersihkan sampah itu. Setelah dibersihkan, banyak sekali tumpukan sampah. Tetapi di malamnya, datanglah lebih banyak sampah lagi sehingga pasar malam berbau busuk. Raja Azman berkata, “Kita tinggalkan saja pasar malam ini. Membuang-buang waktu dan tenaga kita membersihkan sampah. Lagipula pasar malam ini berbau busuk. Hanya sampah yang cocok berada di sini.” Semua teman-temannya tertawa mendengar perkataan Raja Azman. Mereka pun segera meninggalkan pasar malam itu. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Itam dan Kejutan di Pasar Malam

Di Kampung Sembilan, hiduplah seorang budak lelaki bernama Itam. Kakinya sedikit terganggu dan matanya tidak lurus. Dia sering diejek oleh rakan-rakannya di sekolah. Suatu petang, Itam pergi ke hujung kampung, di mana ada taman bermain. Itam merasa tenang di sana lalu duduk di bawah sebatang pokok. Ketika dia bangun, Itam melihat cahaya terang dari Pasar Malam yang sedang berlangsung. Kelihatan seorang gadis yang baik hati sedang menunggunya. Gadis itu menyuruh Itam mencuci muka di air mancur dan memakai baju baru yang telah disediakannya. Sekarang, Itam berjalan dengan lebih baik dan terlihat lebih ceria. Dia pun pulang ke rumahnya. Sebelum pulang, gadis itu memberikannya gelang persahabatan. Jika dia merasa sedih, gadis itu menyuruh Itam memegang gelang itu. Ibu dan Ayah Itam mahu mengadakan parti kecil untuk Itam dan rakan-rakannya, tetapi mereka tidak mempunyai wang. Itam teringat akan gelang yang diberikan oleh gadis itu, lalu memegangnya dan memohon bantuan. Tiba-tiba, banyak mak...

Pasar Malam dan Cik Siti

Di Pasar Malam Pinang Tunggal, hiduplah seorang penjual kuih bernama Pak Said bersama anak perempuannya, Cik Siti. Pak Said mahu cari teman untuk Cik Siti. Tapi ada syarat! Calon teman kena bantu Pak Said di gerai selama tiga minggu dan tak boleh marah. Kalau marah, Pak Said akan jual kuihnya! Ramai anak muda datang membantu, tapi semuanya gagal. Pak Said pula makin kaya dengan kuihnya! Suatu hari, Adi datang membantu. Pak Said suruh Adi susun kuih. Selesai sudah, Adi minta Pak Said bawa dulang kuih itu ke rumah. Sebelum itu, Pak Said berhenti sebentar nak tengok kuih yang sudah siap. Adi terus bersembunyi di bawah dulang! “Wah, beratnya dulang ini!” keluh Pak Said. Sampai di rumah, Pak Said terkejut tengok Adi keluar dari bawah dulang. Dia nak marah, tapi takut kuihnya dijual! Esoknya, Pak Said suruh Adi susun kuih dan cari buah. Pak Said cepat-cepat bersembunyi di bawah dulang. Tengok je tapak kaki Pak Said, Adi sengaja letakkan buah di atas dulang sampai berat. Kemudian dia bawa dul...

Ayu dan Pesta di Pasar Malam

Ayu adalah seorang anak yang baik hati. Ayahnya baru saja belajar tentang cara hidup yang lebih baik. Ayu punya adik laki-laki bernama Rio yang suka sekali bermain dan sering lupa aturan. Suatu hari, Rio mengajak teman-temannya pergi ke Pasar Malam dengan banyak teman dan makanan enak. Rio punya rencana untuk makan semua makanan manis tanpa berbagi! Di Pasar Malam, Rio meminta teman-temannya membeli es krim dan kue. Mereka makan dan tertawa sepanjang malam. Tapi, Kakak Ayu, seorang guru yang bijaksana, ikut pergi bersama mereka. Ia melihat Rio ingin makan semua makanan sendiri dan mengingatkannya untuk berbagi. Rio malah marah dan mengusir Kakak Ayu. Tiba-tiba, hujan deras turun! Rio tidak bisa bergerak! Semua makanan dan Rio berubah menjadi patung es krim dan kue yang besar. Sekarang, patung itu menjadi pengingat di Pasar Malam, agar kita selalu berbagi dan mendengarkan nasihat orang yang lebih tua. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Aisyah dan Bunga Durian di Pasar Malam

Dahulu kala, di sebuah kota yang ramai, hiduplah Aisyah yang merasa sendiri. Ayahnya dan ibunya bekerja sampai larut malam. Suatu hari, Aisyah pergi ke Pasar Malam bersama neneknya, tetapi tidak ada yang menarik perhatiannya. Aisyah yang sedih berjalan melewati gerobak bunga durian yang cantik. Tiba-tiba, Aisyah melihat seorang gadis sedang memetik bunga durian. Begitu melihat Aisyah, gadis itu lari dengan cepat! Aisyah yang tertarik, setiap hari datang ke Pasar Malam untuk mencari gadis itu. Gadis itu akhirnya bercerita, “Aku sebenarnya penjaga bunga durian ini. Lihatlah tanganku, tidak seperti tanganmu. Sebentar lagi bunga-bunga ini akan layu karena panasnya lampu Pasar Malam.” Aisyah tidak ingin kehilangan gadis itu. Karena itu, Aisyah membantu menjaga bunga durian setiap hari. Sejak saat itu, bunga durian di Pasar Malam selalu segar dan indah. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Ayu dan Dodi: Kejadian di Pasar Malam

Ayu dan Dodi adalah sahabat baik. Mereka selalu pergi ke Pasar Malam bersama-sama setiap hari Sabtu. Mereka suka sekali mencari makanan enak dan mainan baru. Suatu hari, mereka sedang asyik mencari jajanan di Pasar Malam. Ayu mengajak Dodi bermain petak umpet di antara tenda-tenda. Tiba-tiba, mereka melihat ada penjual es krim yang sedang sibuk. Ayu dan Dodi berlari mengejar es krim itu sampai tersandung di antara kaki meja. Dodi menghela napas, “Sudah, Ayu, cari es krim di tempat lain saja.” Tapi Ayu berkata, “Dodi, coba lihat di bawah meja itu!” Dodi pun memanjangkan lehernya untuk melihat di bawah meja. Tiba-tiba, sebuah kotak mainan jatuh dan menimpa kepala Dodi! Leher Dodi terjepit di antara kaki meja. Ayu dengan cepat mendorong kotak itu, dan Dodi berusaha menarik lehernya. Setelah berusaha keras, akhirnya leher Dodi berhasil keluar. Namun, ada yang aneh terjadi pada Dodi. Lehernya menjadi sangat panjang! Sejak saat itu, leher Dodi selalu panjang, seperti leher angsa! Penuli...

Dulang Emas di Pasar Malam

Di Pasar Malam yang ramai, seorang gadis bernama Aisyah membantu ibunya menjajakan kuih. Setiap hari, Aisyah pergi ke belakang pasar untuk mencuci pinggan. Suatu hari, Aisyah melihat sebuah dulang emas mengapung di saluran air. Ia menarik dulang itu dan membawanya pulang. Malamnya, Aisyah bermimpi bertemu dengan seorang nenek tua yang baik hati. Nenek itu berkata, “Jika kamu ingin dulang emas itu menjadi milikmu, kamu harus melemparkannya ke saluran air tengah hari sebanyak 44 kali.” Keesokan harinya, Aisyah melakukan seperti yang dikatakan nenek tua dalam mimpinya. Ia melemparkan dulang emas ke saluran air. Dulang itu tenggelam, lalu muncul kembali. Aisyah mengulanginya lagi dan lagi. Setelah sepuluh kali, Aisyah merasa, “Ini tidak masuk akal! Mengapa aku harus membuang-buang emas?” Aisyah lalu meletakkan dulang emas di dekat tempat tidurnya dan tidur. Pagi harinya, dulang emas itu hilang! Aisyah teringat pesan nenek tua. Ia segera pergi ke belakang pasar, menunggu, tetapi dulang emas...

Madu Penawar di Pasar Malam

Di sebuah kampung yang ramai, tiba-tiba banyak anak-anak yang sakit karena panas matahari setelah bermain di Pasar Malam. Mereka merasa lapar dan lemas. Seorang anak laki-laki bernama Adi melihat banyak sekali lebah kecil berkerumun di sekitar bunga-bunga di taman dekat Pasar Malam. Adi mengikuti lebah-lebah itu dan melihat tetesan manis menetes dari mereka. Adi mencicipi tetesan itu dan merasakan tubuhnya langsung segar. Laparnya juga hilang! Adi segera mengambil daun dan menadah tetesan manis itu. Kemudian, Adi membagikan tetesan madu itu kepada teman-temannya yang sakit. Semua anak-anak merasa lebih baik dan perut mereka kenyang. Mereka tahu bahwa madu dari lebah adalah obat yang hebat dan bisa ditemukan di dekat Pasar Malam! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Pakcik Sino dan Suman di Pasar Malam

Di Pasar Malam Kampung Permatang Ringi, ada seorang Pakcik bernama Sino yang menjual gasing. Dia sangat baik hati. Suatu hari, datanglah seorang budak lelaki bernama Suman. Dia mahu membeli gasing untuk pertandingan di sekolah. Pakcik Sino menjual gasing itu dengan harga dua keping syiling. Suman berpura-pura tidak membawa wang dan berjanji akan membayarnya selepas pertandingan. Tapi, setelah Suman menang dan mendapat banyak hadiah, dia lupa membayar kepada Pakcik Sino. Pakcik Sino lalu mencari Suman dan meminta bayarannya. Suman tidak mahu berjumpa. “Suman, aku janji gasing ini takkan buat kamu menang lagi kalau kamu tak bayar!” kata Pakcik Sino. Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan pertandingan gasing lagi. Suman tidak menang dan dia menyesal. Dia memberi sepuluh keping syiling kepada Pakcik Sino, tetapi Pakcik Sino hanya mengambil dua keping sahaja. Suman pulang dengan perasaan kecewa. Dia tak layak jadi juara sekolah. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2...

Tebu di Pasar Malam

Mak Misah tinggal bersama dua anaknya, Melor dan Jali, di sebuah rumah dekat Pasar Malam. Sejak Ayah mereka tidak ada, Mak Misah menanam tebu di halaman rumah. Melor dan Jali suka sekali membeli tebu di Pasar Malam. Suatu hari, Mak Misah pesan, “Jangan beli tebu yang paling besar di Pasar Malam, itu untuk Ibu!” Suatu hari, Mak Misah pergi ke Pasar Malam untuk membeli sayur. Tinggal Melor dan Jali. Jali meminta kakaknya membeli tebu yang paling besar di Pasar Malam. Walaupun sudah dilarang, Jali tetap ingin. Melor yang sayang adiknya, akhirnya membeli tebu yang besar itu. Mak Misah sangat kecewa melihat tebunya sudah habis dimakan! Dia marah dan memarahi Melor. Melor merasa bersalah dan berdoa, “Ya Tuhan, semoga aku bisa menjadi orang yang lebih baik!” Melor lalu membantu Mak Misah berjualan di Pasar Malam. Dia belajar bekerja keras dan membantu orang lain. Putera seorang pedagang di Pasar Malam melihat kebaikan hati Melor dan melamarnya. Melor pun menikah dan mereka hidup bahagia bersa...

Badu dan Ayam Kampung di Pasar Malam

Angin sepoi-sepoi bertiup di Pasar Malam yang ramai. Badu, anak laki-laki yang baik hati, sedang memilih rumput jagung untuk makan malam. Dia sangat senang berada di Pasar Malam yang penuh warna. Di saat yang sama, seekor ayam kampung kecil sedang mencari remah-remah di Pasar Malam yang sama. Dia berjalan pelan-pelan sambil mengibaskan ekornya. Mereka berdua terlalu asyik. Badu asyik memilih jagung, sementara ayam kampung kecil asyik mencari remah. Mereka tidak memperhatikan sekeliling. Tiba-tiba, “Aduh! Sakit! Tolong!” Rupa-rupanya kaki Badu yang besar itu tidak sengaja menginjak ekor ayam kampung kecil. Ayam kampung kecil meringis kesakitan. Badu yang baru sadar langsung mengangkat kakinya dan meminta maaf. Tapi belum sempat dia bicara, ayam kampung kecil mencolek kakinya! Kakinya sedikit terkilir! Badu yang ingin membalas dendam tidak bisa, karena ayam kampung kecil sudah berlari menghindar ke antara kaki orang-orang. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Aisyah dan Pesta di Pasar Malam

Aisyah tinggal bersama ayah dan ibunya. Suatu hari, seorang anak lelaki kaya, namanya Rizal, datang meminta Aisyah menjadi pasangannya. Rizal punya rumah yang besar dan sering mengadakan pesta. Aisyah pun setuju dan mereka bahagia. Tapi, suatu hari, semua koki Rizal sakit. Aisyah lah yang memasak untuk semua orang di rumah. Rizal ingin mengundang teman-temannya ke pesta di Pasar Malam. Dia meminta Aisyah memasak hidangan istimewa. Aisyah dengan senang hati memasak nasi lemak dan kuih-kuih. Ketika hidangan disajikan, teman-teman Rizal terkejut! “Aisyah ini rupanya tak pandai masak!” kata mereka. Rizal merasa malu dan berkata, “Aisyah ini rupanya kurang pandai memasak.” Teman-teman Rizal cepat-cepat pergi. “Cari teman yang pandai, ya! Jangan pilih yang kurang pandai,” pesan mereka. Aisyah tersenyum. Dia tahu, dia pandai dalam banyak hal, memasak bukan segalanya! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Kintan, Bintik, dan Pasar Malam yang Ramai

Kintan ialah anak lelaki kepada Pak Yop dan Mak Biah. Kintan sangat disayangi oleh semua orang di kampung. Kintan membantu bapanya mengangkut kotak di pasar malam dan menolong ibunya mengemas kuih. Kintan juga suka membantu jiran-jiran. Mereka memelihara seekor ayam jantan bernama Bintik. Suatu hari, Kintan secara tidak sengaja menjatuhkan nasi ke lantai di dapur. Mak Biah sangat marah terhadapnya. “Kamu memang tak tahu untung! Ayah kamu penat-penat berniaga di pasar malam, kamu senang-senang bazirkan nasi. Tengah hari ini kamu tak payah makan,” marah Mak Biah. Kintan merajuk lalu berjumpa Bintik di beranda rumah. “Bintik, saya sedih sekali. Emak saya marahi saya. Saya bukannya sengaja menjatuhkan nasi. Bintik, alangkah bagusnya kalau saya juga boleh lari cepat seperti kamu. Bolehlah saya lari dari sini!” kata Kintan. “Naiklah ke belakang saya. Saya akan bawa kamu lari ke pasar malam dan jauh dari sini,” kata Bintik. Kintan pun naik ke belakang Bintik dan mereka berlari dengan riang di...

Raja Azam dan Puteri Aisyah

Dahulu kala, hiduplah Raja Azam, seorang pelajar yang dulu rajin belajar. Dia menikah dengan Puteri Aisyah, seorang gadis yang sangat ceria. Suatu hari, Puteri Aisyah mengandung anak pertama mereka. Sejak saat itu, Raja Azam lebih suka bermain game di telefon daripada belajar untuk ujian. Teman-temannya dan Puteri Aisyah merasa kecewa melihatnya. Bahkan, dia jarang sekali pulang ke rumah. Waktu Puteri Aisyah akan melahirkan, dia meminta ibunya memanggil Raja Azam pulang. Tapi, Raja Azam tidak peduli. Akhirnya, Puteri Aisyah melahirkan seorang anak laki-laki bernama Raja Dewana. Karena hatinya terluka, Puteri Aisyah memutuskan untuk membawa anaknya tinggal bersama neneknya. Dia merasa Raja Azam tidak menyayanginya lagi. Puteri Aisyah membawa Raja Dewana ke rumah neneknya. Ketika Raja Azam akhirnya pulang, ibunya menceritakan semuanya. Raja Azam sangat menyesal karena telah mengabaikan istrinya dan anaknya. Dia berjanji akan belajar lebih giat dan menjadi suami yang baik lagi. Penul...

Susu Puteri Mutiara di Pasar Malam

Pakcik Ahmad sangat kecewa ketika mengetahui putrinya, Aisyah, berkahwin dengan Budi, anak Pak Cik Ali dari seberang jalan. Pakcik Ahmad marah dan menyuruh Aisyah pergi ke taman belakang rumah dan… jangan sedih ya! Tapi Pak Cik Ahmad kasihan pada Aisyah, jadi dia membina pondok kecil di taman dan membawakan makanan untuknya. Aisyah melahirkan seorang bayi yang lucu. Ketika Aisyah menyusukan bayinya, setetes susu jatuh ke lantai. Ajaib! Tumbuhlah sebatang pokok kecil di sana! Pokok itu tidak seperti pokok-pokok lain. Daunnya berkilauan, baunya harum sekali. Beberapa tahun kemudian, Pakcik Ahmad pergi ke pasar malam dan tersesat. Dia sampai di pondok Aisyah. Pakcik Ahmad dan teman-temannya bermalam di sana. Keesokan paginya, Aisyah menghidangkan buah yang wangi. “Buah apa ini? Baunya harum dan rasanya enak sekali!” tanya Pakcik Ahmad. Aisyah menunjuk ke pokok yang tumbuh dari setetes susunya. Aisyah menceritakan semuanya. Pakcik Ahmad menangis terharu. Dia memeluk Aisyah dan cucunya. Pak...

Ulat di Pasar Malam: Kejutan yang Tak Terduga!

Di pasar malam yang ramai, semua anak-anak asyik bermain. Ada lomba makan kerisik, ada juga pertunjukan badut. Tiba-tiba, ada lomba kekuatan! Gajah besar melawan ular sawa yang lincah. Kancil bertugas menjadi wasit. Ular sawa diminta membuang sedikit cairan berwarna hijau ke dalam gelas. Sial! Seekor ulat bulu kecil, namanya Uli, lewat saja! Cairan hijau itu mengenai bulunya. Uli mencoba membersihkan bulunya, tapi tidak berhasil. Lama-lama, bulunya jadi terasa kuat sekali! Lalu, seorang anak tidak sengaja menginjak Uli. “Aduh!” kata anak itu. Uli sadar, cairan hijau itu kini jadi perisai untuk dirinya. Wah, hebat! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Bunga Cengkih di Pasar Malam Kampung

Di sebuah kampung yang ramai, hiduplah Pakcik Kijang dan Makcik Kijang yang baik hati. Mereka punya anak, Putri Kancil yang manis. Tapi, ada masalah! Semua orang di kampung, termasuk Pakcik dan Makcik Kijang, tidak bisa berbicara dengan jelas karena mulut mereka berbau kurang sedap! Mereka jadi malu. Suatu sore, Putri Kancil sedang bermain di pasar malam bersama teman-temannya. Tiba-tiba, dia melihat penjual bunga yang unik. Bunga itu berwarna merah cantik dan harum sekali. Penjual itu bilang, “Bunga Cengkih ini bisa menghilangkan bau mulut, lho!” Putri Kancil membeli beberapa tangkai dan memakannya. Beberapa hari kemudian, mulut Putri Kancil sudah tidak berbau lagi! Dia sangat senang dan memberitahu orang tuanya. Pakcik dan Makcik Kijang juga ikut memakan bunga Cengkih itu. Ajaibnya, bau tidak enak di mulut semua orang hilang! Mereka bisa berbicara dengan jelas dan semua orang di kampung senang sekali! Pakcik Kijang lalu menanam banyak bunga Cengkih dan menjualnya di pasar malam. Has...

Gelugur dan Jelutong di Pasar Kampung

Di pasar kampung yang ramai, ada banyak penjual buah Gelugur. Setiap minggu, mereka membawa banyak sekali buah Gelugur, tetapi tidak ada yang mau membeli. Mereka bingung, lalu memutuskan untuk membuang buah-buah itu. Kemudian, mereka pergi mencari getah Jelutong untuk membuat lilin di rumah. Di pasar lain, ada penjual getah Jelutong. Mereka juga tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan getah Jelutong, jadi mereka membuangnya. Mereka sering mencari buah Gelugur untuk membuat kue kering. Suatu hari, seorang anak dari penjual Jelutong tersesat di pasar Gelugur. Dia melihat anak-anak membuang buah Gelugur dan berkata, “Jangan buang! Buah Gelugur bisa dibuat jadi es krim, jus, atau kue!” Anak itu lalu bertemu dengan anak penjual Gelugur. Mereka bertukar ide. Sejak itu, kedua penjual tidak lagi membuang buah Gelugur dan getah Jelutong. Mereka membuat berbagai macam makanan dan minuman, dan pasar mereka menjadi lebih ramai dan menyenangkan! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-K...

Pak Amin dan Ikan di Pasar Malam

Pak Amin adalah seorang nelayan yang rajin. Setiap hari, dia pergi memancing untuk mencari ikan. Beberapa ikan dijual di pasar malam, sisanya dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Tapi, Pak Amin kadang-kadang suka melebih-lebihkan cerita. Suatu hari, Pak Amin menangkap seekor ikan besar di sungai. Tiba-tiba, ikan itu berbicara, “Pak Amin, lepaskan aku! Aku akan memberimu rezeki yang banyak, asalkan kamu tidak berbohong lagi.” Pak Amin melepaskan ikan itu. Sesampainya di rumah, dia terkejut! Ada banyak uang dan hadiah di depan pintu rumahnya. Pak Amin sangat senang! Dia jadi terkenal di kampung. Suatu hari, teman masa kecil Pak Amin, Adi, datang menemuinya. “Pak Amin, kamu ingat aku? Dulu kita sering bermain bersama!” “Tidak! Aku tidak kenal kamu!” kata Pak Amin dengan sombong. Padahal, Pak Amin ingat betul Adi. Sore harinya, Pak Amin pulang ke rumah dan terkejut! Semua uang dan hadiahnya sudah tidak ada! Dia ingat janji dengan ikan. Pak Amin segera berlari ke sungai dan meminta maaf p...

Si Tukang Sepatu dan Burung Geroda di Pasar Malam

Di sebuah pasar malam yang ramai, hiduplah seekor Burung Geroda yang suka mencuri makanan dari pedagang. Banyak sekali makanan yang hilang karena ulahnya! Pak Lurah sangat kesal. Dia mengirimkan beberapa anak muda untuk menangkap Burung Geroda itu, tetapi Burung Geroda terlalu cepat dan lolos dari mereka. Suatu hari, datanglah seorang tukang sepatu yang baik hati. “Pak Lurah, boleh saya mencoba menangkap Burung Geroda itu?” tanyanya. Pak Lurah bingung, tetapi mengizinkan. Tukang sepatu itu pergi ke tempat Burung Geroda biasa mencari makan. Dia menunggu dengan tenang. Saat Burung Geroda datang, tukang sepatu itu dengan cepat menaburkan lem di tanah, lalu menyalakan petasan kecil. Burung Geroda lengket dan kaget! Dia terbang menjauh, dan tidak kembali lagi ke pasar malam. Semua pedagang senang dan berterima kasih pada tukang sepatu yang pintar! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Harimau dan Anak di Pasar Malam

Di sebuah Pasar Malam yang ramai, hiduplah seekor Harimau yang besar dan suka makan sosis. Suatu hari, seorang anak laki-laki sedang membantu ibunya menjaga kerbau mainan yang dijual. Tiba-tiba, Harimau datang dan mengambil semua kerbau mainan! Ibu anak itu sangat marah dan menyuruh anaknya mengganti kerbau mainan itu. Anak itu sedih sekali. Dia duduk di bangku dekat gerai es krim, memikirkan nasibnya. Tiba-tiba, muncul seorang Pak Cik tua. “Jangan sedih, Nak! Ambil lem ini dan tempelkan pada mulut dan kaki Harimau!” kata Pak Cik itu lalu pergi. Keesokan harinya, Harimau datang lagi. Anak itu dengan berani menempelkan lem pada mulut dan kaki Harimau. Harimau tidak bisa membuka mulutnya dan menggerakkan kakinya! Anak itu lalu membawa Harimau ke hadapan penjual Pasar Malam. “Jangan ambil kerbau mainan kami lagi!” seru anak itu. Harimau yang ketakutan lari dari Pasar Malam. Sejak itu, Harimau tidak lagi datang ke Pasar Malam. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2 ...

Rantai Emas di Pasar Malam

Adi dan ibunya tinggal di rumah sederhana. Mereka bekerja membantu di Pasar Malam. Jika mereka bisa menjual banyak makanan, mereka bisa membeli sedikit barang. Jika tidak, cukup untuk makan malam. Suatu sore, mereka pergi ke Pasar Malam dengan harapan bisa menjual banyak. Setelah lama berjualan, tidak ada yang membeli banyak. Ibu Adi mulai sedih. “Ayo pulang, Bu,” kata Adi. “Sabar, Nak. Mungkin nanti ada rezeki,” jawab ibunya. Tiba-tiba, Adi menemukan sesuatu berkilauan di dekat gerobak mereka! Ternyata itu adalah rantai emas yang sangat panjang! Adi dan ibunya sangat gembira. Mereka mencoba membawa rantai itu ke gerobak. Semakin mereka bawa, rantai itu semakin panjang, tak ada habisnya! Penjual lain di Pasar Malam berteriak, “Hati-hati! Jangan terlalu banyak!” Adi ingin memotong rantai itu, tapi ibunya tidak mengizinkan. Ibunya terus menarik rantai itu. Gerobak mereka akhirnya terlalu berat dan roboh! Adi dan ibunya harus membersihkan kekacauan itu. Adi menyesal karena terlalu tamak. ...

Padi di Pasar Malam

Dulu sekali, ada sepasang suami isteri yang berjualan di Pasar Malam. Mereka menjual nasi yang dibuat dari padi hasil tanam mereka sendiri. Tapi, setiap kali nasi sudah siap, banyak sekali anak-anak burung yang datang dan memakannya! Suami isteri itu sedih sekali. Mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan membantu Pakcik Kaya yang terkenal kikir. Pakcik Kaya itu hanya memberi sedikit sekali upah, padahal mereka bekerja sangat keras. Di rumah Pakcik Kaya, ada banyak sekali burung merpati yang dipelihara di dalam kandang. Suatu hari, si isteri kasihan melihat burung-burung merpati itu. Dia membuka pintu kandang. Seketika, burung-burung merpati terbang bebas! Pakcik Kaya sangat marah dan memarahi mereka. Mereka pulang ke rumah dan menanam padi lagi. Ajaibnya, padi mereka tidak lagi dimakan burung! Ternyata, burung-burung merpati yang dilepaskan, kini membantu menjaga padi mereka. Suami isteri itu sangat gembira dan hidup mereka menjadi lebih baik. Suatu hari, seorang anak kecil yang miski...

Tebu di Pasar Malam

Di pasar malam yang ramai, ada sekelompok anak nakal berencana untuk mengambil alih permainan bola mereka dari anak-anak lain. Mereka mendekati penjual es krim yang menjadi seperti raja di pasar malam itu. “Pak Cik, kalau kami bisa mengerat sebatang tebu tanpa putus, kami akan memberikan semua uang jajan kami kepada Pak Cik.” “Bagaimana kalau tidak bisa?” tanya Pak Cik. “Pasar malam ini akan menjadi milik kami!” jawab anak-anak itu. Pak Cik berpikir keras. Dia meminta bantuan seorang anak kecil yang pintar. Anak kecil itu setuju membantu. Saatnya tiba, anak-anak nakal itu datang. Anak kecil itu mengerat tebu itu dengan cepat, dan… *potong!* Tebu itu putus! Anak-anak nakal itu tertawa senang. Tapi anak kecil itu berkata, “Tebu ini tidak putus, karena saya akan menanam kembali pucuknya di sini. Lihat!” Anak kecil itu menanam pucuk tebu itu. Anak-anak nakal itu terdiam dan menyesal. Mereka memberikan semua uang jajan mereka kepada Pak Cik, dan Pak Cik mengingatkan mereka untuk bermain den...

Cukai di Pasar Malam Kampung

Di Pasar Malam Kampung yang ramai, hiduplah banyak anak-anak yang suka bermain. Pasar Malam itu adalah tempat mereka membeli kuih dan mainan. Tetapi, ada satu masalah – Pakcik Buaya yang suka mengambil duit anak-anak! Dia bilang, itu ‘cukai’ untuk pasar malam. Suatu hari, seorang anak lelaki yang baru pindah ke kampung itu melihat kejadian itu. “Jangan takut!” serunya. Dia lalu menghampiri Pakcik Buaya dan berbicara dengan lembut. “Pakcik, anak-anak ini bekerja keras untuk membeli kuih. Jangan ambil duit mereka!” Pakcik Buaya terdiam. Dia melihat wajah anak-anak yang sedih. Lalu, Pakcik Buaya tersenyum. “Maafkan aku, anak-anak. Aku tidak seharusnya meminta ‘cukai’ seperti itu.” Sejak itu, Pakcik Buaya tidak lagi meminta ‘cukai’. Anak-anak senang hati bermain di Pasar Malam Kampung. Mereka menamakan Pasar Malam itu ‘Cukai’ sebagai tanda kebaikan hati dan semangat kejiranan. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Warna Bulu Gagak di Pasar Malam

Dulu, semua burung di sekolah berwarna putih. Suatu hari, ada murid yang membawa cat warna-warni dari Pasar Malam. Dia mengajak semua murid untuk mewarnai bulu burung mainan mereka. Si Gagak yang suka membantu setuju. “Aku bantu warnai bulu kalian ya!” katanya. Setelah lama mewarnai, bulu merak pun selesai dengan warna-warni yang cantik. Merak sangat senang dan langsung pergi bermain. Saat Gagak masih sibuk mewarnai, tiba-tiba ada sisa makanan jatuh di dekatnya. Semakin lama, sisa makanan itu mulai berbau tidak enak. Gagak jadi tidak sabar, ia ingin sisa makanan itu! “Cepat bantu, aku mau sisa makanan itu!” desak Gagak. Namun, Merak tidak sabar dan menyuruh Gagak mewarnai bulunya hanya dengan satu warna saja. Akhirnya, Merak mewarnai seluruh tubuh Gagak menjadi hitam. Itulah sebabnya Gagak sekarang berwarna hitam. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Bacang dan Duren di Pasar Malam

Di Pasar Malam yang ramai, ada dua penjual buah, Bacang dan Duren. Duren selalu ramai pembeli karena baunya harum dan rasanya enak sekali. Bacang merasa sedikit sedih, karena buahnya kurang laku. “Duren, bolehkah kamu berbagi sedikit wangimu? Aku juga ingin pelanggan suka padaku,” kata Bacang dengan nada cemas. “Bacang, bersyukurlah dengan apa yang kamu punya. Setiap buah punya keistimewaannya sendiri,” jawab Duren sambil tersenyum. Tapi Bacang tetap merasa kurang. Suatu malam, Bacang mencoba menyemprotkan parfum yang mirip bau Duren ke buahnya. Tapi, baunya malah jadi aneh dan tidak enak. Duren yang melihat, merasa kasihan. Sejak saat itu, Bacang dan Duren memilih berjualan di tempat yang berbeda. Bacang tetap menjual buahnya, dan Duren tetap menjadi favorit di Pasar Malam. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Dua Sahabat di Pasar Malam

Suatu malam, Adi bermimpi melihat sahabatnya, Maya, sedang sedih di pasar malam. Adi dan teman-temannya, sekelompok anak yang suka membantu, segera pergi ke pasar malam untuk mencari Maya. Perjalanan mereka agak jauh, dan beberapa teman menjadi lelah. Adi terus mencari hingga tiba di sebuah stan yang ramai. Di sana, dia menemukan Maya dan dua orang temannya. Maya menceritakan dia kehilangan uang jajan untuk membeli es krim. Adi ingin sekali membantu Maya. Padahal, dia sudah berjanji akan membeli mainan baru. Ketika Maya melihat Adi, dia datang marah-marah. Teman-teman Maya berteriak, “Adi, Maya sedih!” Tetapi Adi terlalu asyik bermain tebak-tebakan dengan teman-temannya, dia tidak mendengar apa-apa. Kedua sahabat itu bertengkar hingga sampai di dekat air mancur. Tiba-tiba, air mancur menyembur tinggi dan membasahi mereka berdua! Adi menangis sedih ketika mendengar cerita itu. Sejak saat itu, Adi duduk termenung di dekat air mancur sambil memegang sebuah kelereng, mengenang Maya. P...

Puteri di Pasar Malam dan Dewa yang Tak Ramah

Puteri di Pasar Malam dijodohkan dengan Dewa yang tak ramah. Puteri itu tidak suka dengan Dewa itu, dia sangat sedih dengan pertunangan itu. Di tepi gerai kuih di Pasar Malam, Puteri itu merenung nasibnya. Tiba-tiba dia mendengar bunyi seruling yang merdu dari penjual balon. Puteri itu terus pingsan. Ibunya segera memanggil doktor untuk mencari penawar. Seorang anak lelaki yang suka membantu, dia menyuruh kawan baiknya, seorang tukang pos, menghantar surat kepada penjual balon. Penjual balon itu ialah Raja Donan, seorang pemuda yang baik hati. Mengetahui apa yang terjadi, dia segera ke gerai Puteri lalu meniup serulingnya. Serta-merta, Puteri itu sembuh. Puteri itu mengadu nasibnya kepada Raja Donan. Raja Donan berjanji untuk membantunya. Dia bertukar menjadi seorang budak yang malu-malu lalu menemui Dewa yang tak ramah. Dia mahu bermain tebak-tebakan dengan Dewa itu. “Sebelum kita bermain, marilah kita bertaruh. Aku bertaruh sekolahku dan tunanganku,” soal Dewa itu dengan sombong. “Ti...

Bujang Terboyoi di Pasar Malam

Di sebuah pasar malam yang ramai, hiduplah sepasang ibu bapa yang bekerja keras. Suatu hari, mereka dikaruniakan seorang anak lelaki yang diberi nama Bujang Terboyoi. Berita itu sampai ke Tuan Besar, pemilik pasar malam. Beliau meminta Pak Cik Ramli, seorang penasihat, untuk meramalkan nasib anak itu. Pak Cik Ramli berkata, “Anak ini kelak akan membawa masalah besar!” Tuan Besar memerintahkan Bujang Terboyoi ditinggalkan di taman bermain. Dengan berat hati, ibu Bujang membawanya ke sana. “Jangan risau, Ibu. Tinggalkan sahaja saya di sini, dan doakan saya kuat,” kata Bujang Terboyoi. Bujang Terboyoi membesar di taman bermain. Anak-anak lain mengajarkannya bermain bola, melukis, dan berdikari. Seorang tukang jam yang baik hati memberikannya sebuah gelang tangan ajaib. Suatu hari, Bujang Terboyoi kembali ke pasar malam. “Tuan Besar, izinkan saya membantu ibu bapa saya,” pintanya, sambil menunjuk ke arah ibunya yang sedang menjual kuih. Tuan Besar mengizinkannya. Bujang Terboyoi membantu i...

Kinambura dan Pertengkaran di Pasar Malam

Pak Ali tinggal bersama anaknya, Kinambura. Istrinya sudah lama meninggal dunia. Kinambura dibesarkan oleh pembantu Pak Ali. Kinambura membesar menjadi anak yang suka membantah. Suatu hari, Pak Ali memberitahunya bahawa dia akan dijodohkan dengan Tingoron. Kinambura tidak suka Tingoron. Dia lebih suka Montuk, anak tetangga yang pandai bermain gitar. Kinambura mengadu kepada Montuk. Mereka berdua merencanakan untuk membuat Tingoron dan rombongannya merasa tidak nyaman di pasar malam saat acara lamaran. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Di pasar malam, Montuk dan teman-temannya membuat keributan dengan musik mereka, membuat Tingoron dan rombongannya bingung dan lari ketakutan! Kinambura tertawa melihat kejadian itu. Tidak lama kemudian, Kinambura bertunangan dengan Montuk. Sayangnya, Kinambura sakit. Para pembantunya membawanya ke desa Tambunan untuk berobat. Montuk dan teman-temannya ingin membuat masalah di desa itu. Mereka tidak tahu Kinambura juga di sana. Montuk berkata, “Kalia...

Putri di Pasar Malam dan Beruk yang Baik Hati

Di sebuah kota yang ramai, hiduplah seorang Raja dan Permaisuri dengan tujuh putri mereka. Raja sangat menyayangi Putri Bunga. Di dekat pasar malam yang ramai, hiduplah sebuah keluarga yang sederhana. Ayah pergi ke hutan untuk mencari uang, meninggalkan Ibu yang sedang hamil di rumah. Tiba-tiba, Ibu merasakan sakit dan melahirkan seorang anak yang terlihat seperti beruk yang kurang menarik. Anak beruk itu, namanya Tunggal, tumbuh besar dan menjadi anak yang kurang disukai. Anak-anak di sekolah takut bermain dengannya. Tunggal merasa sedih, lalu ia membantu membersihkan pasar malam dari tikus-tikus yang mengganggu pedagang. Raja sangat senang! Ia memberi Tunggal uang sebagai hadiah. Tunggal kemudian memberanikan diri untuk meminta Putri Bunga menjadi pacarnya. Semua orang terkejut! Raja mengizinkan, kecuali Putri Bunga. Raja dan Permaisuri, dengan hati yang berat, mengizinkan Tunggal mendekati Putri Bunga dan meminta cincin sebagai hadiah. Toko perhiasan memberikan sebuah cincin yang in...

Air Sumur Pak Putih di Pasar Malam

Di Pasar Malam Seberang Tualang, Pak Putih merasa sedih melihat anak-anak lupa membaca buku dan bermain di luar. Ia mengingatkan mereka, “Ayo belajar dan bermain bersama!” Tapi, banyak yang tidak peduli. Suatu hari, air keran di Pasar Malam tiba-tiba berhenti mengalir. Semua kehausan! Untungnya, Pak Putih punya sumur kecil yang airnya tetap jernih. Anak-anak berdatangan menimba air. Pak Putih dengan senang hati membagikan airnya. Kemudian, datanglah sekelompok anak yang baru saja selesai bermain bola. Mereka mencoba menimba, tapi sumurnya kering! Mereka marah dan membuang bungkus makanan ke dalam sumur. Tiba-tiba, bungkus-bungkus itu melayang kembali dan mengenai mereka! Anak-anak itu kaget dan lari pulang. Sejak saat itu, anak-anak Pasar Malam selalu ingat untuk menjaga sumur Pak Putih dan belajar dengan giat. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Harimau di Pasar Malam

Di Pasar Malam yang ramai, hiduplah seorang anak laki-laki yang besar dan kuat, seperti Harimau. Dia sering mengambil makanan dari anak-anak yang lebih kecil. Semua anak-anak jadi takut padanya. Suatu hari, saat Adi sedang makan keripik, tiba-tiba anak laki-laki itu datang. “Aku akan mengambil keripikmu!” katanya dengan nada marah. Adi dengan tenang menjawab, “Silakan ambil, tapi setelah itu, kamu akan digantikan oleh anak yang lebih kuat lagi!” Anak laki-laki itu penasaran. “Benarkah? Tunjukkan padaku anak yang lebih kuat!” pintanya. Adi lalu membawanya ke dekat lapangan bermain. “Lihatlah di sana! Ada anak yang lebih kuat dan besar darimu!” kata Adi sambil menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang bermain bola. Anak laki-laki itu mencoba mendekat, tapi teman-teman Adi menantangnya bermain bola. Dia mencoba, tapi dia kalah! Dia merasa malu dan pergi dengan wajah merah. Adi tersenyum. Sekarang, semua anak di Pasar Malam tidak lagi takut. Mereka berterima kasih kepada Adi karena sudah...

Mencari Kijang Emas di Pasar Malam

Di Pasar Malam yang ramai, ada cerita tentang Kijang Emas! Kononnya, Kijang Emas itu ada di antara gerai-gerai. Pakcik Ketua dan anak buahnya mahu mencari Kijang Emas itu. Mereka berjalan dari gerai satu ke gerai yang lain. Mereka mencari, mencari, dan mencari. Lama-lama mereka penat. Mereka berhenti rehat di setiap gerai. Di gerai yang menjual kuih merah, mereka kata, “Ini Gerai Kuih Merah!” Di gerai yang menjual macam-macam mainan, mereka kata, “Ini Gerai Mainan!” Di gerai yang menjual es krim putih, mereka kata, “Ini Gerai Es Krim Putih!” Adi, anak Pakcik Ketua, melihat teman-temannya mencari. Dia tersenyum. “Kijang Emas itu tidak ada!” kata Adi. “Tapi, kita sudah tahu nama semua gerai di Pasar Malam! Itu lebih seronok daripada mencari Kijang Emas!” Teman-temannya setuju. Mereka makan es krim dan bermain di Pasar Malam yang meriah. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Awang si Malim di Pasar Malam

Awang si Malim tinggal bersama ibunya di sebuah rumah sederhana dekat pasar malam. Dia anak yang rajin, selalu membantu ibunya berjualan kuih. Setiap sore, setelah membantu ibunya, Awang si Malim akan belajar agama dan silat di balai desa bersama Pak Guru. Suatu hari, Pak Guru berkata, “Awang, kamu harus mencari guru yang lebih hebat dan teman yang lebih pintar.” Awang si Malim mengangguk. Dia memberitahu ibunya tentang rencananya. Kemudian, Awang si Malim mulai berkeliling pasar malam. Dia meminta orang-orang untuk memasak nasi dan jagung yang dibawanya. Sayangnya, tidak ada yang bisa memasaknya dengan benar. Mereka mengembalikan nasi dan jagung itu. Hingga dia tiba di sebuah gerai makanan. Dia menumpang makan malam di sana. Awang si Malim menawarkan bekalnya kepada pemilik gerai untuk dimasak. Sambil menunggu, Awang si Malim berbincang dengan pemilik gerai, seorang ibu yang bijaksana. Ibu itu bercerita tentang murid-muridnya yang dulu, yang lupa ilmu setelah sukses. Tidak lama kemudi...

Budi si Bijaksana di Pasar Malam

Di sebuah pasar malam yang ramai, ada seorang Raja yang sedih. Negaranya sering dilanda banjir dan kemarau, membuat banyak orang kesulitan. Suatu hari, Raja mendengar tentang Budi, seorang anak yang bijaksana. Budi datang ke pasar malam dengan membawa teman-temannya, ada yang membawa ember besar dan ada yang membawa burung-burung kecil. Orang-orang pasar sedikit takut melihat ember-ember itu. Budi tersenyum. “Jangan khawatir! Ember-ember ini untuk memperbaiki saluran air. Burung-burung ini akan membantu menyebarkan benih!” Budi dan teman-temannya bekerja sama memperbaiki saluran air di pasar malam. Setelah itu, tidak ada lagi genangan air! Tanah menjadi subur dan tanaman tumbuh dengan baik. Saat musim tanam tiba, burung-burung kecil berkicau, “Ayo tanam! Ayo tanam! Hasilnya akan melimpah!” Orang-orang pasar pun ikut menanam. Mereka bekerja sama dengan gembira. Raja yang melihat kebaikan Budi berkata, “Budi, kamu anak yang bijaksana! Kelak, saat kamu dewasa, aku akan menunjukmu sebagai ...

Gawai Kenyalang di Pasar Malam Kampung

Di Kampung Damai, anak-anak Iban selalu bermain dan kadang-kadang bertengkar. Mereka suka berlumba-lumba dan bergaduh kecil. Suatu hari, Abang Adi bermimpi bertemu dengan Opah, orang yang paling bijaksana di kampung. Opah meminta Adi menghentikan pertengkaran. Opah memberi Adi sebuah gelang persahabatan dan jimat semangat kejiranan. Adi pun berusaha menyatukan anak-anak. Walaupun ada yang masih suka bergaduh, Adi tidak dapat menjaga semua anak di seluruh kampung. Adi pun mengadakan perjumpaan di Pasar Malam Kampung. “Aku mahu mengadakan Gawai Kenyalang!” kata Adi. “Kita akan bermain bersama dan belajar cara menjaga persahabatan.” Semua anak setuju. Mereka bermain dan belajar bersama. Itulah kali pertama Gawai Kenyalang diadakan di Pasar Malam Kampung. Sekarang, anak-anak Kampung Damai selalu bermain bersama dan menjaga persahabatan. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Afiq dan Huruf di Pasar Malam

Di Pasar Malam Kampung Bahagia, hiduplah seorang guru mengaji yang baik hati. Banyak anak-anak datang belajar mengaji dengannya setelah pulang sekolah. Setiap hari selepas sekolah, rumah guru mengaji ramai dengan anak-anak yang belajar. Setelah beberapa lama belajar, banyak anak yang berhasil menghafal Juz Amma dan Al-Quran. Tapi, ada seorang anak bernama Afiq yang kesulitan membaca. Walaupun gurunya mengajarinya berulang-ulang, Afiq hanya ingat dua huruf: Qaf dan Wau. Setiap kali ditanya, ia hanya menjawab, “Qaf! Wau!” Gurunya merasa khawatir. Ia menyuruh Afiq duduk di bangku dekat pasar malam. Di sana, Afiq melihat banyak orang dan berbagai macam barang. Ia mulai berimajinasi tentang huruf-huruf itu. Tiba-tiba, ia melihat tulisan “Qaf” di gerobak es krim dan “Wau” di spanduk permainan. Afiq mulai mengerti! Ia belajar membaca dengan melihat huruf-huruf di pasar malam. Sekarang, Afiq bisa membaca dengan lancar dan selalu membantu teman-temannya. Penulis: CKK2 Penerbit: Ceri...

Bayan dan Puteri di Pasar Malam

Bayan tinggal di rumah sederhana dekat pasar malam. Untuk mencari uang jajan, Bayan menjual kayu bakar kecil. Suatu hari, Bayan pergi ke taman dekat pasar untuk mencari kayu bakar. Tiba-tiba, Bayan mendengar suara tangisan minta tolong. Ternyata, seekor ular kecil terjepit di antara ranting pohon. Bayan kasihan dan menolongnya. “Terima kasih banyak, Bayan! Aku akan membalas kebaikanmu,” kata ular itu. Setelah selesai, Bayan pulang ke rumah. Bayan terkejut melihat kamarnya sudah rapi dan ada makanan enak di meja makan! Setiap hari kejadian itu terjadi. Kamar Bayan selalu bersih dan makanannya sudah siap. Bayan penasaran. Keesokan harinya, Bayan pura-pura pergi ke sekolah, tapi sebenarnya bersembunyi di balik pohon mangga. Tak lama kemudian, Bayan mendengar suara menyapu dan suara memasak. Bayan keluar dari persembunyiannya dan menuju ke dapur. Di sana, ia melihat seorang gadis cantik sedang memasak. Gadis itu terkejut melihat Bayan. Bayan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu ...

Aisyah dan Telur Kejutan

Aisyah adalah seorang gadis yang sangat cantik. Rambutnya panjang dan berkilau. Aisyah suka sekali memandang dirinya di cermin. Karena itu, Aisyah sering bermain di atap rumah yang tinggi. Aisyah membuat kue hanya satu loyang. Setelah kue matang, Aisyah pergi bermain dengan teman-temannya. Sebelum pergi, Aisyah meminta bantuan Kak Lina, tetangga baiknya, untuk menjaga kuenya sampai dingin. Kak Lina dengan senang hati menjaga kue itu. Tetapi, Aisyah tidak kembali lagi. Dia asyik bermain dan tertawa bersama teman-temannya. Kak Lina dengan sabar menunggu Aisyah dan membagikan kue itu kepada anak-anak lain. Aisyah jadi jarang terlihat. Tidak ada anak yang bisa berbagi kue kalau teman sendiri tidak dijaga! Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Putri Melur dan Pasar Malam

Di sebuah kota yang ramai, hiduplah Pak Kepala Desa, Mak Kepala Desa, dan putri mereka, Putri Melur. Putri Melur sangat manis dan suka membantu. Tapi, ada satu masalah: napasnya bau! Suatu hari, datanglah seorang anak laki-laki dari desa sebelah untuk melamar Putri Melur. Tapi, teman-temannya tidak mau menikahinya karena bau mulut Putri Melur. Putri Melur sedih dan pergi ke pasar malam. Di sana, dia duduk termenung di dekat gerobak es krim. Tiba-tiba, seorang penjual bunga yang ramah mendekatinya. Dia bertanya apa yang terjadi. Putri Melur menceritakan masalahnya. Penjual bunga itu tersenyum dan memberikan empat bungkus permen rasa mint. Dia menyuruh Putri Melur memakannya. Seketika, bau tidak enak dari mulutnya hilang! Putri Melur sangat senang dan berterima kasih kepada penjual bunga. Anak laki-laki itu kembali dan melamar Putri Melur lagi. Kali ini, semua orang setuju! Saat pernikahan, Putri Melur meminta permen rasa mint diberikan kepada semua tamu. Sejak saat itu, tradisi memberik...

Pasir Emas di Pasar Malam

Di Pasar Malam yang ramai, ada seorang anak lelaki bernama Adi. Dia melihat sesuatu yang aneh: pasir emas berkilauan di tanah! Ternyata, pasir itu berbentuk seperti gelang yang cantik. Semua anak-anak di Pasar Malam berlarian untuk mengumpulkannya. Adi dan teman-temannya, Maya dan Rizal, juga ikut mengutip pasir emas itu. Mereka memakainya di telinga, terlihat sangat anggun. Tapi, lama kelamaan, mereka mulai bertengkar. “Ini milikku!” kata Maya. “Tidak, ini milikku!” balas Rizal. Adi menggelengkan kepalanya. “Jangan bertengkar,” katanya. “Lebih baik kita bermain bersama.” Adi mengajak teman-temannya bermain petak umpet. Mereka lupa tentang pasir emas itu dan tertawa riang. Ibu-ibu di Pasar Malam tersenyum melihat kebahagiaan anak-anak. Pasir emas itu hilang, tapi persahabatan mereka tetap utuh. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Puteri di Pasar Malam

Di Pasar Malam Kampung Tenun Kain, banyak penjual kain yang sibuk. Abah, penjual kain yang baik, harus pergi ke kota untuk menjual kain. Ibu, yang sedang mengandung, bersama kucing kesayangan mereka, Si Tiung yang boleh bercakap, menunggu di rumah. Abah pesan, “Jika kamu melahirkan anak lelaki, jagalah dia. Tapi kalau anak perempuan, Abah akan cari cara lain.” Akhirnya, Ibu melahirkan seorang anak perempuan yang cantik. Mereka menamakan Puteri dan sangat menyayanginya. Suatu hari, Abah pulang dari kota. Ibu risau, dia tak mahu meninggalkan Puteri. Si Tiung berkata, “Sembunyikan Puteri di balik gerai kain!” Abah bertanya, “Mana anak kita?” Ibu berbohong, “Dia sudah dibawa ke rumah nenek!” Tapi Si Tiung mengeong tentang Puteri yang sedang bermain. Abah tahu dia ditipu! Abah mencari Puteri di balik gerai. Dia melihat Puteri tersenyum riang! Abah memeluk Puteri erat. “Maafkan Abah, Puteri! Abah akan selalu ada untuk kamu!” Abah berjanji. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kan...

Sungai Duyung di Kampungku

Di kampungku, ada sebuah sungai yang indah. Dulu, orang-orang bilang, sungai itu pernah ditinggali ikan duyung. Setiap sore, mereka suka bermain di tepi sungai, di antara batu-batu besar. Sekarang, sungai itu jadi tempat bermain anak-anak kampung. Suatu hari, ada sekelompok anak-anak yang sedang asyik bermain di sungai. Mereka menemukan banyak ikan kecil dan bunga-bunga liar. Mereka tertawa dan bersenang-senang. Salah satu anak berkata, “Kakek bilang, dulu ikan duyung pernah tinggal di sini!” Semua anak itu terkejut dan mulai mencari jejak ikan duyung. Mereka menemukan kerang-kerang cantik dan batu-batu yang berkilauan. Mereka memutuskan untuk menjaga sungai itu agar tetap bersih dan indah, seperti tempat tinggal ikan duyung. Mereka menamainya Sungai Duyung, sebagai pengingat akan cerita lama yang menyenangkan. Penulis: CKK2 Penerbit: Cerita Kanak-Kanak 2

Derauh dan Duraman di Pasar Malam

Di sebuah pasar malam yang ramai, hiduplah seorang penjual kuih yang terkenal bernama Pak Derauh. Dia selalu memberikan kuih kepada anak-anak yang kelaparan. Pak Derauh mempunyai anak bernama Duraman. Duraman sangat suka bermain game di pasar malam dan selalu meminta duit dari bapanya. Pak Derauh bimbang dengan Duraman, jadi dia menyuruh Duraman membantu menjual kuih di gerainya. Dia memberikan Duraman sedikit wang. Sayangnya, Duraman tidak membantu, tetapi malah bermain game dan berjudi. Wangnya habis! Setelah Duraman pergi, beberapa orang samseng datang merampas gerai Pak Derauh. Pak Derauh menjadi sangat miskin. Di kota lain, Duraman bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Suatu hari, dia melihat seorang anak kecil hampir lemas di kolam ikan. Duraman segera menyelamatkannya dan membawanya ke rumahnya. Nama anak kecil itu ialah Suki. Duraman dan Suki menjadi sahabat baik. Mereka bersama-sama menjual ikan dan menjadi kaya. Kemudian, Duraman dan Suki pulang ke kampung. Mereka membawa ba...

Jafur dan Pasar Malam

Di kota Melaka, hiduplah Jafur, seorang anak yang bekerja membantu ayahnya menjual kayu bakar di Pasar Malam. Ayahnya sudah tua dan sering sakit. Suatu hari, Pak Cik Saudagar ingin membeli kayu bakar. Dia meminta Jafur mengantarkannya ke rumahnya. Setelah selesai, Jafur melihat sebiji dompet terjatuh di tepi jalan. “Mungkin dompet ini milik Pak Cik Saudagar,” bisik Jafur. Dia mengambil dompet itu. “Wah, banyak sekali uang! Kalau aku ambil, aku pasti akan kaya raya dan tidak perlu lagi membantu ayahku!” kata Jafur. Jafur ragu-ragu. Satu suara menyuruhnya mengambil uang itu. Malam itu, Jafur mengantarkan kayu bakar ke rumah Pak Cik Saudagar. “Kamu telah menunaikan janji. Aku sangat memerlukan kayu bakar, dan anakku sedang sakit. Tapi aku kehilangan dompetku yang berisi uang,” kata Pak Cik Saudagar. “Saya menemukan dompet ini, dan saya yakin ia milik Tuan,” kata Jafur. Pak Cik Saudagar sangat senang dengan kejujuran Jafur, lalu mengajaknya bekerja di tokonya. Jafur sangat gembira dengan t...

Kancil dan Harimau di Pasar Malam (Versi Dunia Sebenar)

Harimau sangat marah dengan Kancil kerana ditipunya. Ketika Harimau berjalan di Pasar Malam yang ramai, dia ternampak Kancil sedang duduk di depan gerai es krim. “Hah, Kancil! Puas aku cari kamu. Aku nak makan kamu!” kata Harimau dengan nada tinggi. “Eh, tidak boleh Harimau! Sekarang ini aku ada tugas yang diperintahkan oleh Pakcik Kepala Kampung,” kata Kancil sambil menunjuk ke arah gerobak kacang. Kancil memberitahu bahawa itulah pengumuman Pakcik Kepala Kampung. Pengumuman ini akan dibunyikan apabila ada acara penting. Melihatkan pengumuman itu, Harimau meminta Kancil memalunya tetapi Kancil enggan. “Bagaimana kalau aku yang memalu pengumuman itu?” rayu Harimau dengan nada merajuk. Kancil pun bersetuju lalu memberikan sepotong kayu kepada Harimau. Kancil menyuruh Harimau memalu pengumuman itu selepas dia pergi membeli minum. Selepas Kancil hilang dari pandangan, Harimau pun memalu gerobak kacang itu dengan sekuat hatinya. Maka, keluarlah kacang dan mengenai mukanya! Harimau lari lin...